Editor itu Tukang Edit, Bukan Tukang Ngecek!


Setiap orang memiliki profesi masing-masing di dunia kerjanya. Setiap profesi memiliki tugas masing-masing. Ibaratnya sebuah dunia pertelevisian… reporter bertugas mencari & menulis  berita, news presenter bertugas menyampaikan berita, dan kameramen bertugas memainkan kamera-kamera studio selama proses produksi acara. Masing-masing memiliki tugas yang jelas.

Sebagai seorang penulis, saya rasa tugas saya jelas. Mengeluarkan isi kepala saya ini dalam bentuk rangkaian kata. Mencari ide kesana kemari hanya untuk sebuah cerita. Menuturkan kisah dan karya melalui rentetan kata. Semua perusahaan atau apapun yang bergerak di bidang perbukuan atau penulisan pastilah memiliki seorang editor disamping penulisnya. Apakah tugas editor sebenarnya?

Setahu saya editor adalah orang yang mengedit tulisan yang telah dibuat penulis. Membenahi tata bahasa penulisnya yang mungkin kurang tepat. Menambahkan huruf yang kurang pada sebuah kata. Atau membenahi apapun kesalahan bentuk penulisan. Simpelnya adalah sangat mengerti EYD. Itulah tugas editor. Setahu saya sih begitu.

Tapi kenapa seseorang yang saya kenal sebagai editor sama sekali tidak menunjukkan kontribusinya layaknya seorang editor yang saya ketahui. Capek-capek nulis. Menyelesaikan sebelum tenggat waktu. Sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mematuhi aturan tata bahasa yang baik dan benar. Namun kemudian atasan menyampaikan bahwa tugas yang telah saya selesaikan harus direvisi. Saya kira saya harus merubah isi atau alur tulisan. Tapi setelah melihat catatan yang dititpkan tukang edit pada atasan untuk saya, rasanya syok!

Bukan isi tulisan yang harus saya rubah, melainkan penulisan yang tidak tepat. Kurang satu huruf di beberapa kata atau semacam kesalahan pengetikan. BULSHIT! Terus kerjaan editor apa coba? Masa iya setelah memerah otak untuk merangkai kata, mata saya harus mengecek penulisan ribuan kosa katanya? Bukan berarti saya tidak pernah mengecek tulisan-tulisan yang sudah saya buat. Saya selalu melakukan pengecekan sebelum tulisan tersebut sampai ke tangan atasan untuk diserahkan pada editor. Tapi namanya juga manusia yang sudah lelah melihat tulisan-tulisan dari pagi hingga sore, pastilah ada satu atau dua kata yang luput dari editing saya. Dan harusnya itu menjadi tugas editor utnuk membenahinya bukan?

Saya mau saja kalau harus bertukar tempat. Saya bisa saja mengedit-edit tulisan dan mengecek tata bahasa serta penulisannya…. Masalahnya adalah Apa si editor bisa menggantikan posisi saya? Tidak mau menyombongkan diri sih, hanya menyatakan kenyataan yang dibumbui rasa kesal saja.

Lagipula hal ini bisa membuat credit poin saya di kantor menurun. Hei…di kantor juga ada IPK loh… Kalau IPK jelek, tidak dapat bonus dong..tak bisa menabung untuk jalan-jalan… Huhhhhhh

Semoga ada kesempatan bagi saya untuk menyampaikan rasa kesal ini di forum kantor 😦

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s