Semeru, Mimpi Yang Belum Usai (2)


12 Oktober 2012

(18.00 WIB)

Saya dan 8 orang teman lain sudah berada di tanah Semeru. Dari Surabaya saya memang hanya pergi dengan 4 orang dara yang tak jelita, namun ketika di perjalanan atau lebih tepatnya saat berada di rumah Pak Rus, kami menemukan teman seperjalanan tambahan. 4 orang tambahan pendaki sudah cukup untuk meramaikan perjalanan kami. 3 orang laki-laki dan seorang gadis pun menjadi bagian dari ekspedisi dadakan ini.

Sepanjang jalan tak banyak kisah yang bisa kami dapatkan. Kiri jurang, kanan tebing dan jalanan benar-benar setapak. Tujuan kami semua adalah Ranu Kumbolo. Yup…Hanya Ranu Kumbolo. Sebenarnya saya ingin sampai puncak. Sampai Mahameru. Namun, melihat kondisi tidak memungkinkan. Senja tidak bersedia membawa kami berempat ke atas Mahameru dan tiga teman lainnya juga terlihat belum siap untuk melintasi Kalimati dan Arcapada. Karena itulah, hanya Ranu Kumbololah tujuan kami. Tak apa, yang penting sudah di atas ketinggian 1500 mdpl bukan?! Jadi sudah dikatakan naik gunung!

(19.00 WIB)

Tidak ada cerita.

Sepanjang perjalanan hanya ada banyolan-banyolan kecil antara kami. Langit juga sudah mulai gelap. Penerangan hanya berasal dari senter yang kami bawa. Saya tak henti-hentinya berdoa. Yah, walaupun sebelum naik kami sudah memanjatkan doa bersama sepanjang perjalanan saya tetap membatinkan lafal-lafal doa yang saya ketahui.

Jujur, malam itu yang saya takutkan adalah munculnya ‘sesuatu’ yang tak terduga…. hiiiiiii… Saya memang orang beriman, tapi saya tetap takut setan! Dan kata orang di gunung banyak setan 😉

Karena itulah doa saya adalah supaya saya tak melihat ocong atau mbak kunti atau kawanan mereka berdua!

Saya juga berdoa semoga kami tidak berjumpa dengan makhluk-makhluk melata. Tak ingin bertemu dengan ular 😦

Dan syukurlah… Allah mendengar doa saya itu

(22.00 WIB)

Kaki masih kuat, namun nafas sudah ngos-ngosan. Berkali-kali kami menghentikan perjalanan. Istirahat sejenak sambil minum-minum dan ngemil-ngemil. Capek.

Rasa lelah yang ditambah dengan perut lapar itu sangat tidak enak. Apalagi salah satu anggota perjalanan ini adalah si Hj Kemplo Caca. Gaya jalannya yang ke kanan kiri sak kareppe dhewe benar-benar menghawatirkan. Bagaimana tak khawatir, kiri jurang dan jalannya si Caca mirang-miring gontai tak karu-karuan.

“Hati-hati, Ca! Jalan ke kanan ae” sudah berkali-kali saya sampaikan pada Caca yang berjalan di depan saya, namun tetap saja jalannya si Caca bergoyang-goyang kanan kiri. Mungkin keseraman setan-setan malam itu digantikan oleh cara jalan Caca yang tak karuan. Seram kan kalau tiba-tiba ia terus miring ke kiri dan jatuh ke jurang?! Bisa-bisa dia menambah daftar kematian yang tertempel di mading pos perijinan Ranu Pani.

Karena itulah sepanjang perjalanan, kegontaian Caca juga menjadi sedikit hiburan bagi kami yang sudah kelelahan.

(23.00WIB)

Setiap kali teman-teman bertanya “masih lama ta, Nja”

Jawaban Senja adalah, “Sedikit lagi sampe, Rek!”

