Ekspedisi Pacitan – Goa Gong


Sebuah Kota Kabupaten Paling Barat di Provinsi Jawa Timur. Berbatasan dengan Ponorogo di sebelah utara, Trenggalek di sebelah timur, Samudera Hindia di sebelah selatan, dan Wonogiri (Jawa Tengah) di sebelah barat menjadikan kota kelahiran Presiden SBY ini sebagai salah satu kawasan yang memiliki daya tarik tersendiri, khususnya sebagai tujuan wisata.

Sebutan Kota 1001 Goa pun melekat pada Pacitan Karena di sana memang terdapat banyak wisata goa. Mulai dari yang masih dioperasikan sebagai obyek wisata, hingga goa-goa yang sudah tak bisa lagi ditelusuri dengan alasan atap goa yang telah rapuh atau jalanan dalam goa yang telah tertimbun. Salah satu goa yang masih bisa dikunjungi adalah Goa Gong. Goa ini terletak di  desa Bomo,  kecamatan Punung, Pacitan sekitar 30 km dari kota Pacitan, dapat dicapai dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat. Jalan yag berliku dan naik turun membuat para pengendara harus berhati-hati, belum lagi sebagian ruas jalan mengalami kerusakan ringan.

Kata orang dan beberapa bacaan yang saya ketahui, Goa Gong adalah Goa yang memiliki stalagtit dan stalagmit yang paling indah di Asia Tenggara. Ingat ya… stalagtit dan stalagmit itu batu-batu meruncing yang ada di dalam goa. Stalagtit batu runcing di atas goa, sedangkan stalagmit adalah batu runcing yang muncul dari dasar goa. Kata orang stalagmit & stalagtit tersebut memiliki nama sendiri-sendiri. Tapi saya tidak sempat menanyakan nama-nama mereka. Lupa kenalan!

Panjang goa tidaklah ekstrem..hanya sekitar 256 meter. Untuk sampai ke pintu masuk goa, kita hanya perlu ‘mendaki’ anak tangga yang entah berapa jumlahnya. Tapi kira-kira jaraknya 100 meter. Deket Ahhh!

Di pintu masuk goa ada ibu-ibu dan bapak-bapak yang siaap menjajakan senter. Bukan untuk dijual, melainkan disewakan. Bagi pengunjung yang memiliki masalah penglihatan, biasanya penyewaan senter ini cukup membantu dalam menyusuri goa. Tapi sebenarnya kondisi goa cukup terang. Di beberapa sudut sudah terdapat lampu-lampu neon. Hanya beberapa sudut saja yang membutuhkan penerangan tambahan. Saya sendiri memilih headlamp sebagai sumber cahaya tambahan. Lebih praktis daripada senter. Tanganpun lebih fokus dengan kamera. Selain itu tak makan tempat dalam ransel 🙂

Saya tidak sempat menanyakan mengapa goa tersebut diberinama ‘Gong’, tetapi dari sedikit cerita yang saya baca di salah satu majalah… penamaan ini dikarenakan masyarakat setempat sering mendengar suara ‘Gong..Gong..Gong..” dari dalam goa. Maksud saya bukan suara gonggong anjing, melainkan suara tabuhan gong!

Di dalam goa sendiri sedikitnya ada 5 sumber air yang lebih dikenal dengan istilah ‘sendang’. Menurut kepercayaan air tersebut berkhasiat menyembuhkan penyakit dan meningkatkan aura seseroang. Sebelum datang sendiri ke goa, saya percaya saja dengan cerita tersebut. Namun setelah masuk ke dalamnya dan melihat sumber airnya… Percaya itu jadi hilang. Mana bisa sumber air mnyembuhkan penyakit jika terdapat botol frestea, chitato, dan permen kopiko di dalamnya??? 😦

Bagi saya, goa Gong hanya salah satu destinasi warisan nenek moyang yang layak dikunjungi. Biarpun sendangnya bersampah, stalagmit & stalagtitnya okay loh.. 🙂

Papan Nama Sebelum Pintu Masuk

Papan Nama Sebelum Pintu Masuk

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s