Sebuah Teori Bernama Kaizen


Sebuah sistem manajemen sumber daya manusia yang baru saja saya pelajari bernama Kaizen. Sistem manajemen kualitas SDM yang didasarkan pada perbaikan kualitas secara berkesinambungan. Berkesinambungan, bukan terus – menerus. Continous, not continual.

Kaizen mengajarkan bagaimana sebuah organisasi ataupun komunitas bisa menjadi superior dan terus berkembang tanpa ada batasan berupa strata pendidikan dan keahlian khusus. Prinsip dari Kaizen bukanlah bisa, melainkan mau. Bisa tapi kalau tidak mau, sudah tentu tak bisa menjalankan tujuan organisasi. Mau tapi tak bisa, setidaknya bisa belajar dan memberikan kontribusi terhadap organisasi.

Kaizen dengan salah satu prinsipnya yang paling terkenal yaitu 5 S; Seire, Seiton, Seiso, Seiketsu, & Shitsuke. Prinsip 5 S yang menjadikan Jepang sebagai salah satu negara maju di dunia dengan prinsip bekerjanya yang sangat kuat. Ibaratnya sebuah pohon, 5 S adalah akar yang mampu menyerap nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Selain itu akar juga berfungsi sebagai barrier atau filter bagi zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tanaman. Artinya 5 S adalah perisai bagi diri untuk mencegah masuknya sifat dan sikap negatif pada setiap pribadi manusia.

Tidak ada penjelasan lebih lanjut bagaimana 5 S bisa begitu melekat dalam setiap pribadi manusia di Jepang, tetapi saya mengindikasikan bahwa sikap-sikap terpuji yang lolos filter 5 S disebabkan oleh positif thinking! Karena berfikiran positif, maka hasil yang terciptapun pasti positif. Bukankah ada istilah bahwa alam akan memunculkan apa yang ada di pikiran setiap individunya? Berfikirlah positif, maka alam akan membalasnya dengan nilai yang positif.

Saya sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba berkeinginan untuk menuliskan sistem manajemen Kaizen ini. Hanya saja saya memiliki ketertarikan tersendiri terhadap salah satu topik yang harus saya jabarkan itu. Sebuah tema yang entah mengapa rasanya begitu mengena pada diri saya. Tidak hanya sekedar teori yang harus dibaca, tetapi teori yang langsung meresap ke dalam tempurung kepala.

Saya anggap teori manajemen kualitas ala Jepang ini sebagai pembelajaran baru yang tak saya temui saat menyusun skripsi sekalipun 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s