Rumitnya Komunitas Perusahaan

Sungguh. Hubungan diantara manusia itu cukup kompleks. Rumit dan sukar dipahami. Apalagi interaksi di suatu komunitas yang bernama perusahaan. Saat melihat di televisi mengenai intrik-intrik yang terjadi antar karyawan di perusahaan atau antara kepala divisi satu dengan lainnya rasanya biasa saja. Tapi ketika menyaksikan sendiri bagaimana konflik di suatu perusahaan, rasanya aneh. Seperti berada di planet asing.

Kenapa coba orang-orang yang satu kantor bisa bermanis-manis muka di hadapan satu sama lain, tetapi saling membicarakan di belakang?

Ya ampun… ada apa sih dengan orang-orang ini? Kalau memang tidak suka, kenapa harus pura-pura suka? Kalau memang ada masalah, kenapa terlihat seperti tak punya perkara? Kalau memang masalah pekerjaan sudah mendapatkan solusi sebagai titik tengahnya, harusnya masalah tersebut tak perlulah di angkat ke permukaan kembali!

Pusing! Kalau memang harus menanyakan sesuatu seperti kata atasan saya saat lalu, maka hal yang saya tanyakan adalah mengapa interaksi yang terjadi di perusahaan ini sangat kompleks?!!

Kenapa Saya Harus Bertanya???

Di brifieng pagi kali ini Saya mendapatkan teguran dari koordinator lapangan. Tegurannya dikarenakan saya tidak banyak bertanya. Kata atasan, “Mei terlalu banyak diam. Tidak mau mengungkapkan kendala yang ada saat melaksanakan tugas. Saya jadi bingung. Dan terus terang saya lebih takut sama orang yang diam daripada mereka yang banyak tanya“.

Membuat saya ingat ketika hari pertama berada di kantor, beliau berkali-kali menyambangi meja kerja saya sembari bertanya, “Ada yang dibingungkan?” atau “Ada yang ditanyakan, mbak?“. Karena berkali-kali pertanyaan tersebut dilontarkan dengan mendapat jawaban ‘Tidak’, akhirnya beliau berkata “tanya apa gitu loh, mbak. Gak papa kalo mau tanya-tanya

Yahhh mau bagaimana lagi coba? Saya memang tidak memiliki kendala apa-apa terhadap setiap tugas yang saya terima. Memang ada waktu dimana saya sedikit kehilangan ide atau tak bisa berkonsentrasi, tetapi setelah istirahat selama beberapa menit saya toh bisa melanjutkan pekerjaan saya hingga selesai. Tugas yang saya terima juga tak pernah membuat saya hilang akal. Setiap ada tugas, saya tahu apa yang harus saya lakukan. Bukannya tak mau mengungkapkan kendala,melainkan memang saya merasa tidak memiliki kendala. Bukannya tak mau menanyakan masalah, melainkan memang saya sedang tidak menghadapi masalah dengan tugas yang harus saya selesaikan. Apa itu salah? Salah siapa? Apa yang harus saya tanyakan kalau saya sudah memahami semua tugas yang saya terima?

Masa saya harus mencari-cari masalah dan kendala pekerjaan? Bukankah lebih bagus jika seorang pegawai tidak menghadapi masalah dan kendala dalam setiap pengerjaan tugasnya?

Kalau memang hasil pekerjaan yang saya lakukan tidak baik, kenapa tidak ada teguran? Harusnya saya diberi evaluasi atas apa yang sudah saya kerjakan sehingga saya tahu saya harus bertanya tentang apa untuk pengerjaan saya selanjutnya. Buktinya sampai saat ini teguran yang saya terima hanya karena saya ‘tidak banyak tanya’.

Apa harus bertanya untuk sekedar basa-basi lagi?? >.<

Meninggalkan Semeru

Bersama Mas-Mas ITS yang katanya angkatan 2007 tapi punya muka 2001 πŸ˜‰

πŸ™‚

Mulai meninggalkan bumi Perkemahan Kumbolo

Bertiga di depan pos 4

Watu Rejeng. Sebuah tempat dengan tebing-tebing batuannya yang menjulang. Titik tengah antara Ranu Kumbolo dengan Ranu Pani

Anaphalis javanica (edelweis). Flora khas Semeru.

Istirahat di bawah Pos 3. Luch w/ chocholate jelly

Menunggu Keberangkatan Truck Menuju Tumpang

Leyeh-Leyeh Terakhir di Tenda :)

Tenda Kuning Remang-Remang di Shulter Kumbolo

Diapit Aisyah Kemplo & Aisyah Babon

4 Orang Gila πŸ™‚

Smile…..

Dua Perut Karet πŸ™‚ di depan Kompor

3 Bocah Gede

Mulai berkreasi dengan ‘sisa’ ransum yang kami bawa.

Sore Terakhir di Bumi Perkemahan ;'(

Pesan PENTING Untuk Para pendaki

menatap puncak Mimpi dari Oro-Oro Ombo

Saya & Novera

Chaca Kemplo, Chef Ais, saya, Senja sendu

Membelakangi puncak yang belum terjamah

Senja…. Ayo Kita Ke Puncak… Next Time yaaaaa

Semoga tekad Aisyah untuk Mahameru masih bulat πŸ™‚

Saya Masih Tetap Mencatatkan Mahameru di dalam List Mimpi yang Harus saya Realisasikan (AMIN)

Ber 5. Semoga formasi ini masih bisa berlanjut hingga Mahameru πŸ™‚

Mereka Yang sudah Melihat Jongrang Saloka

Pendaki Juga Harus Religi

Salah satu hal yang paling saya suka saat mendaki adalah kesan religi yang tiba-tiba muncul. Bahkan kadang-kadang, seseorang akan lebih religius saat berada di atas gunung daripada di bawah gunung.Memang sih…sifat religius orang itu adalah salah satu bawaan individu masing-masing. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa gunung bisa menjadi salah satu tempat dimana manusia bisa mengucapkan kata tobat.