Saya sendiri tahu bahwa jawaban Senja itu adalah jawaban diplomatis seorang pemimpin untuk anak buahnya yang sudah sedikit putus asa nan lelah. Karena saya tahu bahwa perjalanan kami masih sedikit agak lama, saya hanya berjalan sembari diam dan sesekali melihat ke arah langit.

Subhanallah…bintangnya indah. Sungguh, malam itu langit cerah. Saya merasa langit Semeru sedang tertawa karena kedatangan salah satu pendakinya yang sudah lama memimpikannya. semeru menyambut saya dengan bintang-bintangnya, apa yang lebih indah daripada itu? 🙂

Rasa lelah pun hanya sekedar rasa biasa karena indahnya malam itu jauh lebih berharga untuk sebuah keluhan karena lelah.

(24.00 WIB)

Kami sudah melewati pos 4, sekitar 500 m dari perkemahan Ranu Pani. Namun saat itu kabut benar-benar tebal. Jarang pandang tak lebih dari 1 meter. Tak ada yang bisa dilihat kecuali padang rumput. Akhirnya kami berlima memutuskan untuk mendirikan tenda di tempat tersebut. Yah, karena 4 orang teman tambahan kami itu berada di belakang kami. Mereka memang masih newbie di area pegunungan sehingga jalannya sedikit lebih lama daripada kami. Dan ketika kami telah sampai di pos 4, mereka tak jua menampakkan tanda-tanda kedatangan sehingga pikiran kami adalah mereka memutuskan untuk ngecamp di pos tiga, tempat terakhir kami berlima bersama mereka.

Kami sendiri mau melanjutkan ke bumi perkemahan, tapi takutnya di jalan terjadi sesuatu karena jarak pandang yang sangat terbatas. Belum lagi angin yang super kencang dan suhu yang sudah sangat rendah. membuat kami yang lelah dan kelaparan dan ngantuk menjadi super kedinginan.

Dengan cepat berdirilah sebuah tenda di tempat tersebut.

Sebelum tidur, senesting mie instan dan telur orak arik terhidang. Menjadi pengisi perut sekaligus penghangat tubuh yang sudah menggigil.

brrrrrrr….sungguh dingin malam itu. Tak ada selimut tebal. Sleeping bag pun hanya sebiji dan itu pun dibuat alas tidur karena matras kami basah terkena uap kabut. Jaket dobel dan kaus kaki tangan juga tak mampu membuat tubuh kami hangat. Yahhh…mau bagaimana lagi. Kami tak tahu koordinat pasti posisi kami dari bumi perkemahan. Setenda diri di sebuah padang rumput yang tak tahu kanan kirinya apa. Yang jelas saya tahu bahwa saat itu kami sudah di area Ranu Kumbolo. Hanya tak tahu si Ranu berada di sebelah mana. Kalau kami memaksakan untuk tetap melanjutkan perjalanan, bagaiamana jika tiba-tiba kami terjebur danau dan tenggelam…hiiiii….lebih baik ngecamp.

Dan melanjutkaan perjalanan esok hari.

13 Oktober 2012

(05.00 WIB)

Saya terbangun dengan tubuh yang masih menggigil. Senja segera membuka pintu tenda, hal yang sebenarnya ingin saya lakukan. Ingin mengetahui dimanakah tenda ini berdiri.

Dan ternyata 5 meter di depan kami adalah sebuah danau yang di atasnya masih tertutup kabut putih. Ya Tuhan…kalau saja semalam kami melanjutkan perjalanan ke arah yang Ais Babon pilih, maka daftar nama di mading pos perijinan Ranu Pani resmi memunculkan nama Ais… ya iyalah nama Ais saja karena ketika Ais bermaksud memilih jalannya, saya sudah memilih jalan saya…. hihihihihihihii…. tapi untunglah jadinya ngecamp 🙂

05.00 WIB…. Hiiiiiii Dinginnya

Setelah Cuci Cuci Muka Seadanya dan Buang hajat 😉

Sama Senja 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s