Duel KPSI Vs PSSI = Sanksi FIFA

Sanksi FIFA untuk Indonesia kembali mengancam. Perkaranya masih sama. Masih seputar dualisme kepengurusan. Masih antara PSSI dengan KPSI. Masih antara Djohar Arifin dengan Agum Gumelar. Masih antara IPL dengan ISL. Entah antara apa dengan apa lagi atau siapa dengan siapa. Saya menjadi semakin bingung dengan dunia kulit bundar di Indonesia.

Bukan karena tidak cinta Indonesia, melainkan karena tidak tahu bagaimana caranya mencintai sepak bola kita. Bukan karena acuh pada nasib Garuda, melainkan karena tak tahu bagian mana yang harus saya banggakan dari ranah sepak bola kita. Jujur ya… pengetahuan saya akan skuad timnas itu bernilai 1 dari skala 0-100. Jika harus dibandingkan dengan pengetahuan saya akan punggawa Juventus, rasionya jauh. 1:99!

Ironi memang, karena harusnya saya lebih tahu siapa saja yang menjadi bagian dari TimNas. Tanyakan pada saya siapa pelatih TimNas Indonesia saat ini… jawaban saya adalah gelengan kepala. Suer! Pelatih TimNas Terakhir yang saya kenal hanyalah Alfred Riedl. Lainnya, saya tak kenal. 

Bukan salah saya jika saya jauh lebih mengenal tim yang jauh berada di benua lain daripada timnas sendiri. Awalnya tidak tertarik dengan dunia sepak Indonesia, lalu sekarang ditambah dengan perkara KPSI Vs PSSI yang tak kunjung selesai. Bagaimana bisa saya suka?

Saya memang tidak kenal timnas. Tidak mengenal para punggaanya. Tidak tahu sejarahnya dengan baik. Namun dukungan untuk TimNas akan selalu ada karena Timnas itu adalah Indonesia. Bagaimanapun carut marutnya organisasi TimNas, tetap saja merupakan bagian dari NKRI. Bagian dari bangsa dan tanah air beta. Karena itulah, jika FIFA benar-benar menjatuhkan sanksi dengan memblacklist TimNas dari keanggotaan FIFA maka saya berhak marah pada orang-orang yang berperan memunculkan sanksi tersebut.

Kalau memang benar menginginkan yang terbaik untuk Indonesia, kenapa harus ada sanksi FIFA?

Tentang 12 – 12 -12

Semuanya heboh dengan 12 Desember 2012, 12-12-12. Entah apa yang menjadikan angka tersebut sebagai tranding topic di hari ini. Lucu memang karena tak setiap saat ada tanggalan 12-12-12. Sama halnya dengan 11-11-11 atau 10-10-10 atau 9-9-09. Hanya sekedar susunan angka yang sama pada suatu waktu. Tapi yah namanya juga pendapat orang… setiap orang berhak untuk menentukan moment mereka sendiri-sendiri.

Baiklah, karena hari ini 12-12-12 begitu ramai dibicarakan, satu-satunya ide untuk turut memeriahkan tanggal yang katanya kiamat tersebut adalah hari ini 5 cm mulai ditayangkan di bioskop-bioskop tanah air! HOOREEEEEE….

Mari kita bahas 5 cm. Sebuah karya Dony Dirgantara yang mengangkat kisah pencarian jati diri 5 anak manusia serta pemahaman tentang esensi kehidupan. Novel yang katanya based on true story ini sebenarnya menyuguhkan cerita simple yang tak butuh konsentrasi tinggi untuk memahami jalan ceritanya. Namun cerita yang sederhana tersebut disajikan secara cerdas sehingga dibutuhkan daya pikir luas untuk mengerti maksud ceritanya.

Bagi saya, kisah 5 cm tak jauh dari kehidupan anak manusia pada umumnya. Ya… tentang cinta, tentang suka, tentang setia, tentang kawan, tentang bosan, tentang marah, tentang cemburu, tentang sakit, dan tentang repotnya skripsi ( 🙂 ). Classic, but High Class!

