Rencana Jalan-Jalan Ke Kuburan


Sebuah tugas dari kantor untuk mengurusi acara wisata kantor, atau pak Bos menyebutnya dengan tadabur alam. Ketika kata ‘tadabur alam’ meluncur dari mulut Pak Bos, pikiran ini langsung melayang ke salah satu kawan yang sangat kemplo..Aisyah Caca Kemplo! Langsung mengingat pernyataannya akhir tahun lalu “Habis pengajian, pasti tadabur alam…Mei”.

Lalu terjadilah. Tadabur alam. Ahhh….Kutukan Kemplo berlanjut. Sebuah tugas disematkan oleh bos besar kepada beberapa karyawan perempuannya untuk mempersiapkan acara tadabur alam yang akan digelar akhir bulan ini. Oh..God.. Suka sih dengan acara jalan-jalannya… tapi benar-benar tidak tahu harus membuat konsep jalan-jalan yang seperti apa. Masalahnya bukan tidak bisa, hanya bingung saja. Membuat konsep ‘jalan-jalan’ tapi bertema religi karena selama ini kegiatan jalan-jalan yang selalu saya lakukan ya jalan-jaalan saja. Naik transportasi, lalu sampai tempat tujuan…liat-liat… poto-poto… makan.. sesekali membeli oleh-oleh. Gak ada yang namanya konsep-konsepan. Konsepnya harus bersifat religi lagi. Aduh… tanggung jawabnya dobel dong yaaa.. tanggung jawab sama si Bos dan sama Tuhan.

Jalan-jalannya sih oke..tapi buat saya gak oke karena harus pakai acara konsep-konsepan. Jalan-jalan kok di konsep ya? Konsepnya harus religi pula…Tujuannya kuburan pula. Iya kuburan..atau mungkin lebih halusnya makam.

Tambah stress lagi ketika mengetahui tujuan wisatanya adalah makam.

Memang sih ada sunnah yang mengajarkan untuk sesekali berziarah ke kuburan. Maksudnya supaya manusia yang masih hidup menyadari bahwa pada akhirnya semua mahkluk akan mati dan hanya menyisahkan dirinya di dunia dalam bentuk pusara. Tapi kalau hanya untuk menngingatkan manusia akan kematian, tak melulu harus ke makan wali bukan? Datang saja ke Pemakaman Umum. Saya, bisa datang ke makam Mami. Toh sama-sama kuburannya! 

Itu sih pikiran awal. Setelahnya… why not? Toh hanya sekedar jalan-jalan bukan? Terserah nanti niatan yang lainnya mau seperti apa di tempat tujuan, kalau saya hanya ingin tahu saja bagaimana rupa makam wali yang kerap kali disambangi oleh manusia-manusia dari seluruh tanah air. Paling tidak saya bisa lebih tahu mengenai sejarah penyebaran agama islam di tanah Jawa. 

Tidak untuk meratap, menangis di samping makam, atau memohonkan sesuatu di depan makam. Definetely, not! Karena meratap, menangis, dan memohonkan sesuatu di pemakaman itu termasuk salah satu kelakuan yang mengarah pada perbuatan sirik. 

Itu pendapat saya sih. Subjektif sekali mungkin. Tapi sungguh, untuk apa menggunakan istilah ‘tadabur alam’ ke makam wali jika pada akhirnya hanya menangis dan meratap selama beberapa menit di samping makam, lalu setelahnya beramai-ramai mendataangi kios yang menjual sovenir khas makam wali tersebut? 

Jadi…semoga saya segera menemukan konsep yang pas untuk wisata religi yang akan dilakukan kantor. Supaya acara jalan-jalan ke kuburan tak lagi hanya untuk nangis-nangisan. Supaya fungsi religiusnya dapet, dan jalan-jalannya juga dapet. Apa fungsinya wisata kalo hanya untuk nangis-nangis?

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s