Ketika Aliran Listrik Padam


Dua hari terakhir aliran listrik di rumah padam. Hanya rumah kontrakatan saya. Dan itu benar-benar menyiksa. Tidak adaaliran listrik. Tidak ada nyala lampu. Tidak ada suara TV. Tidak ada waktu lama untuk main-main dengan leptop. Bahkan hanya untuk mandi susahnya minta ampun. Gelap gulita, lebih gelap daripada goa Gong yang saya masuki.

Rasanya dua hari terakhir itu benar-benar jauh dari yang namanya kehidupan. Ditambah lagi saya adalah satu-satunya manusia yang sedang berada dirumah. Satu orang pulang kampung, satunya lagi jalan-jalan dengan pacar. Dan saya mendekam di dalam kamar seorang diri. Laptop memang menyala, tetapi tak lebih dari satu jam karena kehabisan daya. Setelah satu jam semuanya benar-benar padam.

Lalu akhirnya saya menangis. Ahhh…. saya sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba air mata menetes dengan derasnya. Bukannya saya takut kegelapan,karena toh saya bisa menggunakan senter atau headlamp sebagai sumber penerangan. Tidak ada cerita takut setan juga, karena kata dukun kosan lama setanlah yang takut pada saya.

Hanya saja saat itu saya menginginkan berada di antara kedua orang tua. Ingin di rumah saja, karena kalau kondisi listrik mati ini terjadi di rumah maka saya tidak perlu sendirian dan orangtua lah yang akan menyelesaikan masalah listrik padam ini. Papi yang berurusan dengan PLN, Mami yang menyalakan lilin sebagai penerangan sementara di rumah sembari membuat teh manis untuk siapapun yang ada di rumah. Itulah yang saya inginkan. Tapi kemudian saya menyadari bahwa meskipun mati listrik pada saat ini terjadi di rumah, tidak akan ada lagi lilin yang menyala tanpa perlu saya yang menyalakannya dan tentu saja tak ada segelas teh manis buatan Mami. Sebuah kenyataan yang akhirnya membuat air mata saya semakin deras mengalir ke luar.

Semakin mewek karena satu-satunya orang yang saya harapkan bisa menemani kondisi gelap saya hari itu pergi entah kemana. Katanya sih ada kerjaan di kantor, tapi kemudian mengatakan sedang dalam perjalanan menuju kampung halaman kawan kosnya, tetapi dari salah satu kawan…saya mengetahui adik saya itu sedang dalam perjalanan menuju Situbondo, pulang ke rumah entah dengan siapa. Sebenarnya bukan alasan kemana dia pergi dan dengan siapa yang membuat saya kecewa, melainkan sikapnya yang tak jujur pada saya. Apa insiden lupa ngeces baterai kamera yang saya lakukan membuat dia harus membalas dendam dengan cara berbohong pada saya? Ini memang bukan kali pertama saya dikibuli si dedek, sudah biasa….hanya saja saat itu suasana hati saya sedang tidak baik,sehingga terlalu sensitif  jika disenggol dengan sesuatu yang tidak baik.

Intinya adalalah saya benar-benar tidak suka keadaan dimana aliran listrik tidak ada. Gelap.Tidak bisa melakukan apapun dengan leluasa, bahkan dengan indra penglihatan yang sempurna sekalipun. Puji syukur kepada Tuhan karena selain anugrah mata yang luar biasa ini, saya dihidupkan di suatu masa yang memiliki aliran listrik. Terimakasih sangat, Ya Allah…. Mungkin kondisi gelap gulita kemarin juga  sebuah sentilan Tuhan bahwasanya dunia yang terang benderang itu perlu disyukuri dengan tidak bermalas-malasan (apalagi di akhir pekan) karena ketika gelap kita tak akan dengan mudah melakukan apapun bahkan sekedar untuk beranjak dari tempat tidur.

Semoga saja aliran listrik di rumah yang tak berfungsi selama dua hari terakhir bisa kembali normal hari ini. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s