Angka Sempurna Di Giuseppe Meazza

3 poin dari Derby D’Italia mengukuhkan La Vecchia Signora di puncak klasemen. Perkara pekan ini bukan hanya pebalasan dendam atas kekalahan menyakitkan di November 2012 lalu, melainkan sebuah pembuktian bahwa The Old Lady masih yang terbaik. Duel dengan pasukan biru hitam asal Milano masih pantas bertitel Derby D’ Italia!!

Bintang pertandingan hari ini adalah Quagiarella sebagai pencetak gol pertama sekaligus memberikan peluang bagi Matri untuk kembali membuat Juventus unggul dari dari Inter yang berhasil menyamakan skor di awal babak kedua. 

Walau pemain tuan rumah banyak sekali melakukan tindakan tidak sportif (selalu saja begitu), setelah 90 menit + 4 menit babak perpanjangan waktu, wasit meniupkan peluitnya dengan panjang mengakhiri pertandingan untuk kemenangan Buffon dan kawan-kawan. 3 poin pun dibawa dari Giuseppe Meazza. 

Salah Satu Kelakuan Tak Senonoh Pemain Inter di Pertandingan Malam Ini, 30 Maret 2013

Salah Satu Kelakuan Tak Senonoh Pemain Inter di Pertandingan Malam Ini, 30 Maret 2013

Hasil yang positif untuk mengawali laga perempat final leg 1 di Munich tengah pekan depan. Semoga hasil yang maksimal ini berlanjut di Jerman.

Salutate della capolista!! 

Suasana NonBar Juventus Vs Inter @Matchbox Too. Asap Kembang Apinya menyerupai Salam CInta Vidal Saat Merayakan Golnya! Grandissima Vittroria!! (sebuah foto dari @ggaciko , grazie :) ).

Suasana NonBar Juventus Vs Inter @Matchbox Too. Asap Kembang Apinya menyerupai Salam CInta Vidal Saat Merayakan Golnya! Grandissima Vittroria!! (sebuah foto dari @ggaciko , grazie 🙂 ).

Sebuah Ingatan Singkat Di Masa SMA

Bangku Sekolah

Bangku Sekolah

Sebuah foto yang menjadi salah satu bagian cerita dalam dunia pendidikan SMA. Tiba-tiba saja hari ini tak sengaja menemukan foto tersebut di tumpukan file yang tidak rapi (belum sempat merapikan) di library Leno. Akhirnya mengingat sedikit memori high school yang sudah lewat 6 tahun lebih lamanya.

Jadi ingat ketika di kelas satu saya harus sedikit menampakkan sikap premanisme kepada salah satu teman sekelas. Tidak menghajarnya memang, hanya menggertak karena dia membuat hasil  belajar ulangan sosiologi saya harus diulang karena entah mengapa guru sosiologi saat itu memutuskan untuk melakukan tes (saat itu namanya ulangan) ulang. Kata teman-teman lain karena kawan sekelas saya itu mengadukan sesuatu yang tidak baik mengenai hasil ulangan yang diperoleh teman-teman dari kelas lain, yang pada akhirnya ulangan tersebut kembali dilakukan untuk semua kelas. Kesal karena harus mengulang ulangan yang hasilnya sudah maksimal, jadilah saya ‘melabrak’ kawan sekelas saya itu. Tapi pada akhirnya saya menyesal karena harus melakukan pemukulan terhadap bangkunya. Pertama, telapak tangan menjadi sakit. Kedua, bukan masalah ulangan tersebut dilakukan kembali karena hasil ulangan kedua saya juga tak berbeda dari ulangan pertama, justru naik 2 poin… yang kalau naik 2 poin lagi menjadi nilai ulangan sempurna. Dan sebagai rasa penyesalan, saya sudah kok menghaturkan maaf pada kawan sekelas saya itu. Kalau harus mengingat lagi kejadian di hari Jumat tersebut saya merasa diri saya saat itu terlalu liar 😛

