Di Balik Perayaan Maulid Nabi


Perayaan Maulid Nabi itu sudah biasa bagi saya. Biasanya sewaktu jaman sekolah di hari lahir Nabi Muhammad, saya disuruh membawa lima jenis kue ke sekolah. Sebuah ritual yang berlangung di jaman SD. Sedangkan Mami di rumah sibuk memasak nasi kuning untuk dikumpulkan di peringatan maulid yang diadakan oleh lingkungan RT. 

Sampai sekarang saya masih belum paham mengenai makna membawa kue di hari maulid Nabi sewaktu SD. Dan jumlahnya selalu 5. Tidak boleh kurang, tapi sepertinya boleh lebih. Lima jenis kue tersebut pada akhirnya dimakan sendiri oleh siswa yang membawanya. Memang tidak ada ketentuan wajib untuk membawa lima jenis kue yang diwadahi sekotak kardus putih. Hanya saja saat itu kalau tidak ada kotak kardus kue di atas meja, terasa ada tatapan dari semua penjuru kelas. Bahkan saya mengingat saat itu ada  seorang guru menanyakan alasan pada salah satu kawan yang tidak membawa kue. Ketika kawan saya menjawabnya dengan senyuman, si guru berkata

“Ahh…kamu kebiasaan. Maunya minta kue dari teman-teman tapi ndak mau bawa sendiri”

Saat itu saya memang tidak mengerti akan perkataan guru saya itu. Tapi yang pasti si ibu guru tidak memberikan jawaban atas pertanyaan saya “mengapa harus 5 jenis kue?”

Kenapa pula harus membawa kue kalau pada akhirnya dimakan sendiri? Lagipula hampir setiap hari saya makan kue. Dan saya rasa teman-teman satu sekolahpun sudah biasa makan kue di rumah masing-masing. 

Belum lagi acara pengumpulan nasi kuning yang diwadahi kotak kardus. Masing-masing rumah di area RT saya mengumpulkanpaling tidak sekotak nasi kuning. Biasanya tergantung jumlah anggota keluarga masing-masing. Setiap kotak nasi dikumpulan sore hari, atau beberapa jam sebelum acara peringatan maulid dimulai. Selanjutnya nasi kuning yang telah terkumpul dari semua rumah di satu RT dibagikan pada semua yang hadir di acara peringatan maulid. 

Jadi ceritanya adalah tukar-menukar nasi kuning antar rumah di satu RT. Kalau misalanya secara kebetulan mendapatkan nasi kuning buatan sendiri? Ya sudah…berarti takdir. Tapi buat saya, lebih baik mendapatkan masakan Mami daripada harus mendapatkan nasi kuning buatan tetangga. Bukannya menghina atau menganggap tetangga saya tak punya kompetensi memasak, but I’m sure that my Mom’s is the best 🙂

Jadi, kenapa harus ada lima jenis kue dan tukar-menukar nasi kuning????

Sampai sekarang pun saya masih tidak mengetahui jawabannya. Masih suka tersenyum simpul jika mengingat betapa sulitnya menemukan jawaban akan ‘lima jenis kue & tukar-menukar nasi’ tersebut. Belum juga selesai dengan perkara yang lucu tersebut, saya kembali mendapati bahwa negeri ini begitu banyak memiliki keunikan yang membuat saya tak berhenti untuk tertawa.

Lebih dari empat tahun stay di kota sebesar Surabaya, tetapi baru kali ini saya melihat peristiwa yang luar biasa lucunya. Sebuah peristiwa yang juga berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 

Di perayaan yang saya lihat adalah lokasi didekor dengan berbagai macam makanan ringan, balon yang belum ditiup, kipas anyaman (kipas tukang sate), sendok, garpu, dan entah apa lagi yang semuanya digantung dengan tali di atas lokasi peringatan Maulid Nabi. 

Dan apa lagi itu? Saya juga tidak tahu. Kenapa harus ada jajanan anak SD yang digantung-gantung di atas orang-orang yang duduk bersila membacakan shalawat sepanjang malam! Apa hubungannya bergantung-gantung sendok dan garpu dengan peringatan Maulid?

Ya Allah… bangsa saya benar-benar lucu. 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s