Bukan jalan ceritanya yang membuat saya penasaran untuk menyaksikan filmnya, melainkan setting yang telah dijanjikansi sutradara. Tanah Semerulah alasannya. Kalau saja tak ada kisah di Mahameru, mungkin versi movie dari 5 cm ini tak ubahnya kisah novel yang difilmkan lainnya. Ingin tahu apakah Mahameru di bayangan saya saat membaca novelnya sama dengan Mahameru yang ditampilkan movinya.

So, kalau ada yang saya nantikan di angka 12-12-12 hari ini adalah penayangan perdana 5 cm the movie! Semoga filmnya benar-benar secetar membahana badai tsunami seperti yang dijanjikan dan tak menyimpang jauh dari kisah novelnya 🙂

P.S: Cerita 5 cm selengkapnya bisa di dapatkan di toko-tokko buku terdekat (ex: Gramedia)! Beli aja loh… meskipun buku ini sudah beredar sejak jaman saya SMA, sekarang masih banyak di jual kok 🙂

Kerja Suka Supaya Suka Kerja

Semua orang selalu beralasan bahwa bekerja itu untuk mencari uang. Memang benar. Tidak salah. Apa lagi yang diharapkan sebagai hasil dari suatu pekerjaan jika bukan penghasilan? Bullshit kalau uang itu bukan segalanya, karena nyatanya segalanya itu butuh uang. Cinta? Butuh uang lah. Saya cinta Juventus.  jika tidak ada uang, bagaimana bisa saya memiliki majalah-majalah Juve? Membeli jersey atau jaket Juve kan tidak pakai daun?! Tapi menjadikan uang sebagai alasan utama untuk mencari pekerjaan bukanlah alasan yang paling tepat, bagi saya.

Kerja karena mencari uang memang tak salah, namun jika setiap pekerjaan di orientasikan terhadap uang itu masalah.

Saya selalu menekankan pada diri sendiri bahwa alasan utama untuk bekerja adalah SUKA! Ya… SUKA. Saya harus menyukai dunia pekerjaan tersebut. Karena sesuatu yang dimulai dari Suka akan diakhiri dengan bahagia. Bagaimana bisa saya bekerja jika tidak menyukai pekerjaannya? Kalau memang hendak  menjadi jutawan dengan penghasilan millyaran, saya tak mungkin menjadi salah satu staff penulis. Jadi penulis bukan karena uang, tapi karena suka menulis. Dengan begitu saya tak harus selalu mengeluh setiap kali mengerjakan tugas yang menjadi tanggung jawab saya. Itu pilihan saya, jadi tak ada alasan mengeluhkannya saat muncul berbagai masalah. Namanya juga suka.

Bukankah jauh sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa tawaran pekerjaan dengan bayaran menggiurkan beberapa kali saya dapatkan? Tapi karena saya tak suka, tawaran tersebut tak saya terima. Bukan sombong, songong, atau sok… tapi memang karena tidak suka.

Bahkan karena sikap ‘sok’ tersebut saya harus bersitegang dengan Papi. Perang dingin selama berpekan-pekan. Jujur saja bahwa Papi sama sekali tak pernah tertarik dengan dunia yang saya suka ini. Beliau selalu beranggapan bahwa dunia pekerjaannya adalah yang terbaik sehingga ketika saya menolak tawaran beliau akan pekerjaan yang katanya memiliki masa depan cerah, Papi berkata “Kamu ini, dicariin kerjaan yang bener kok gak mau!” dan ‘klik’…. hubungan telepon terputus. Setelahnya tak ada komunikasi selama satu bulan penuh.

So… saya tetap bertahan dengan apa yang saya suka. Hubungan saya dengan orang tua pun sudah membaik. Dan beruntunglah saya karena dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang demokratis plus MAU berpandangan luas, saat ini tak ada lagi ‘tataran’ dari rumah akan dunia pekerjaan yang harus saya lakoni. Cukuplah mereka mengatur dunia pendidikan, sedangkan dunia kerja saya ‘dibebaskan’ untuk menjalani apa yang saya suka.