Di kelas dua SMA, tak banyak yang saya ingat. Satu-satunya memori yang paling kuat adalah kelas 2 SMA adalah masa SMA terburuk. Bukan karena saya memiliki masalah dengan nilai-nilai sekolah, melainkan karena saya berada di kelas yang sama sekali tidak saya inginkan. Lebih tepatnya berada pada program studi yang tidak menjadi preferensi saya. Keputusan (almh) Mami mutlak bahwa program studi saya di kelas 2 & 3 SMA adalah ilmu alam. Sebuah keputusan yang sebenarnya sangat ingin saya bantah, tetapi tidak bisa terucap dengan kata-kata….Ah, selalu saja tak bisa menolak apa yang    beliau perintah.  Maka, kelas 2 SMA saya tidak punya cerita apa-apa selain kelas, kantin, kelas, pulang. Satu momen yang menjadi pencerah suramnya masa kelas 2 SMA adalah saat Alessandro Del Piero menjebol gawang Jerman di semifinal World Cup 2006 dan akhirnya Italia menjadi juara di Piala Dunia 2006 setelah menang adu pinalti kontra Perancis 🙂

Lalu kelas 3…. Ahhh… ini kelas paling gila! Saya sudah tak lagi memusingkan program studi. Karena di pikiran saya saat itu “Tinggal setahun lagi, Mei! Setelah ini bisa pilih jurusan sesukamu!” (walau pada akhirnya tidak bisa 🙂 ) . Kelas 3 pun saya jalani dengan semangat penuh bersama teman-teman sekelas yang juga punya semangat untuk tujuannya sendiri-sendiri. Entahlah, rasanya Tuhan menempatkan saya pada sekumpulan bocah-bocah gila namun luar biasa di akhir pendidikan sekolah tinggi saya. Sekali lagi, butuh halaman tersendiri untuk menceritakan mereka, kawan-kawan kelas 3 SMA saya…

Belum genap satu dekade meninggalkan jaman SMA memang, tetapi paling tidak ada cerita tersendiri jika pikiran ini melayang ke masa putih abu-abu 🙂

Libur Yang Ditukar!

Semua orang yang bekerja pada orang lain harus patuh pada orang lain yang mempekerjakannya. Semua karyawan harus tunduk pada ketentuan perusahaan tempat ia bekerja. Itu memang sudah menjadi risiko yang harus diterima oleh sispapun yang sudah berkecimpung di dunia perkantoran, tetapi hanya berperan sebagai karyawan biasa.

Tapi bukankah ada undang-undang ketenagakerjaan yang mengatur tata cara bekerja dan mempekerjakan?

Kalau bicara mengenai undang-undang mungkin terlalu berat, tapi setidaknya ada rasa saling mengerti antara karyawan dengan perusahaan. Bukannya henda kmelakukan protes atau mungkin bahasa orang kator ‘mengkonfrontasi’, melainkan hanya kurang setuju dengan sikap perusahaan yang main tukar hari libur resmi dari Pemerintah.

Sudah lebih dari sekali saya dituntut untuk menghabiskan waktu libur nasional dengan menyelesaikan pekerjaan yang bukan salah saya pekerjaan tersebut menumpuk sehingga harus ada yang namanya kerja di tanggal merah. Memang ada uang lembur yang diterima, tetapi mengganti tanggal merah dengan uang lembur tidak selalu menjadi pilihan utama. Tanggal Merah itu lebih penting dari uang lembur sekalipun.

Terus terang saja, sejak Natal tahun lalu planning yang saya susun untuk menggunakan waktu libur nasional selalu dikacaukan oleh kebijakan perusahaan yang menurut saya sama sekali tidak bijak. Karena pemeritahuan tersebut selalu saja mendadak. Besok tanggal merah, hari ini pengumuman untuk masuk kerja di tanggal merah esok. Ada pula ketentuan menukar hari libur. Libur nasional yang harusnya jumat dengan gampangnya dirubah menjadi sabtu. Kenapa harus diubah-ubah coba?