Para pendaki,yang muslim, rasanya tak akan pernah meninggalkan shalat 5 waktu. Atau yang paling sederhana, mereka akan melafalkan kalimat-kalimat Tuhan sebagai bentuk pujian atas keindahan alam yang tiada duanya. Contoh saja kawan seperjalanan saya si aisyah Babon… walaupun kosakata Jancuknya masih saja berkumandang, di sela-sela itu ada lafalan kalimat pujian seperti Subhanallah dan Alhamdulillah…Bahkan tak jarang ia mengucapkan Allahu Akbar.Sesuatu yang tak pernah (jarang) saya dengar dari ais babon saat kami bersama di dataran rendah.

yang paling saya suka lagi adalah pendaki yang tak lupa melaksanakan shalat 5 waktu. Hei…mendaki bukan berarti harus lalai terhadap kewajiban kita sebagai umat Tuhan bukan? Daki jalan, shalat pun tak pernah ketinggalan!

Salah satu pendaki yang tak lalai dengan shalatnya πŸ™‚ Gantengnya nambah 100000%

 

Menjajaki Tanjakan Galau

Bersiap mendaki Tanjakan Cinta

Dengan sekuat hati hendak menjajal mitos Tanjakan Cinta. Namun apa daya yang ada saya menjadi Galau lantaran satu-satunya hal yang saya fikirkan saat itu adalah air. HAUSS >.< Oh Rupiah, maaf karena saya tak bisa terlalu fokus memikirkanmu ketika menapakkan kaki di Tanjakan Cinta itu.

Ranu Kumbolo dari Puncak Tanjakan Galau

Para Penggontai Semeru yang dikerjain Tanjakan Cinta… Capeeekkk ya, neng πŸ™‚

Nongkrong Jongkok di atas Puncak Tanjakan Cinta…Menunggu 4 kawan yang masih kelelahan πŸ™‚

Hj Kemplo, memikirkan bagaimana caranya mengumpulkan tenaga untuk menuruni Tanjakan Galau πŸ™‚

Siang Hari di Ranu Kumbolo Bersama Sendu

Senja diantara tenda-tenda kuning

Berada di samping sebuah batu. Semacam monumen sederhana untuk seorang pendaki yang meninggal di tanah Semeru. Beberapa penduduk setempat meyakini bahwa monumen batu ini memiliki penjaga Kumbolo yang wajib disembah. Karena itulah ada beberapa sesajen seperti potongan pisang rebus dan kelopak-kelopak bunga di sekitar batu tersebut.

Sebuah Batu Nisan Lain untuk mengenang seorang sahabat, kawan, kerabat yang menghembuskan nafas terakhirnya di tanah Semeru. Di Ranu Kumbolo sendiri ada sekitar 5 batu nisan yang merupakan simbol bahwa nama yang terukir di batu nisan tersebut pernah ada di Semeru. Batu Nisan di atas bisa dijumpai di awal Tanjakan Galau.

Maunya sih mengheningkan cipta sejenak…tapi kenapa pose si senja menantang begitu ya?? Merusak suasana haru nan mistis πŸ˜‰

Hi guys… inilah Tanjakan Cinta yang sempat membuat Galau beberapa pendakinya. Tanjakan Cinta selesai, mimpi selanjutnya adalah Bukit Penyesalan. Setelah menuntaskan Semeru tentunya (semoga).

Di sisi Selatan Ranu Kumbolo

Di Bumi Perkemahan Kumbolo

Aisyah Aisyah yang Edun tengah membelakangi Tanjakan Galau

Semburat Awan dari sisi Timur Semeru

Nopera & Hj.Kemplo di atas batang pohon tumbang di tepi Kumbolo. Beruntunglah mereka karena si pohon masih mampu mengapung dengan tambahan beban berat badan mereka (Chaca) πŸ˜‰

Tenda-Tenda Lain di Bumi Perkemahan

Kondisi ‘Dapur Aisyah’ menjelang makan siang πŸ™‚

Cooking Academy in The Mountain of Semeru by Aisyah Intan Paramartha

Buon appetito, ragazza πŸ™‚

Koki Kami yang tanpa Jilbab. Yang pake bando Slayer. Yang Kayak Inem. Yang lagi ngoret-ngoretin nesting kosong.

Pagi Pertama di Tanah Semeru (13-10-2012)

Pagi pertama Aisyah di Ranu Kumbolo.

Sisi Utara Kumbolo 13 Oktober 2012

Sebuah Tenda Kuning di sisi Utara Kumbolo. Hanya setenda diri πŸ™‚

Nopera. Si Penganut Bahasa Kebatinan πŸ˜‰

Besides Black & White, The Beautiful Colour in This World is Sky Blue

Menu Makan Pagi Pertama di Tanah Semeru.

Tangan Chef Kami, Aisyah Intan πŸ™‚