Karena ‘Mengerti’ Lebih dari Sebuah Kata

Semua orang meminta “Tolong mengerti aku”

Semua orang bersikeras “Kita ngerti kalian, Tapi Tolong ngertiin kita

Bagi saya, mereka yang meminta untuk dimengerti bukanlah sosok yang bisa mengeti orang lain. Simple. Gunakan saja teori sebab akibat. ‘tidak mau mengerti‘ maka ‘tidak dimengerti‘.

Karena itulah saya benar-benar muak karena masih saja ada perkataan “Aku ngerti, Mei penulis itu butuh suasana kondusif. Tapi penulis juga harus ngerti dong sama manajemen yang juga punya deadline

PREEEEEETT!!!

Rasanya telinga ini sakit dan gatal ketika pernyataan “tolong ngertiin admin dan editor“.

Uhh…padahal ya dari awal saya sduah menegaskan bahwa saya bukan tipe pekerja yang suka direcoki ketika mengerjakan tugas. Saya tidak suka didatangi beberapa kali untuk ditanyai progress pekerjaan harian. Saat saya mengajukan protes mengenai hal tersebut, jawaban yang saya terima adalah

Takutnya mbak Mei, kesulitan

UUUHHHHHHHH….Padahal saya juga sudah menegaskan bahwa saya sendiri yang akan meminta bantuan jika mengalami kesulitan dan kalau saya tidak meminta bantuan berarti saya memang tidak mengalami kesulitan untuk menyelesaikan tugas yang telah dibebankan. Tapi tetap saja ada mas-mas atau mbak-mbak yang menghampiri meja kerja untuk bertanya “ada kesulitan yang bisa dibantu, mbak?” -_______-

Apa itu yang namanya mengerti?? Saya sudah berusaha untuk berlaku profesional. Mendapatkan tugas, dikerjakan, dikumpulkan sesuai deadline. Tanpa pernah memprotes topik yang harus saya jabarkan dalam ribuan kalimat. Saya rasa dengan menyelesaikan tugas sesuai konsep dan tepat waktu sudah termasuk dari ‘pengertian’ yang kerap kali disampaikan oleh mbak-mbak dan mas-mas yang mengurusi masalah orderan!

Jadi rasanya bullshit sekali ketika mereka menyampaikan “aku sudah berusaha ngerti bagaimana penulis”, sementara mereka juga minta dimengerti. Kalau mau mengerti seseorang, tak perlu menuntut untuk dimengerti karena itu berarti mereka tidak benar-benar mengerti.

Berhentilah berkata “ngetiin aku” atau “aku ngerti kamu” di hadapan semua orang, karena mengerti harusnya lebih dari sekedar ucapan!

Yang Terpenting dari Menulis Bukanlah Ide, Tapi Kemauan

Menulis itu mudah.

Apa susahnya menulis di jaman sekarang ini. Oke, mari anggap menulis di sini sebagai merangkai kata. Entah mau menggunakan media pensil atau bolpoin beserta buku tulisnya atau dengan menggunakan MS Word yang terprogram di perangkat PC, tablet, ipad, atau laptop! 

Ide untuk menulis itu memang penting, karena tanpa ide mau menuliskan apa? Tapi kalau ide dijadikan alasan untuk dimulainya menulis atau tidak, saya rasa kurang tepat. Sebenarnya ide itu bisa dari mana saja. Tidak perlu repot-repot mencari yang namanya ide. Duduk di depan cermin pun kadang-kadang mendatangkan ide yang bisa dituliskan. Makan bersama teman-teman juga bisa menjadi sumber ide.

Atau cara simple dan cerdasnya tentu saja membaca. Dengan membaca, ide akan muncul dengan sendirinya.

Jadi masalahnya adalah ketika seorang penulis berkata “Aduh lagi gak ada ide nih“, bukanlah tidak ada ide melainkan tidak ada kemauan dan keinginan untuk menulis. Ide pastilah banyak, hanya kemauan saja yang sedang menghilang entah kemana.