Mungkin lebih enak memang mengubah hari libur yang harusnya jumat menjadi sabtu supaya waktu libur menjadi lebih panjang dan jam kerja jauh lebih efektif, tapi setidaknya pemberitahuan hal tersebut tidak dilakukan secara mendadak. Harus ada sosialisasi dan komunikasi dari atasan jauh-jauh hari sebelumnya. Minimal seminggu sebelumnya lah!

Kalau sudah tukar-menukar hari libur nasional begini, yang susah adalah karyawan yang punya rencana di tanggal merah seperti saya. Undang-undang memang sudah menegaskan bahwa tidak ada kewajiban bagi seorang pekerja untuk masuk kantor saat hari libur nasional, tapi masalahnya kantor ini nakalan! Liburan dipindah hari, supaya karyawannya tetap masuk. Kalau tidak, ya potong gaji…. padahal kan tanggal merah…jadi kalau tak masuk harusnya tak ada istilah pengurangan gaji sehari bukan?

Entah apa maksud kantor yang hobi sekali tukar-menukar jadwal libur nasional. Sekalian saja nanti pas tanggal merah lebaran dituker juga liburnya!

Sama sekali tak ada maksud untuk melanggar atau membantah ketentuan atasan.Hanya saja di hari libur besok saya benar-benar ada keperluan yang tidak bisa ditunda. Mana bisa pindahan ditunda? Mindah barangnya dari luar kota pula! Dan rencana ini sudah ada jauh sebelum pemberitahuan yang tiba-tiba merusak suasana hati saya pagi tadi!

Ah… inilah nasib kaum buruh. Tidak punya wewenang untuk menentukan nasib. Mengadu sudah, tapi hanya dianggap angin lalu dan selalu ditangkis dengan berbagai argumen khas manajemen perusahaan. Jadilah, bertukar hari libur nasional tetap berlangsung (dan saya tetap libur sebagaimana kalender yang ditetapkan Pemerintah). Berharap tidak ada lagi tukar jadwal libur seperti ini!

Cerita Tentang Rumah

Tidak disangka ternyata kakak saya juga manusia sosial yang mengerti kondisi sekitar. Punya sisi sentimentil yang sama sekali tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Tiba-tiba saja menugaskan adik-adiknya untuk mempersiapkan ‘something‘ sebagai kenang-kenangan untuk tetangga di tempat tinggal kami saat ini. Rumah yang  sebenarnya memang sudah bukan milik keluarga saya, tetapi pemilik barunya sangat berbaik hati mengijinkan barang-barang kami bertahan di sana hingga renovasi rumah baru kami selesai. Karena pekan ini Insya Allah, barang-barang tersebut dipindahkan ke rumah baru maka otomatis itu berarti saya dan keluarga sudah bukan lagi warga perumahan yang selama ini menjadi lingkungan hidup kami.

Mungkin karena almh.Mami termasuk salah satu selebritis ( 😉 ) di perumahan, sehingga cukup banyak tetangga yang akrab dengan keluarga, ada rasa aneh tersendiri ketika saya harus menyiapkan ‘something‘ yang kakak saya perintahkan. Dalam tujuh tahun terakhir,semenjak menginjak masa Mahasiswa, saya memang jarang pulang. Namun pada saat itu pikiran ini masih dipenuhi bahwa di sanalah rumah saya. Tempat saya menghabiskan waktu anak-anak. Tempat saya menghabiskan masa libur kuliah. Dan setidaknya saya punya tempat untuk pulang. Setelah ini, rumah itu bukan lagi tujuan kalau saya berpikiran untuk pulang. Rasanya…sedih.

Jadi bingung juga ketika harus merangkai kalimat pada selembar kertas yang akan menjadi semacam kartu ucapan perpisahan untuk tetangga sekitar. Tiba-tiba saja mata saya harus berkaca-kaca gara-gara mengingat bahwa saya akan meninggalkan rumah yang memberikan warna-warni kisah nyata kehidupan selama 19 tahun terakhir. Mungkin tak kalah harunya seperti Alessandro Del Piero yang harus putus kontrak dari The Old Lady setelah 19 tahun pengabdian 😥

But, Live must goon. MUST!

