Kerja Suka Supaya Suka Kerja


Semua orang selalu beralasan bahwa bekerja itu untuk mencari uang. Memang benar. Tidak salah. Apa lagi yang diharapkan sebagai hasil dari suatu pekerjaan jika bukan penghasilan? Bullshit kalau uang itu bukan segalanya, karena nyatanya segalanya itu butuh uang. Cinta? Butuh uang lah. Saya cinta Juventus.  jika tidak ada uang, bagaimana bisa saya memiliki majalah-majalah Juve? Membeli jersey atau jaket Juve kan tidak pakai daun?! Tapi menjadikan uang sebagai alasan utama untuk mencari pekerjaan bukanlah alasan yang paling tepat, bagi saya.

Kerja karena mencari uang memang tak salah, namun jika setiap pekerjaan di orientasikan terhadap uang itu masalah.

Saya selalu menekankan pada diri sendiri bahwa alasan utama untuk bekerja adalah SUKA! Ya… SUKA. Saya harus menyukai dunia pekerjaan tersebut. Karena sesuatu yang dimulai dari Suka akan diakhiri dengan bahagia. Bagaimana bisa saya bekerja jika tidak menyukai pekerjaannya? Kalau memang hendak  menjadi jutawan dengan penghasilan millyaran, saya tak mungkin menjadi salah satu staff penulis. Jadi penulis bukan karena uang, tapi karena suka menulis. Dengan begitu saya tak harus selalu mengeluh setiap kali mengerjakan tugas yang menjadi tanggung jawab saya. Itu pilihan saya, jadi tak ada alasan mengeluhkannya saat muncul berbagai masalah. Namanya juga suka.

Bukankah jauh sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa tawaran pekerjaan dengan bayaran menggiurkan beberapa kali saya dapatkan? Tapi karena saya tak suka, tawaran tersebut tak saya terima. Bukan sombong, songong, atau sok… tapi memang karena tidak suka.

Bahkan karena sikap ‘sok’ tersebut saya harus bersitegang dengan Papi. Perang dingin selama berpekan-pekan. Jujur saja bahwa Papi sama sekali tak pernah tertarik dengan dunia yang saya suka ini. Beliau selalu beranggapan bahwa dunia pekerjaannya adalah yang terbaik sehingga ketika saya menolak tawaran beliau akan pekerjaan yang katanya memiliki masa depan cerah, Papi berkata “Kamu ini, dicariin kerjaan yang bener kok gak mau!” dan ‘klik’…. hubungan telepon terputus. Setelahnya tak ada komunikasi selama satu bulan penuh.

So… saya tetap bertahan dengan apa yang saya suka. Hubungan saya dengan orang tua pun sudah membaik. Dan beruntunglah saya karena dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang demokratis plus MAU berpandangan luas, saat ini tak ada lagi ‘tataran’ dari rumah akan dunia pekerjaan yang harus saya lakoni. Cukuplah mereka mengatur dunia pendidikan, sedangkan dunia kerja saya ‘dibebaskan’ untuk menjalani apa yang saya suka.

Beneran deh…kalau kita bekerja dengan dasar suka, hasilnya jauh lebih ceria. Bukannya tanpa masalah, yahhh namanya juga hidup pastilah ada satu atau dua masalah, setidaknya masalah tersebut tidak terlalu mengganggu kinerja karena toh saya suka akan pekerjaan tersebut. Mau partner kerja usil. Mau atasan semena-mena. Mau si bos pecinta Merda. Yang penting saya suka pekerjaannya, saya anggap semua yang buruk itu sebagai tantangan dan ujian hidup supaya dunia kerja tidak terlalu membosankan 🙂

Persepsi masing-masing individu sebenarnya mau bekerja untuk apa. Karena saya tahu tidak semua orang punya kesempatan untuk merasakan bekerja karena suka.

Lagi-lagi saya merasa beruntung dan sangat bersyukur karena bisa menjadi pekerja pada bidang yang saya suka 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s