Seseorang pernah mengatakan pada saya;

Kalau memang sedang buntu dan tidak ingin menulis apa-apa. Buka-buka aja buku atau jurnal-jurnal. Ketik ulang apa yang dituliskan oleh jurnal atau buku yang kamu baca. Ketik ulang, bukan copy paste. Dengan begitu akan ada banyak hal yang tiba-tiba muncul dipikiranmu dan mereka memintamu untuk segera menuangkannya dalam lembaran-lembaran halaman

Jadi, selain membaca…passion menulis yang hilang bisa dimunculkan dengan menuliskan ulang kalimat-kalimat dari sebuah buku atau jurnal atau bacaan apapun yang kita suka.

Bukan tak ada ide, melainkan tak ada keinginan menulis.

Menulis itu mudah, asal ada kemauan untuk menulis 🙂

Anggaplah Dirimu Seorang Arsitek

Kalau kamu masih merasa tertekan karena tak ada namamu di halaman depan

Anggaplah bahwa dirimu seorang Arsitek..

Kamu Arsiteknya… Merancang sebuah bangunan megah dan fungsionalis

Lalu kemudian rancanganmu dibeli oleh seseorang

Dan ketika pembeli rancnaganmu mendapatkan jutaan pujian akan keindahan bangunan mereka tanpa sekalipun menyebutkan Kamu arsiteknya

Berbanggalah, karena kamu bisa menghasilkan sebuah karya yang luar biasa

Kalau kamu masih tak bisa menerima karena karyamu menghasilkan grade A yang bukan untukmu

Anggaplah bahwa dirimu seorang arsitek..

Kamu arsiteknya… Membuat sebuah rancang hunian yang strategis

lalu kemudian rancanganmu dibeli seseorang

Dan ketika rancanganmu berdiri pada sebuah bidang tanah dalam bentuk rumah siap huni tapi itu bukan rumahmu

Berbanggalah, karena tanpamu rumah itu tidak akan ada

Kamu arsitek.

Kamu menciptakan segala rancangan bangun untuk mereka yang meminta

Kamu yang membuat mereka memiliki sebuah rumah yang nyaman

Kamu yang membuat mereka memiliki ruang kantor yang brilian

Kamu yang membuat mereka tersenyum girang atas segala pujian

Tapi percayalah, akan ada waktu dimana seorang arsitek merancang bangunan untuknya sendiri

Ada saat dimana kamu akan mengerahkan segala keahlianmu untuk merancang rumahmu sendiri

Dan kalau saat ini kamu masih merasa tertekan karena mereka beramai-ramai memintamu membuatkan rancang bangunan untuk mereka

Anggaplah kamu sedang belajar..

Anggaplah kamu sedang mencari rancangan terbaik untuk rumahmu sendiri

(Terinspirasi dari semangat atasan kepada saya. Sebuah pembelajaran untuk tetap ikhlas dan yakin bahwa mimpi baik seorang Hamba akan selalu dipeluk oleh Tuhan)

Bye Bye Coppa!!

Kami telah bermain bagus. Lebih baik dari pertandingan di menit-menit awal. Tapi kemenangan tetaplah mutlak. Selamat untuk Lazio yang berhasil melaju ke final

Kira-kira begitulah kata Antonio Conte pada sesi tanya jawab setelah pertandingan semifinal leg 2 yang digelar di Olimpico, Roma. Setelah ditahan dengan skor 1-1 di rumah sendiri, The Old Lady harus kalah 2-1 dalam waktu 180 menit pertandingan. Usaha Vidal untuk menyamakan skor yang dibuat oleh Gonzales tidak berarti karena Floccari berhasil menaklukkan Marco Storari. Hasilnya Lazio melenggang ke Final Coppa Italia 2012-2013, menanti lawan antara rekan sekota AS Roma atau si Merda Biru Hitam jelek!!