Karena itu semoga saja pemilik baru rumah kami bisa merangkai cerita hidupnya sendiri yang (semoga) lebih baik dari pemilik rumah sebelumnya, tapi bukan berarti rumah itu memberikan cerita tidak baik kepada saya…Karena sesungguhnya setiap rumah akan berkisah indah untuk setiap penghuninya.

Buku

Eh..kamu beli buku penelitian yang pengarangnya Mr.S dong

Pernyataan yang saya sampaikan via SMS pada adik Saya, yang dijawab dengan

Ngapain beli, aku cari di perpus dulu. Hehehehe

Ini lagi bedanya si dedek dengan saya. Kalau saya, buku & materi kuliah sudah pasti saya miliki sejak pertama kali harus mengikuti kelas tersebut,baik dalam bentuk hardcopy maupun softcopy. Asli, bajakan, atau sekedar fotocopy. Tak semua judul buku dan literatur saya miliki memang, tetapi setidaknya ada satu atau dua buku.

Sedangkan adik saya, tak tahu bagaimana caranya menghabiskan waktu dalam dunia perkuliahannya. Tak tahu juga kemana buku-buku kuliahnya selama ini. Kalau adik saya memang niat dengan buku-buku kuliahnya, saya yakin bahwa dia punya buku yang dibutuhkan untuk mengerjakan skripsinya. Tapi bagi saya si dedek terlalu dermawan dengan meminjamkan buku-bukunya entah pada siapa atau hilang. Bahkan ketika saya hendak meminjam sebuah ATLAS yang baru saya belikan dan belum genap 3 bulan usianya, jawaban si adek adalah “dipinjem” -__-

Sekarang, ketika saya menyuruh membeli sebuah buku yang menjadi salah satu dasar pengerjaan Skripsinya,jawabannya adalah “pinjem perpus aja”. Memang, perpustakaan kampus menyediakan buku-buku teori yang bisa dipinjam mahasiswanya, tetapi saya tak yakin adik saya pernah melakukannya. Pernah sih sekali dia ke perpus kampus saya untuk meminjam sebuah judul buku, tapi itu karena perintah dosen!

Fiiuuhh…. jadi sekarang masalahnya adalah buku. Google Book memang menyediakan jutaan judul buku, tapi males banget baca materi via Google Books. Ada juga menjelajahi dunia maya lainnya ketimbang membaca sebuah materi, Ngeblog salah satunya 😉

Pernikahan Dini

Pernikahan itu adalah ikatan antara dua anak manusia. Pernikahan juga didefinisikan sebagai menyatunya sepasang individu sebagai suami dan istri. Satu-satunya hubungan intim yang memiliki dasar hukum dan diakui oleh negara dengan adanya buku nikah. Banyak hal yang membuat orang memutuskan untuk melakukan apa yang dinamakan pernikahan itu. Entah didasari oleh cinta, menjalankan sunnah sebagai ibadah, atau bahkan terpaksa dengan alasan yang berbeda-beda. Ada lagi hal yang menjadi alasan bagi sebagian orang untuk menjalin ikatan pernikahan; pertaanyaan “Kapan kawin” dari orang-orang sekitar jika kita sudah berada pada usia yang menurut mereka sudah seharusnya memiliki suami atau istri.

Akhirnya dari berbagai alasan tersebut, pernikahan antar manusia satu dan yang lain kadangkala terasa terlalu cepat. Terlalu terburu-buru memutuskan. Tanpa memiliki pandangan tentang apa yang harus dilakukan setelah status pernikahan itu datang.

Menikah tidak hanya sekedar mengikuti sunnah Rasul. Menikah tidak hanya sekedar punya anak. Menikah tak hanya karena cinta. Dan tentu saja menikah tak hanya status semata.

Hubungan pernikahan itu tak seindah dan semudah kata orang!

