Relationships are So Complicated!


Malam itu, entah untuk yang ke berapa kalinya saya dan dua orang kawan menghabiskan seperempat waktu malam di sebuah kafe langganan kami. ‘Duduk’, istilah kami. Duduk sembari meneguk minuman kegemaran masing-masing. Cappucino ice untuk saya, cappucino hot untuk seorang kawan, dan kawan satunya selalu berganti-ganti pesanan, dengan alasan ingin mencoba saja.

Tapi malam itu, perbincangan kami tidak sama. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya yang hanya saling bertukar cerita atas aktivitas harian. Tiba-tiba saja malam itu kami membahas masalah ‘hubungan’. Iya, hubungan diantara sepasang anak manusia.

Saya mengawali topik itu dengan mengeluarkan pertanyaan, “Kenapa harus ada perselingkuhan?”

Lalu berbagai macam jawaban keluar dari kedua orang kawan saya ini. Panjang lebar dengan segala macam susunan persepsi. Tapi intinya satu, mereka sama-sama sepakat bahwa perselingkuhan itu adalah ‘hilaf seorang manusia’.

Benarkah demikian? Bagaimana dengan kejadian perselingkuhan yang diulang-ulang? Apa itu juga termasuk kategori hilaf? Apakah esensi dari mahluk yang bernama manusia hanyalah hilaf?

Kembali pada topik ‘hubungan’…. kenapa menjalin hubungan dengan orang itu begitu rumit ya? Katanya cinta, katanya sayang, katanya suka… tapi selingkuh.. tapi selalu marah-marah..tapi selalu membuat pasangannya menderita. Uuhhh… Rumit.

Tapi kemudian saya menemukan sebuah rangkaian kata yang berbunyi

π‘ͺπ’Šπ’π’•π’‚ 𝒔𝒍𝒂𝒍𝒖 π’”π’†π’•π’Šπ’‚ 𝒑𝒂𝒅𝒂 π’‰π’‚π’•π’Š, π’•π’‚π’Œ π’‘π’†π’…π’–π’π’Š 𝒃𝒆𝒕𝒂𝒑𝒂 𝒉𝒆𝒃𝒂𝒕 π’π’π’ˆπ’Šπ’Œπ’‚..Β  π‘»π’‚π’‘π’Š π’Œπ’‚π’Žπ’– 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒕𝒂𝒉𝒖 π’Œπ’‚π’‘π’‚π’ π’•π’–π’Œ π’ˆπ’–π’π’‚π’Œπ’‚π’ π’π’π’ˆπ’Šπ’Œπ’‚, π’‚π’ˆπ’‚π’“ π’‰π’‚π’•π’Šπ’Žπ’– π’•π’‚π’Œ 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒕𝒓𝒖𝒔 π’•π’†π’“π’π’–π’Œπ’‚.

Mungkin saat ini kalimat tersebut benar. Cinta itu bukan perkara logika. Tidak ada hubungannya pula dengan raga. Cinta itu masalah hati..HATI, bukan salah satu organ dalam manusia, melainkan sesuatu yang tak kasat mata, namun bisa dirasa. Itulah yang membuat seseorang berani untuk menciptakan suatu ‘hubungan’. Dan ketika ‘hubungan’ itu harus kandas, karam, kacau, rusak, berantakan lalu ada perselingkuhan, harusnya logika bisa menjadi senjatanya bukan? Tapi kemudian kembali lagi pada statement awal bahwa cinta itu lebih hebat dari logika. Karena itulah, masih belum ada titik terang dari perbincangan salah satuΒ  ‘kacau’ kami malam itu.

Ahh…hubungan itu memang rumit!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s