Beneran deh…kalau kita bekerja dengan dasar suka, hasilnya jauh lebih ceria. Bukannya tanpa masalah, yahhh namanya juga hidup pastilah ada satu atau dua masalah, setidaknya masalah tersebut tidak terlalu mengganggu kinerja karena toh saya suka akan pekerjaan tersebut. Mau partner kerja usil. Mau atasan semena-mena. Mau si bos pecinta Merda. Yang penting saya suka pekerjaannya, saya anggap semua yang buruk itu sebagai tantangan dan ujian hidup supaya dunia kerja tidak terlalu membosankan 🙂

Persepsi masing-masing individu sebenarnya mau bekerja untuk apa. Karena saya tahu tidak semua orang punya kesempatan untuk merasakan bekerja karena suka.

Lagi-lagi saya merasa beruntung dan sangat bersyukur karena bisa menjadi pekerja pada bidang yang saya suka 🙂

Say Good Bye to BRI!

Dua dekade lebih saya menaruuh rasa hormat pada sebuah lembaga keuangan yang merupakan salah satu BUMN di negeri ini. Alasannya karena lembaga keuangan tersebutlah sumber mata pencaharian Papi yang tentu saja sumber rejeki keluarga kami. Terlepas dari Tuhan yang mengatur dan melimpahkan rejeki, jabatan orang tua di lembaga keuangan tersebut tak bisa dipungkiri sebagai sumber penghasilan keluarga. Selama lebih dari dua dekade, BRI lah yang membuat perut keluarga kami kenyang.

Karena BRI saya dan saudara-saudara bisa bersekolah tinggi. Bisa merasakan mewahnya bangku universitas. Bisa menikmati pendidikan yang tak bisa dinikmati oleh semua anak di pelosok negeri. Sebagai bonus, saya bisa mendapatkan pendidikan formal dan non  formal di luar bangku sekolah. Les ini dan itu. Kursus ini dan itu.

Karena BRI kaki saya bisa memijak tanah Dewata lebih dulu dibadingkan kawan sepermainan. Mengenal Yogyakarta. Dan melihat tempat-tempat lain yang jauh dari rumah tinggal. Dari situlah saya mulai mengenal yang namanya mimpi dan cita-cita. Mulai berani membuat rencana untuk menginjakkan kaki ke seluruh penjuru negeri. Bermimpi untuk melihat setiap sudut Bumi.

Karena itulah, rasa simpati dan terimakasih patut saya berikan untuk BRI yang sudah melayani dengan setulus hati selama lebih dari dua dekade.

Sayangnya, respect pada bank yang turut membesarkan saya ini hilang dalam sekejap. Hanya karena sebuah perkara sederhana yang sebenarnya bisa diselesaikan jika pihak BRI memang beritikad baik untuk menyelesaikannya.

Saldo tabungan saya yang tiba-tiba berkurang adalah alasannya. Bagaimana tidak terkejut saat mengetahui saldo rekening berkurang, sementara saya tak melakukan transaksi? Rp 8.000.000,00 raib dalam satu hari.

Ketika pertama kali saya mengadukan perkara ini di kantor cabang BRI Kaliasin, Surabaya…. Saya mendapatkan harapan bahwa uang tersebut akan kembali. Pelayanan yang diberikan tidak mengecewakan. Customer Service yang melayani pengaduan Saya itu bahkan meyakinkan bahwa pihak BRI akan bertanggungjawab sehingga saya tak perlu merasa cemas. Mas CS tersebut menjanjikan maksimal 14 hari setelah pengaduan, uang tersebut akan kembali pada rekening saya. Diberkatilah mas CS, yang kalau saya tak salah bernama Nugraha, yang telah menerima keluhan saya dan membantu saya di hari itu.

Lalu dua minggu setelah pengaduan, saya mendapatkan pesan singkat dimana pengirimnya adalah BANK BRI. Ya… BANK BRI. Isi pesan menyatakan bahwa pengaduan saya telah diselesaikan dan uang telah dikembalikan ke rekening saya.

