Ironi Kecil di Tanah yang Besar


Beberapa minggu lalu saya bepergian dengan menggunakan jasa transportasi kereta api. Ada sesuatu yang berbeda yang tak saya temui ketika terakhir kali berkunjung ke stasiun (Gubeng, Surabaya). Tidak ada lagi pedagang asongan yang berkeliaran di dalam stasiun. Penumpang baru bisa masuk ke dalam stasiun 30 menit sebelum keberangkatan dimana sebelumnya asal menunjukkan tiket, penumpang sudah boleh masuk area stasiun sembari menunggu keretanya di kursi tunggu penumpang. Tidak ada lagi pengamen organ tunggal yang biasanya menjadi periuh suasana kala menunggu kereta.

Lalu kemudian saya ingat cerita yang disampaikan oleh salah satu kawan bahwa usaha keluarganya di lingkungan stasiun terkena penggusuran. Padahal usaha tersebut sudah ada sejak 30 tahun yang lalu. Tapi kemudian tanpa peringatan dari PT KAI dan pihak-pihak berwenang lain, bangunan usahanya digusur. Tanpa kompensasi, tanpa peringatan. Alasan penggusuran juga tidak dijelaskan secara rinci. Petugas yang menggusur hanya memberikan surat perintah penggusuran sembari mengatakan bahwa segala usaha rakyat di stasiun sudah tidak diperkenankan lagi. Petugas berdalih bahwa usaha tersebut di bangun di atas tanah negara sehingga negara berhak melakukan apapun terhadap tanahnya itu.

Tapi tak ingatkah negara akan Undang-Undang dasar 1945 Pasal 33 ayat (3). Bukankah di situ tertulis jelas bahwa “Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan DIPERGUNAKAN untuk sebesar-besarnya KEMAKMURAN rakyat”. Negara hanya berperan sebagai penguasa supaya tidak dicaplok oleh negara lain. Tapi semua itu adalah hak bangsa. Untuk kemakmuran rakyat! Sampai kapankah cerita tak menyenangkan seperti itu bergulir di Bumi Pertiwi ini?

Cerita di atas mungkin hanya  secupil kisah pilu yang dialami oleh anak bangsa. Masih sebaris jeritan pilu dari ratusan juta paragraf yang mengisahkan betapa terjajahnya bangsa ini.

P.S: Sebuah cerita di Link ini (Ketika Pedagang Harus Menunggu Pak Jonan di Atas Rel  ) juga menjadi bukti bahwa bangsa ini masih saja dijajah di rumahnya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s