Seorang wanita yang sudah siap untuk menikah itu berarti dia harus siap mengabdi pada laki-laki yang menjadi suaminya. Harus melakukan apapun yang menjadi suaminya. Perkataan suami adalah aturan yang wajib dipatuhi. Tidak harus pintar memasak, mencuci & menyetrika baju, mengepel lantai, menyapu rumah atau bersih-bersih (karena istri bukan pembantu), tetapi seorang perempuan yang sudah memutuskan untuk masuk ke dalam lingkup pernikahan mutlak menjadikan hidupnya sebagai hidup si suami. Dan jika seorang wanita karir menikah, ia harus mengikuti apa keputusan suami. Bagus jika suami memberi ijin untuk berkarir. Tapi kalau tidak, berarti habislah karirnya! Lalu harus tinggal dengan suami, dan jika hidup serumah dengan keluarga suami maka seorang istri harus tahu diri. Harus bisa menempatkan dirinya diantara keluarganya yang baru dan tentu saja harus ikut mengurus rumah keluarga suaminya. Sangat tidak tahu malu bagi seorang perempuan yang tinggal serumah dengan keluarga suaminya, tetapi tidak mau membantu pekerjaan rumah. Bangun siang. Tidak ikut memasak, tapi ikut makan. Tidak menyapu rumah. Dan bahkan tidak bergaul dengan anggota keluarga. Sekali lagi, seorang istri memang tak melulu harus berprofesi sebagai housewife, tapi bukan berarti tak pernah memegang gagang sapu bukan (saya saja pernah, untuk mengusir kucing)?

Entah bagaimana deskripsi yang tepat tentang seorang istri karena saya masih belum punya pengalaman. Memikirkannya saja sudah ketakutan, bagaimana bisa berpengalaman? Tapi menurut saya setidaknya begitulah posisi seorang perempuan yang sudah mau menjadi seorang istri.

Laki-laki sendiri, jika memutuskan untuk menjadi suami saya sarankan untuk berfikir masak-masak. Sama halnya dengan perempuan, menikahi anak gadis orang sama halnya dengan menjadikan hidupnya sebagai hidup sang istri. Dan sebagai laki-laki, tanggung jawabnya pada sebuah ikatan pernikahan itu jauh lebih berat. Semua hidup istri adalah tanggung jawabnya. Simpelnya adalah nafkah! Biaya makan, biaya minum, biaya jalan-jalan ( 🙂 ), biaya minum kopi ( 🙂 ),biaya beli lipstik ( 😛 ), biaya beli bedak ( 😉 ), biaya pulsa, biaya sekolah, dan apapun yang menjadi KEBUTUHAN istri. Cinta perlu gak sih? Perlu memang, tapi tak hanya untuk diikrarkan sebagai syarat. Mau nikahin anak gadis orang tapi tak bisa bertanggung jawab untuk menghidupinya? Uhhh! Lebih dari itu, menjadi suami tak melulu hanya karena materi; tetapi bagaimana menjadi kepala keluarga yang dibentuknya. Punya tujuan yang jelas mau dibawa kemana keluarganya. Harus tahu arah untuk keluarganya. Dan kalau seorang laki-laki sudah memutuskan untuk menikah, maka tanggungjawab orang tua kepadanya sudah berakhir! Tak boleh lagi ada asupan dan suply. Orang tua memang tidak mungkin membiarkan anak mereka kesusahan, yahh..namanya juga orang tua. Tapi sebagai anak laki-laki yang sudah menikah, sudah sewajarnya dan harus berhenti untuk minta-minta pada orang tua. Mau rumah, mau henpon, mau motor, mau mobil, mau apapun… beli sendiri dong, tak ada lagi hak untuk meminta pada orang tua! Kalau masih meminta, kenapa menikah?

Iya, pernikahan itu penting. Penelitian ilmiah juga menyebutkan bahwa ikatan pernikahan setidaknya bisa mengurangi gangguan psikologis seseorang. Banyak hal positif yang bisa didapatkan dari hubungan pernikahan. Menikah juga pahala. Tapi menikah terlalu dini =  masalah.

