Di Atas Langit Masih Ada Langit, Kawan!


Di atas langit masih ada langit.

Pesan itulah yang selalu ditegaskan Mami (almh) pada saya. Tidak boleh sombong. Boleh puas atas apa yang dimiliki diri sendiri, tetapi dilarang untuk merendahkan apa yang dimiliki orang lain karena yang terbaik hanya milik Tuhan.

Karena itulah kenapa harus sok sombong dengan segala titel ataupun gelar akademis atau gelar kebangsawanan atau gelar kenegaraan yang kita miliki kalau toh masih ada orang lain yang memiliki titel atau gelar-gelar yang jauh lebih tinggi dan mulia? Dan sebenarnya untuk apa sih gelar itu? Untuk apa titel itu? Kalau untuk kebanggaan, boleh. Tapi tidak untuk kesombongan. Tidak untuk dibangga-banggakan dengan maksud mengintimidasi orang lain.

Satu kali kawan saya pernah berkata;

“sekarang loh, Mei… kita kuliah biar dapat apa? Bullshit kalau cuma mau ilmu. Ujung-ujungnya pasti nilai. Terus endingnya gelar dan ijazah”

Sebuah statement yang saat itu bergaung di pikiran ketika saya sedang galau mengenai esensi kuliah. Memang benar, kuliah itu ujung-ujungnya nilai dan ijazah, dan gelar.

Tapi nilai, ijazah dan gelar itu hanya sebuah cover. Sebuah packaging untuk menarik minat ‘customer’. Kalau cover dibuka tetapi isinya tidak ada apa-apanya, bukankah sangat disayangkan? Pastilah customer merasa dirugikan dengan bungkusan yang rapi namun tak punya isi.

Sama halnya dengan titel dan gelar… Untuk apa menjadi seorang sarjana atau doktor kalau ilmunya tak bisa diterapkan?  Bolehlah ya menjadikan nilai atau ijazah sebagai patokan untuk lulus sekolah. Tapi di zaman ini menjadikan strata pendidikan tinggi hanya sebagai alat pamer atau sok-sok an, uuhhhh… menjijikkan.

Belum tentu si sarjana lebih pandai daripada lulusan SMA. Belum tentu juga master of sains bisa menjadi pemimpin daripada mereka yang tamatan diploma.

Contohnya, salah satu atasan saya itu lulusan SMA. Tapi pengetahuannya akan ilmu-ilmu sosial jauh melebihi saya dan siapapun di kantor ini yang sudah mencicipi dunia kampus.

Benar-benar muak pada sosok yang dengan terang-terangan menggembor-gemborkan strata pendidikannya di muka umum. Kelakuan seorang master macam bocah SD itu adalah ironi.

Percayalah kawan, di atas langit itu masih ada langit!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s