Sisi negatifnya adalah Juventus tidak bisa mengulangi momen musim lalu yang berhasil melenggang ke Final walaupun pada akhirnya kalah dari tim Naples. Jika dibandingkan dnegan musim lalu, jelaslah bahwa saat ini adalah sebuah kemunduran untuk hasil pertandingan. Walaupun begitu banyak yang menilai permainan Juventus musim ini lebih cantik dari musim lalu. Tapi kalau boleh jujur, saya tidak butuh permainan cantik. Saya butuh hasil akhir! Seperti kata Bonieparte, “Kemenagan itu bukan yang terpenting, tapi kemenangan itu mutlak!!!!!”.

Sisi positifnya, Juventus bisa lebih fokus ke Liga dan UCL. Memperbaiki peforma (akhir) yang kembali naik turun tak stabil. Layaknya detak jantung saya saat melihat mereka bertanding. Dengan tidak adanya pertandingan lain di Coppa, Serie A bisa lebih menjadi perhatian utama dan UCL sebagai perhatian tambahan. Masih panjang perjalanan musim ini. Apapun masih bisa terjadi.

Tapi yang jelas, fino alla fine, Forza JUVENTUS!!!!! Come On The Old Lady….. Show up Your best!!!!!

Menang Kalah Seri Tetap Juventini.

Seri disyukuri, Kalah dimaknai, Menang diamini ^_^

Cares About Juventus Right Now

Hahhhh… tak peduli akan badai sanksi yang Juventus terima akibat protes terhadap keputusan wasit di pertandingan Vs Genoa, memangnya kenapa kalau Conte & Bonnuci dihukum dua pertandingan? memangnya kenapa kalau Chiellini juga dihukum walaupun kondisinya masih cedera? Memangnya kenapa kalau ada denda yang harus ditanggung Juventus akibat protes yang dianggap berlebihan tersebut?

Who cares?!!!

Juventus diserang badai penghargaan dari ajang Gran Gala del Calcio 2012 pun saya tak peduli. Mau Conte jadi coach terbaik sampai Pirlo yang ditahbiskan sebagai best player in Serie A pun saya tidak peduli. Gigi sebagai best portiere juga tak ambil pusing. Empat Pemain masuk best IX juga tidak peduli.

Saya tidak peduli.

Tidak peduli pada sanksi & penghargaan, hanya peduli pada The Old lady.

Lebih peduli lagi jika ternyata kabar akan kedatangan Juventus ke Indonesia benar adanya. Tidak PHP 🙂

Come On, The Old Lady… Come To Indonesia!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

1 Poin, Juventus tetap Kokoh di Puncak

Entah kenapa rasanya bulan ini hasil pertandingan Juventus sama dengan fokus saya yang sedang labil. Terkadang mencapai top performance sehingga mendapatkan 3 poin, kadang-kadang kurang beruntung sehingga harus puas dengan angka 1, dan begitu sial dengan poin nol. Uhhh…setelah mampu menghajar Udinese dengan skor telah di pekan lalu, akhir pekan ini Juventus kembali bermain seri kala bersua Bologna.

Lagi dan lagi Juventus harus kehilangan permainan apik kala harus bersua dengan tim medioker. Benar-benar sial.

1 goal from Quags

1 goal from Quags

Yahh…apa mau dikata, perayaan ulang tahun Gigi Buffon hari ini tak bisa disempurnakan dengan 3 poin.

Bersyukur karena Quagliarella bisa mencetak sebiji gol berbanding sebiji gol juga dari Boriello, sehingga pertandingan berakhir dengan skor 1-1.

Baiklah… tak masalah.. menang kalah tak peduli, seri pun tetap Juventini.

Menang tetap membumi, Kalah Tak Perlu mencaci, Seri pun tetap Juventini!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Di Balik Perayaan Maulid Nabi

Perayaan Maulid Nabi itu sudah biasa bagi saya. Biasanya sewaktu jaman sekolah di hari lahir Nabi Muhammad, saya disuruh membawa lima jenis kue ke sekolah. Sebuah ritual yang berlangung di jaman SD. Sedangkan Mami di rumah sibuk memasak nasi kuning untuk dikumpulkan di peringatan maulid yang diadakan oleh lingkungan RT. 