P.S: Bukannya tak mau menikah, hanya butuh waktu.

Sebuah Kritik Untuk Saya

Beberapa hari lalu saya dan teman-teman seprofesi mendapatkan sebuah amplop yang berisikan 3 lembar kertas HVS yang sudah dicoreti dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan yang berkaitan dengan kinerja beserta tetek bengeknya. Tugas saya adalah menuliskan jawaban dari semua pertanyaan tersebut. Saya lakukan. Saya tuliskan jawaban sesuai dengan apa yang saya pikirkan, saya alami, dan saya rasakan.

Semua jawaban itu murni tanpa paksaan. Dari hati. Dari mata. Dari pikiran.

Hari ini salah satu atasan memanggil saya. Membicarakan apa yang saya tuliskan di atas kertas tersebut. Panjang lebar kami berbicara. Yang kemudian, ketika saya bertanya

Apa tulisan saya itu terlalu frontal?”

jawaban yang saya terima adalah “Iya

🙂

Yaaa…mau bagaimana lagi, memang begitu cara saya menulis, Pak! 

Si mas atasan menambahkan bahwa sebenarnya saya bisa memperhalus jawaban yang saya tuliskan itu, supaya tidak terkesan saya sedang melakukan pemberontakan. Supaya tak ada persepsi konfrontasi dari guratan pensil saya itu.

Senyum simpul saya berikan sebagai respon atas kritikan si bos terhadap tulisan saya tersebut. Secara pribadi, saya tetap merasa tidak salah karena memang itu jawaban saya atas pertanyaan yang diajukan oleh manajemen.

Tapi saya menyadari sebenarnya saya memang bisa memperhalus kalimat-kalimat yang menurut beliau frontal atau bahkan mungkin liar ( 😉 ). Hanya saja     kadang-kadang tulisan yang lemah lembut cenderung tidak mendapat tanggapan dari pihak atas bukan? Ibaratnya pemerintahan… pemerintah tak akan tahu bahwa rakyatnya masih mengkonsumsi nasi aking jika tak ada orasi di depan istana negara.

Bukannya tak mau menerima kritikan… saya selalu menerima kritikan, tetapi tidak dengan mudah tentunya. Harus ada dasar yang kuat, barulah saya terima.

Okelah..kalau memang tulisan saya terlalu frontal, lain kali saya tidak akan menulis lagi. Kalau memang mulut saya terlalu liar, saya tak akan berkata-kata lagi. Tapi yang jelas tak ada niatan sedikitpun dari saya untuk melakukan konfrontasi pada siapapun. Kalau seseorang merasa terkonfrontir dengan tulisan saya, itu masalah individu masing-masing.

Terimakasih sudah mengingatkan saya, Bos. Itu artinya si bos perhatian & sayang pada saya.Maaf kalau memang jawaban yang saya tuliskan itu tidak berkenan dan tidak sesuai harapan perusahaan. 

Lain kali jika perusahaan kembali menyodorkan pertanyaan untuk dijawab dengan tulisan, saya akan menjawab seperti yang mas bos minta. 

P.S: Untuk seorang teman yang pernah mengatakan bahwa tulisan saya frontal & menyukainya…..Apa kamu merasa terkonfrontasi dengan tulisan saya? 

Pelan-Pelan Saja

Membuat skripsi,tesis, dan apapun yang berbau karya ilmiah sudah biasa saya lakukan. Tidak terlalu sukar. Biasa aja. Tinggal cari bahan,lalu bercumbu dengan MS Word selama dua malam. Selesai sudah sebuah proposal.

Menyelesaikan naskah sendiri tidak berpengaruh apapun. Biasa aja. Tapi ini, hanya merancang sebuah proposal skripsi sederhana untuk si dedek aja pusingnya campur nervous dan deg-degkan. Ada sebuah kecemasan tersendiri yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata . Bingungnya mengalahkan pengerjaan naskah skripsi sendiri. Heboh juga melakukan diskusi dengan si dedek mengenai metode penelitiannya.

