Semeru, Mimpi Yang Belum Usai (4)


13 Oktober 2012

(17.30 WIB)

Tiba-tiba saya merasa kedinginan. Benar-benar merasa kedinginan. Badan ini menggigil tak karuan. Tidak tahu kenapa rasanya tubuh tak bisa mentolerir suhu Ranu Kumbolo yang begitu rendah. Telapak tangan saya membengkak. Pokoknya dingin banget dan membuat saya kembali melungker di dalam tenda dengan tubuh tertutup jaket, kaus kaki tangan, syal plus sleepingbag.

Dan saya tertidur.

(18.40 WIB)

Where is the toilet?

Pertanyaan itu membuat saya terbangun. Saya tidak tahu siapa penanyanya, tetapi dari aksen suaranya saya tahu bahwa seorang bule tengah menanyakan toilet pada siapapun yang berada di depan tenda kami.

Lalu saya kembali tertidur selama beberapa saat karena kemudian saya mendengar double Aisyah tertawa ngakak dengan suara kencang dan cemprengnya.

Beberapa menit kemudian Aisyah Kemplo & Aisyah Babon measuk ke dalam tenda kami dengan sajian makan malam. Hihihihihihihi…lagi-lagi hidup bagai pemalas… Bangun tidur langsung menyantap makanan tanpa perlu ikut rempong di depan kompor πŸ™‚

Menu makan malam kami adalah sayur sop dan mie telor dengan makanan penutup kolak kacang hijau. Menu yang kata salah satu pendaki lain sangat istimewa dan membuat mereka terpana karena kami (Ais Babon) masih sempat memasak sesuatu di luar mie instan dan sosis πŸ™‚ Kalau kata Senja, mendaki tidak harus mengurangi asupan nutrisi bukan?

Sembari menyantap menu spesial itu terkuaklah kisah mengenai gelegar tawa double Aisyah yang membangunkan saya.

Ceritanya ketika mereka sedang memasak, seorang bule menanyakan letak toilet pada mas-mas pendaki yang dilewatinya. Si mas yang ditanya dengan santainya menunjukkan pada bule letak toilet umum yang ada di bumi perkemahan ini.

Over there, miss” kata si mas pada bule yang sepertinya memang sedang kebelet.

Kebetulan toilet tersebut letaknya tak jauh dari tenda kami. Double Aisyah yang menyaksikan bule tersebut meluncur ke arah toilet kemudian saling pandang dan salah satunya berkata;

Yuk kita lihat bagaimana ekspresi si bule setelah melihat toilet

Setelah hitungan ketiga yang mereka buat, terdengarlah suara keras bule;

Oooohhhhh…. MY GOOOODDDDDD

dan ekspresi bule itu disambut tawa ngakak Aisyah Kemblo & Aisyah Babon.

Hihihihihihihi….mungkin si bule tidak benar-benar mengenal Indonesia. Mungkin si bule tidak paham betul akan karakter budaya masyarakat kita. Karena jika telah mengerti, bule tersebut tidak akan mungkin mau melongokkan kepalanya ke dalam toilet umum Indonesia….. di atas gunung pula!

Tahu kan maksud saya……. πŸ™‚

Saya sendiri tak tahu apa isi toilet tersenut. Namun mendengar cerita dari salah satu pendaki bahwa di dalam sana banyak bungkusan yang tidak pantas untuk dibungkus serta teriakan bule yang sangat ekspresif setelah melihat isi toilet maka bisa dibayangkan bagaimana tak pantasnya toilet umum tersebut!

(20.30 WIB)

Perut kenyang. Tidur πŸ™‚

14 Oktober 2012

(05.00 WIB)

Maunya lihat sunrise di Ranu Kumbolo, tetapi karena kabut, terbitnya matahari tak bisa dilihat jelas. Udara dingin pula….. Ya sudah…ketika teman-teman lain sibuk menunggu munculnya matahari, saya tetap mendekam di dalam tenda πŸ™‚

Pagi hari, Mulai munculnya matahari di ufuk timur Semeru

(06.00 WIB)

Kami mulai berkemas. Hendak meninggalkan Semeru. Sampah pun masuk dalam daftar barang yang harus kami kemas. Karena kami adalah warga negara yang baik. Di shulter sendiri sudah ada pesan tertulis

Jangan meninggalkan apapun selain jejak. Jangan Mengambil apapun selain foto. Jangan Membunuh apapun selain waktu”

Kami fikir kami sudah mematuhi aturan tertulis tersebut πŸ™‚

(08.00 WIB)

Wahhhh…rasanya baru beberapa jam menghirup udara bersih, sudah harus kembali ke kota yang penuh polusi.

Saat tubuh sudah mulai terbiasa dengan kondisi alam sekitar, harus kembali menyesuaikan dengan kondisi dataran rendah…… Agak enggan sebenarnya meninggalkan tanah Kumbolo ini. Masih ingin lebih lama. Dan masih sangat ingin terus sampai Mahameru. Sungguh, tempat ini layak menjadi salah satu destinasi untuk penghilang penat.

Ranu Kumbolo dari atas Pos 4″ ;14 Oktober 2012, 09.40 WIB (Fotografer: Nikon Nope)

Tidak hanya menyuguhkan panorama alam yang masih segar, Semeru juga mengajarkan banyak hal pada kami. Kerja sama itu pasti. Saling berbagi juga mesti. Dan bagi saya sendiri Semeru menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Jawa saya.

Di Semeru inilah saya mengerti bahwa ‘katu’an’ itu berarti kedinginan dan ‘serngingi’ adalah sinar matahari. Dan dua kata itu saya dengar dari empat orang gadis yang menjadi kawan daki saya. Ketika saya menanyakan arti dua kosa kata tersebut pada mereka, salah satunya sempat menyinggung seakan-akan saya berpura-pura tidak mengetahui maknanya. Tapi sungguh, Rek… saya benar-benar baru mendengar dua kosa kata tersebut dari kalian. Saya memang dibesarkan di daerah yang masih berlokasi di tanah Jawa, tetapi sejak kecil orang tua saya membesarkan putri mereka dengan bahasa Indonesia. Karena itulah perbendaharaan saya akan bahasa daerah serta istilah-istilahnya tidak sebanyak kalian, jadi terimakasih karena telah menambah pengetahuan saya akan bahasa Jawa πŸ™‚

Tapi yang pasti, semangat saya untuk Semeru belum usai. Saya masih berhutang pada Mahameru. Mimpi itu masih ada…. Hingga saya bisa melewati Kalimati… Hingga saya memijak Arcapada…. Hingga saya berada di sisi Jongrang Saloka…. Semeru masihlah mimpi yang belum usai.

(13.40 WIB)

Menunggu truck di Ranu Pani. Truck yang akan mengangkut kami kembali ke peradaban kota dengan hiruk pikuknya yang memekakkan telinga…. See yaaa, Semeru πŸ™‚

Bersama Anak Sopir truck Yang akan Saya Tumpangi πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s