Sampai sekarang saya masih belum paham mengenai makna membawa kue di hari maulid Nabi sewaktu SD. Dan jumlahnya selalu 5. Tidak boleh kurang, tapi sepertinya boleh lebih. Lima jenis kue tersebut pada akhirnya dimakan sendiri oleh siswa yang membawanya. Memang tidak ada ketentuan wajib untuk membawa lima jenis kue yang diwadahi sekotak kardus putih. Hanya saja saat itu kalau tidak ada kotak kardus kue di atas meja, terasa ada tatapan dari semua penjuru kelas. Bahkan saya mengingat saat itu ada  seorang guru menanyakan alasan pada salah satu kawan yang tidak membawa kue. Ketika kawan saya menjawabnya dengan senyuman, si guru berkata

“Ahh…kamu kebiasaan. Maunya minta kue dari teman-teman tapi ndak mau bawa sendiri”

Saat itu saya memang tidak mengerti akan perkataan guru saya itu. Tapi yang pasti si ibu guru tidak memberikan jawaban atas pertanyaan saya “mengapa harus 5 jenis kue?”

Kenapa pula harus membawa kue kalau pada akhirnya dimakan sendiri? Lagipula hampir setiap hari saya makan kue. Dan saya rasa teman-teman satu sekolahpun sudah biasa makan kue di rumah masing-masing. 

Belum lagi acara pengumpulan nasi kuning yang diwadahi kotak kardus. Masing-masing rumah di area RT saya mengumpulkanpaling tidak sekotak nasi kuning. Biasanya tergantung jumlah anggota keluarga masing-masing. Setiap kotak nasi dikumpulan sore hari, atau beberapa jam sebelum acara peringatan maulid dimulai. Selanjutnya nasi kuning yang telah terkumpul dari semua rumah di satu RT dibagikan pada semua yang hadir di acara peringatan maulid. 

Jadi ceritanya adalah tukar-menukar nasi kuning antar rumah di satu RT. Kalau misalanya secara kebetulan mendapatkan nasi kuning buatan sendiri? Ya sudah…berarti takdir. Tapi buat saya, lebih baik mendapatkan masakan Mami daripada harus mendapatkan nasi kuning buatan tetangga. Bukannya menghina atau menganggap tetangga saya tak punya kompetensi memasak, but I’m sure that my Mom’s is the best 🙂

Jadi, kenapa harus ada lima jenis kue dan tukar-menukar nasi kuning????

Sampai sekarang pun saya masih tidak mengetahui jawabannya. Masih suka tersenyum simpul jika mengingat betapa sulitnya menemukan jawaban akan ‘lima jenis kue & tukar-menukar nasi’ tersebut. Belum juga selesai dengan perkara yang lucu tersebut, saya kembali mendapati bahwa negeri ini begitu banyak memiliki keunikan yang membuat saya tak berhenti untuk tertawa.

Lebih dari empat tahun stay di kota sebesar Surabaya, tetapi baru kali ini saya melihat peristiwa yang luar biasa lucunya. Sebuah peristiwa yang juga berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 

Di perayaan yang saya lihat adalah lokasi didekor dengan berbagai macam makanan ringan, balon yang belum ditiup, kipas anyaman (kipas tukang sate), sendok, garpu, dan entah apa lagi yang semuanya digantung dengan tali di atas lokasi peringatan Maulid Nabi. 

Dan apa lagi itu? Saya juga tidak tahu. Kenapa harus ada jajanan anak SD yang digantung-gantung di atas orang-orang yang duduk bersila membacakan shalawat sepanjang malam! Apa hubungannya bergantung-gantung sendok dan garpu dengan peringatan Maulid?

Ya Allah… bangsa saya benar-benar lucu. 

