Hanya Frasa Dalam Bahasa Orang Tua


Sore ini. Sama seperti sebelumnya, beberapa pekan terakhir langit Surabaya sedang enggan untuk tersenyum. Mendung gelap, lalu hujan deras. Saya  sedang bermain dengan cucu emak depan rumah,  lalu emak berkata:

Mbak, lampune sumuten. Biar terang

Saya dengan respon cepat hanya melongo sambil berkata “Hah?”

Sebuah respon yang sangat kurang sopan terhadap orang tua ( 😛 ).

Ingin sekali saya mengatakan pada si ibu “Disumut pake apa, bu? Gimana caranya nyumut lampu? Memangnya saya pake lampu templok yang sumbunya perlu disulut dengan api?”

Secepat datangnya pikiran itu, perginya juga sangat cepat lalu berganti dengan senyum simpul sekaligus anggukan kepala. 

Lalu saya menuruti perkataan emak dengan untuk menyumut lampu di rumah.

Ah, bahasa… selalu saja memunculkan kelucuan yang tidak terduga. 

Bagi saya ‘menyumut’ adalah menyalakan sumber cahaya dengan menggunakan korek. Kalau saja saya benar-benar melakukan apa yang dikatakan emak sesuai pendapat saya maka habislah sudah rumah kontrakan ini. Benar-benar tersumut oleh kobaran api 😛

Tapi saya tahu maksud si emak adalah supaya saya menghidupkan lampu. ‘Sumuten’ adalah sebuah kata bahasa Jawa yang artinya ‘nyalakan’, yang bagi dalam konteks menyalakan dengan menggukan korek api. Tapi bagi emak dan mungkin mayoritas penduduk seusianya di lingkungan ini berarti menyalakan lampu. Seperti asimilasi bahasa mungkin. Menggunakan bahasa daerah dengan denotasi bahasa. 

Buat saya apa yang emak katakan tidaklah lebih eksterm daripada apa yang biasanya simbah putri saya katakan saat menyuruh saya menghidupkan lampu. Mbah Putri yang memang sudah tidak muda lagi selalu saja berkata “Bakar lampunya, nak!”

Masya Allah… kalau benar-benar harus membakar lampu yang dialiri arus listrik, apa jadinya coba? 😀

Sebuah kesalahan frasa oleh orang tua. Sebagai orang muda yang mengerti saya rasa tidak perlu berdebat untuk mengoreksi kesalahan mereka. Gak asik juga adu mulut dengan nenek-nenek! Paling tidak kita tahu bahwa bahasa mereka tidak tepat, dan kita masih memiliki rasa hormat. Sebagai pembelajaran juga kalau nanti di saat tua tidak boleh berbahasa seperti nenek-nenek kita 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s