Libur Yang Ditukar!


Semua orang yang bekerja pada orang lain harus patuh pada orang lain yang mempekerjakannya. Semua karyawan harus tunduk pada ketentuan perusahaan tempat ia bekerja. Itu memang sudah menjadi risiko yang harus diterima oleh sispapun yang sudah berkecimpung di dunia perkantoran, tetapi hanya berperan sebagai karyawan biasa.

Tapi bukankah ada undang-undang ketenagakerjaan yang mengatur tata cara bekerja dan mempekerjakan?

Kalau bicara mengenai undang-undang mungkin terlalu berat, tapi setidaknya ada rasa saling mengerti antara karyawan dengan perusahaan. Bukannya henda kmelakukan protes atau mungkin bahasa orang kator ‘mengkonfrontasi’, melainkan hanya kurang setuju dengan sikap perusahaan yang main tukar hari libur resmi dari Pemerintah.

Sudah lebih dari sekali saya dituntut untuk menghabiskan waktu libur nasional dengan menyelesaikan pekerjaan yang bukan salah saya pekerjaan tersebut menumpuk sehingga harus ada yang namanya kerja di tanggal merah. Memang ada uang lembur yang diterima, tetapi mengganti tanggal merah dengan uang lembur tidak selalu menjadi pilihan utama. Tanggal Merah itu lebih penting dari uang lembur sekalipun.

Terus terang saja, sejak Natal tahun lalu planning yang saya susun untuk menggunakan waktu libur nasional selalu dikacaukan oleh kebijakan perusahaan yang menurut saya sama sekali tidak bijak. Karena pemeritahuan tersebut selalu saja mendadak. Besok tanggal merah, hari ini pengumuman untuk masuk kerja di tanggal merah esok. Ada pula ketentuan menukar hari libur. Libur nasional yang harusnya jumat dengan gampangnya dirubah menjadi sabtu. Kenapa harus diubah-ubah coba?

Mungkin lebih enak memang mengubah hari libur yang harusnya jumat menjadi sabtu supaya waktu libur menjadi lebih panjang dan jam kerja jauh lebih efektif, tapi setidaknya pemberitahuan hal tersebut tidak dilakukan secara mendadak. Harus ada sosialisasi dan komunikasi dari atasan jauh-jauh hari sebelumnya. Minimal seminggu sebelumnya lah!

Kalau sudah tukar-menukar hari libur nasional begini, yang susah adalah karyawan yang punya rencana di tanggal merah seperti saya. Undang-undang memang sudah menegaskan bahwa tidak ada kewajiban bagi seorang pekerja untuk masuk kantor saat hari libur nasional, tapi masalahnya kantor ini nakalan! Liburan dipindah hari, supaya karyawannya tetap masuk. Kalau tidak, ya potong gaji…. padahal kan tanggal merah…jadi kalau tak masuk harusnya tak ada istilah pengurangan gaji sehari bukan?

Entah apa maksud kantor yang hobi sekali tukar-menukar jadwal libur nasional. Sekalian saja nanti pas tanggal merah lebaran dituker juga liburnya!

Sama sekali tak ada maksud untuk melanggar atau membantah ketentuan atasan.Hanya saja di hari libur besok saya benar-benar ada keperluan yang tidak bisa ditunda. Mana bisa pindahan ditunda? Mindah barangnya dari luar kota pula! Dan rencana ini sudah ada jauh sebelum pemberitahuan yang tiba-tiba merusak suasana hati saya pagi tadi!

Ah… inilah nasib kaum buruh. Tidak punya wewenang untuk menentukan nasib. Mengadu sudah, tapi hanya dianggap angin lalu dan selalu ditangkis dengan berbagai argumen khas manajemen perusahaan. Jadilah, bertukar hari libur nasional tetap berlangsung (dan saya tetap libur sebagaimana kalender yang ditetapkan Pemerintah). Berharap tidak ada lagi tukar jadwal libur seperti ini!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s