Serangan Underpressure!

Ketika deadline mulai mengejar dan tak bisa lagi ditangguhkan, keteganganpun tak dapat dielakkan. Awal tahun benar-benar penuh dengan pekerjaan yang menekan. Akibatnya seluruh kantor berada di bawah tekanan. Underpressure all the time. Semua orang memang masih tertawa-tawa dan bercanda satu sama lain, tetapi raut mereka tidak bisa lepas dari yang namanya ‘tertekan’!

Ada yang menangis, ada yang tiba-tiba diam, bahkan ada yang lari ke Alfamart depan kantor untuk membeli minuman dingin dan meletakkan botol minuman tersebut di dahinya… mungkin supaya bisa menurunkan suhu kepala yang panas karena tegangan kantor.

Dan hari ini, ketegangan yang sudah saya tamengi untuk tidak mendekati saya ternyata lolos dari jebakan tikus. Ketegangan itu pun meledak di pagi ini. Dan korban ledakannya adalah seorang mas-mas yang sebenarnya tidak salah apa-apa. Dia hanya sekedar bertanya apakah saya sudah menyelesaikan deadline pekerjaan hari ini, tetapi jawaban saya ‘BELUM’ dengan ketegasan nada 6 oktaf. Saya kesal karena saat itu saya tengah berkonsentrasi pada proses editing. Mengecek penulisan setiap paragraf. Lalu tiba-tiba datang sosok yang menanyakan pekerjaan yang sebenarnya sudah selesai, sehingga rusaklah konsentrasi dan mood saya. Akhirnya keluarlah satu kata yang sebenarnya sederhana. Hanya kata ‘belum’, tetapi saya ucapkan dengan nada yang tidak menyenangkan.

Si masnya sih hanya menimpali kata ‘belum’ saya dengan hembusan nafas panjang, tapi itu sudah cukup membuat saya menyesal.

Duhhhhhh… menyesal karena tidak bisa mengontrol emosi. Menyesal karena menuturkan sebuah kata yang tidak menyenangkan. Saya pasti tidak suka jika mendapatkan jawaban kurang menyenangkan dari seseorang yang saya tanyai, tapi saya sendiri memberikan perlakuan yang tidak menyenangkan pada orang. Huhuhuhuhuhu…. menyesal.

Akibatnya konsentrasi saya semakin buyar. Semakin tidak bisa menuntaskan pekerjaan yang sudah selesai.

Harusnya ya… setertekan apapun, semarah apapun, setegang apapun… saya tidak patut bersikap tidak menyenangkan pada sosok yang memang menjalankan tugasnya. I really sorry for that. For sure!

Dan sebagai bentuk penyesalan, saya sudah meminta maaf atas sikap konyol yang sudah saya tunjukkan. Untunglah si masnya berbaik hati untuk memaklumi sikap edan saya padanya di pagi ini.

Pelajaran penting supaya saya  lebih bisa mengontrol emosi dalam kondisi apapun, khususnya pada masa tegang di kantor seperti sekarang ini. Deadline boleh menumpuk, tapi suasana hati tidak boleh buruk. Lagipula deadline itu adalah tumpukan pekerjaan yang saya suka… pekerjaan yang saya pilih… Jadi, kenapa harus terpancing dengan pressure?

Underpressure?? NOPE!!!!

No Expert! (@senja_ndu & @cha_m3 said)

Tidak expert bukan berarti tidak bisa

Hanya belum bisa

Tidak expert bukan berarti tidak ingin

Hanya belum mau

Tidak expert bukan berarti tidak suka

Hanya belum merasa

Tidak expert bukan berarti tak ada usaha

Hanya belum sempurna

Yaaaa….

Namanya juga manusia

(P.S: terinspirasi dari penilaian dua orang akan ketidak-expert-an saya pada sebuah kasus 🙂 So… just teach me guys. Ajari bagaimana caranya saya bisa mencapai standar expert seperti yang kalian tuturkan.)