Kok Bisa Sih, Dek?


Ya Tuhan… saya sudah lama hidup bersama adik saya. Telah lama mengenal siapa dia dan bagaimana dirinya. Tapi setiap kali menyaksikan jalan hidupnya, saya masih saja terpesona. Tak bisa banyak berkomentar. Tak bisa banyak berfikir mengapa dia bisa. Hanya pertanyaan “Kok bisa sih” lah yang terapung di benak saya.  Semalam, ketika kami dengan sengaja memberikan hadiah untuk hari lahir salah satu kakak dia dengan santainya menghabiskan malam. Dan sesampainya di rumah kontrakan saya, dia langsung tertidur. Sangat pulas.

Lalu paginya, jam enam tepat dia sudah siap sedia untuk meluncur ke kampus.

Saya pun kembali hanya bisa membatin “kok bisa sih?”

Kok bisa adik saya itu bersikap santai di saat UAS. Semalam tidak belajar. Dini hari pun tidak belajar. Subuh juga tidak belajar. Lalu berangkat jam enam pagi, satu jam sebelum UAS, supaya mendapatkan posisi yang enak buat mencontek, bekerja sama, dan kalau sempat membuka ‘catatan kecilnya’.

itu sangat 180 derajat tidak sama dengan saya ketika harus berhadapan dengan UAS.

Memang tidak belajar ghetu semalaman, tetapi setidaknya semalam sebelum ujian membaca-baca materi yang akan diujikan. Liat-liat soal UAS tahun lalu dan kalau sedang mood ditambah dengan salat malam plus mengaji. Lalu di hari UAS juga tidak terlalu berebut mencari tempat layaknya penumpang yang berebut bis mudik.

Ya ampun… kok bisa sih?

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s