Pesan dari BRI

IMG02157-20121212-1137Dari pesan singkat yang saya terima itu, wajar bukan jika saya lega dan masih percaya bahwa  BRI masih sebagai salah satu BANK terbaik di negeri ini.

Sayangya ketika saya mengecek saldo via ATM, yang saya dapati adalah saldo rekening saya tidak bertambah. Tidak ada pengembalian uang seperti pesan singkat yang sudah saya terima tersebut. Karena itulah saya kembali menuju BRI cabang di kanwil Surabaya. Untuk mempertanyakan kejelasan uang saya.

Tahukah apa yang saya dapatkan?

Tidak ada lagi CS menyenangkan yang melayani dengan setulus hati. Adanya adalah mbak-mbak CS judes yang menjengkelkan. Tidak ada pelayanan ramah. Tidak ada juga solusi yang diberikan. Si Mbak CS judes juga mengatakan bahwa pihak BRI tidak bisa bertanggung jawab atas hilangnya uang di rekening saya itu. Bahkan si CS judes jelek itu juga menyuruh saya untuk pindah bank jika memang merasa dirugikan oleh BRI. KONYOL!!! Baru kali ini saya mendengar seorang CS menyuruh nasabahnya untuk pindah bank. Sayapun dipersilahkan untuk melaporkan masalah ini pada pihak yang berwajib atau menyebarkan beritanya ke media massa.

SHIT! Apa iya dia CS BRI? Bagaimana bisa sosok dengan pribadi seperti itu bisa menjadi bagian dari BRI? Apa sikap tersebut yang dinamakan ‘melayani dengan setulus hati’?

Suruhan si CS supaya saya memindahkan sisa uang ke rekening bank lain saya anggap sebagai solusi yang diberikan pihak BRI. Dan saya akan melakukannya. Serius ya… Saya dan nasabah lain itu menyimpan uang kami di BRI karena kami (Saya) percaya bahwa BRI bisa menjamin keamanan uang kami. Tapi kalau disimpan di BANK saja bisa kecolongan, apa bedanya dengan menabung di celengan ayam? Toh mungkin lebih baik menabung di celengan ayam. Tidak terpotong oleh biaya bunga bank dan sebagainya. Menyuruh pindah Bank? Bagaimana jika semua nasabah BRI berpindah ke bank lain? Saya memang hanya satu nasabah dengan saldo rekening yang mungkin menurut mereka kecil. Tapi bagaimana jika semua nasabah yang saldo rekeningnya kecil berpindah menjadi nasabah Bank yang menjadi kompetitor BRI di dunia perbankan? Apa iya BRI bisa bertahan? Bukankah sebuah Bank tak akan bisa apa-apa tanpa nasabahnya?

Saya memang bukan korban pertama. Banyak korban lain yang rekeningnya juga dibobol entah oleh siapa, namun tak mendapatkan ganti rugi dari BANK. Alasannya karena pihak BANK menganggap transaksi tersebut normal. Bukan kasus yang patut diperkarakan.

Rasanya benar-benar kecewa. Kepercayaan dan respect pada BRI hilang seketika. Sistem keamanan yang tak bisa lagi dipercaya serta perlakuan yang tidak menyenangkan dari salah satu karyawannya adalah alasan saya untuk say goodbye pada BRI. Di luar masalah ini, BRI juga sudah membuat kecewa Papi. Beliau yang sudah purna tugas tidak mendapatkan hak yang seharusnya beliau dapatkan. Uang pensiunan yang menjadi haknya masih tertahan di pihak BRI.

Sekarang saya tahu kenapa saat ini BRI bukan lagi yang terbaik. Masih salah satu yang baik memang, namun bukan yang paling baik. Dan jika pelayanan BRI tak juga dirubah bukan tak mungkin yang tersisa dari BRI hanyalah nama.

Semoga saja perkara yang menimpa saya ini tak terjadi pada nasabah lain.