Sejuta Kisah Tentang Blitar (5)


Hei…cerita ke Blitar ternyata belum usai. Akhir pekan lalu, kawan seperjalanan saya kembali singgah ke Surabaya. Lalu, dia menuturkan perjalanan pulangnya dari Blitar.

Sebenarnya, saya dan kawan saya tidak pulang bersama. Kami berpisah jalan. Setelah leyeh-leyeh sekitar satu jam di serambi masjid besar Blitar dan membeli jajanan cilot, kami berpisah arah. Saya menuju stasiun kota Blitar, sedangkan kawan saya memutuskan untuk menggunakan jasa angkutan bus umum sebagai alat transportasi meninggalkan rumah Bung Karno. Ceritanya saya mendapatkan tiket pulang dengan menumpang kereta Penataran-Dhoho yang secara garis besar rutenya adalah Blitar-Kertosono-Surabaya. Sementara kawan saya berdomisili di Malang. Kalau saja tiket pulang yang saya miliki adalah tiket kereta Penataran, kami bisa saja pulang bersama. 

Oke..intinya adalah kawan saya pulang dengan bus. Untuk menaiki bus jurusan Malang, tentu saja harus menuju terminal atau jalanan besar tempat lewatnya bus. Dan letaknya tidak dekat dari alun-alun, khususnya bagi pengendara kaki. Dengan bekal GPS yang menjadi salah satu fitur ponsel smartnya, dia pun menapaktilasi jalanan yang kami lalui saat menuju alun-alun.

Tujuannya satu, kembali ke tempat angkutan carteran yang dengan baik hati mau mengangkut kami menuju alun-alun untuk mencari abang becak atau angkutan umum (yang beroperasi normal tanpa dicarter orang). Kawan saya tetap berjalan dengan santainya. Dia bilang sekitar 2 KM dari alun-alun, dia baru menemukan sebuah becak yang menganggur di tepi jalan. Tapi masalahnya, abaang becaknya terlihat sedang tidak berniat mengayuh. Akhirnya perjalanannya berlanjut. Hingga di suatu sudut jalanan yang dia sendiri juga tak tahu jalan apa namanya dan dikoordinat berapa pastinya, dia menemukan seorang abang becak yang bersedia mengantarkannya ke tempat menunggu bus jurusan Malang. 

Inilah susahnya di Indonesia… tak ada halte bus yang bisa menjadi penanda bahwa jalanan tersebut dilalui oleh bus yang bersangkutan. Kalaupun ada halte, fungsinya abstrak. Bahkan tak lebih sebagai spot tanpa guna selain sebaagai tempat berteduh saat hujan atau hunian para gelandangan. 

Lalu, entah bagaimana ceritanya kawan saya sudah berada di atas bus jurusan Malang. Dia mendeskripsikan bahwa badan bus itu kecil. Lebih kecil daripada bus kota yang biasanya beroperasi di Surabaya. Namun, karena sebelum menaiki bus dia mendengar pak kondektur berteriak-teriak ‘MALANG MALANG MALANG’, maka ditariklah suatu kesimpulan bahwa bus tersebut memang akan membawanya kembali ke kota Apel.

Busnya bagus. Ber AC pula. Dan dia tak perlu berdesakan. Singkat kata diapun terlelap. Menikmati kenyamanan berkendara dengan bus yang tak kami rasakan di saat keberangkatan. Beberapa jam kemudian…dia terbangun. Melihat seisi bus. Hasilnya, di atas bus hanya ada tiga gelintir orang. Bus dalam keadaan terparkir. Kawan saya semakin bingung saat mengetahui bahwa bus tersebut berhenti di sebuah tempat yang tidak dikenalnya. Bukan terminal Arjosari, sebagaimana tujuan awalnya. Karena masih tidak tahu dimanakah dia saat itu maka pertanyaan kepada seorang perempuan pun terlontar “Mbak, ini bisnya mau kemana ya?”

Si perempuan menjawab, “Mau ke Blitar, Mbak”

BODOH!! HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA

Saya tahu sekarang, sebenarnya kawan saya itu masih tidak ingin pulang. Dia masih ingin stay di Blitar! Pasti 😀

Tahukan kalian, saat itu dia tengah berada di terminal Gadang. Gadang memang merupakan wilayah administratif dari kota Malang, tetapi secara geografis letaknya jauh di sebelah utara kota Malang. Untunglah saat itu masih ada sebiji angkutan yang mau membawanya ke terminal Arjosari. Sebiji angkutan hasil tanya jawabnya dengan seorang ibu yang hendak pergi ke daerah Kacuk.

Karena itu kawan…berhat-hatilah..bagi kalian yang hendak keluar dari Blitar menuju Malang kota dengan perhentian terakhir terminal Arjosari, jangan sekali-kali naaik bus berbadan kecil plus ber AC. Karena bus tersebut hanya akan menurunkan kalian di terminal Gadang. Bagus kalau kondisi masih pagi, kalau malam hari seperti teman saya? HAHAHA… 

* Saat itu, di waktu yang sama, saya sedang tertidur lelap di atas gerbong kereta yang sempat delay selama satu jam. Dalam tidur saya melihat diri saya tersenyum. Senyum yang tak saya ketahui alasannya sebelum akhir pekan lalu 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s