Saat saya menyuruhnya untuk memilih beberapa metode penelitian yang berhubungan dengan tema penelitiannya, jawabannya adalah “Emang bedanya apa, Mei?” -__- Yahhh…

Saya terlalu heboh sepertinya. Over excited terhadap penelitiannya.

Ketika dengan semangat saya menemukan sebuah judul, dia tersenyum sumringah. Cuma senyum sambil bilang “sip”. Lalu saat saya sudah sampai metode penelitiannya, dia baru bertanya “apa bedanya semua metode penelitian yang saya sampaikan”.

Sekali lagi, saya dibuat heran sembari berpikir “kok bisa sih”.

Ya sudah pelan-pelan saja…asal selesai.

Antara Keluarga Presiden Dengan Keluarga Kerajaan

Sore tadi ketika berita di televisi mengabarkan bahwa kantor Sekretaris Negara (SetNeg) terbakar, sebuah monolog terlontar dari kawan seatap saya saat ini;

Beneran deh… cerita keluarga Presiden kita sekarang ini mirip banget sama cerita Princess Hours. Putra Mahkotanya itu loh… kena masalah terus. Iya loh, Mei… coba deh liat. Mulai kasus korupsi, sampe terus sekarang salah satu gedung negara kebakaran. Princess Hours kan gitu… Putra Mahkotanya kena masalah terus. Terus endingnya, salah satu istananya kebakaran kan? Tapi kebenaran itu pasti terungkap kok, Mei… Iya Kan..Berarti sebentar lagi kasus keluarga Presiden selesai. Tamat. Masalah selesai”

Dan entah kenapa monolognya itu harus menghubungkan antara keluarga Presiden SBY dengan keluarga kerajaan ala serial Korea Princess Hours? Korelasinya dimana ya??? 😛

Dimulai dari berita gedung SetNeg yang kebakaran, lalu mengarah pada cerita salah satu drama dari negeri gingseng. Saya hanya bisa calangapan…. Lalu terkikik sendiri.

Tapi kalau memang benar kisah keluarga Presiden RI saat ini serupa dengan jalan cerita Princess Hours, baguslah. Kasian Pak SBY… kantung matanya sudah semakin jatuh.

Semangat deh Pak…. seperti kata kawan saya di atas bahwa kebenaran pasti terungkap.

The End of Dualisme, Is That True?

Ada apa sih dengan PSSI? Bukankah beberapa waktu lalu sudah ada Kongres Luar Biasa yang menghapuskan dualisme TimNas? Terus kenapa masih banyak komentar yang tidak baik dari masyarakat?

Ini yang membuat saya tidak punya chemistry dengan TimNas. Iya, tak tahu siapa daftar pelatihnya. Tak tahu siapa saja pemainnya. Tak hafal club-clubnya. Dan mungkin ini yang dinamakan kuman diseberang samudera tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Gajahnya terlalu besar sih, jadinya repot sendiri harus mengamati sisi apanya. Jadilah tak banyak tahu akan si ‘gajah’.

Bukannya tidak peduli, hanya tak punya rasa tertarik saja. Saya mendukung Garuda kok. Selalu mengharapkan yang terbaik untuk TimNas. Siapa sih yang tidak bangga jika negaranya memiliki prestasi? Saya juga punya impian bahwa suatu saat Indonesia bisa menjadi salah satu Tim Kesebelasan hebat di dunia. Piala Dunia harus bisa dicicipi oleh TimNas. Tak tahu kapan, tapi setidaknya saya punya harapan untuk itu.

Ayo dong…jangan kisruh-kisruh terus. Dualisme TimNas, benarkah sudah berakhir? Kalau memang sudah, yuk kita sama-sama mendukung dan berharap yang terbaik untuk TimNas. Sangat berharap supaya dualisme benar-benar berakhir dan pertandingan melawan Arab Saudi bisa menjadi salah satu cara untuk membuktikan bahwa Garuda hanya punya satu TimNas!