Giornata 1 (2013-2014)

Pekan pertama musim 2013-2014.

Kontra Sampdoria, bertamu ke Luigi Ferraris dengan kondisi cuaca yang tidak bisa dibilang cerah, The Old Lady tetap dapat membukukan 3 poin pertama di musim ini. Sebiji gol yangdicatak Tevez memang masih jauh dari perolehan 3 gol pasukan kota Naples, tetapi setidaknya dendam musim lalu saat Juventus harus takluk dari Il Samp baik kandang maupun tandang bisa terbalaskan di musim ini. Sekaligus menghapus rekor Juve tak pernah bisa memetik poin kemenangan di kandang Sampdoria sejak 7 musim terakhir.

Cukup 1 biji gol untuk 3 angka.

Masih pekan pertama. Masih banyak jalan untuk tetap mempertahankan gelar juara. Masa iya kita bicara klasemen sementara di pekan pertama???? πŸ™‚

Overall, forza Juventus per sempre sara’!!

Grazie Amico

Grazie Amico

Alun-Alun

Di Alun-Alun Kota Situbondo

Di tengah Miniatur Kapal Layar. Salah Satu Icon kota Pesisir. Dulunya Tempat ini adalah rumah Pohon Ficus benjamina; dulu...jaman saya kecil.

Di tengah Miniatur Kapal Layar. Salah Satu Icon kota Pesisir. Dulunya Tempat ini adalah rumah Pohon Ficus benjamina; dulu…jaman saya kecil.

Salah Satu Spot yang Dulunya Monumen Pancasila. Ahhh... Semuanya Berubah...

Salah Satu Spot yang Dulunya Monumen Pancasila. Ahhh… Semuanya Berubah…

Act

Act

Kontrasnya Gaya Kakak & Adek :P Centilnya si adek....

Kontrasnya Gaya Kakak & Adek πŸ˜› Centilnya si adek….

:D

πŸ˜€

Keseragaman Langkah Anak & Ibu

Keseragaman Langkah Anak & Ibu

Road to Situbondo

Sedikit action di tengah perjalanan pulang ke Situbondo. Berhenti sejenak di alun-alun Kraksaan, Probolinggo, karena kakak ipar harus menunaikan shalat Jumat.Β 

Menunggu di Warung Es Degan

Menunggu di Warung Es Degan

Tante & Ponakan yang Sedang Berbagi Segelas Es Degan :)

Tante & Ponakan yang Sedang Berbagi Segelas Es Degan yang Sudah Kosong πŸ™‚

Nomer 2 & Nomer 4

Nomer 2 & Nomer 4

Satu-Satunya Cucu Lelaki Dalam Klad Keluarga Kami

Satu-Satunya Cucu Lelaki Dalam Klad Keluarga Kami

Umi & Anak Bungsunya

Umi & Anak Bungsunya

:D

πŸ˜€

Berbeda-Beda Tetapi Tetap Satu Jua :P

Berbeda-Beda Tetapi Tetap Satu Jua πŸ˜›

Hari Pertama Lebaran (@Waterpark)

Mereka yang berkecipak-kecipuk di kolam renang dekat rumah..

Kakek & Cucu-Cucunya. Sebuah potret kebersamaan yang tak saya lihat dalam kurun waktu satu tahun terakhir :)

Kakek & Cucu-Cucunya. Sebuah potret kebersamaan yang tak saya lihat dalam kurun waktu satu tahun terakhir πŸ™‚

Ponakan Pertama & Kedua. Ekspresi bahagia yang juga langka untuk bisa saya lihat.

Ponakan Pertama & Kedua. Ekspresi bahagia yang juga langka untuk bisa saya lihat.

Ponakan Ketiga & Keempat. Dua ponakan yang paling cerewet plus paling nuakaaallll :P

Ponakan Ketiga & Keempat. Dua ponakan yang paling cerewet plus paling nuakaaallll πŸ˜› But, both of them so smart

Salah Satu Ornamen di Tepi Kolam

Salah Satu Ornamen di Tepi Kolam

The Little Buterfly

The Little Buterfly

Get Ready to Slid Down

Get Ready to Slid Down

Rusutan Mini. Tidak tahu pasti pula ini bagian apa, karena saya tidak ada di TKP.

Rusutan Mini. Tidak tahu pasti pula ini bagian apa, karena saya tidak ada di TKP. Mungkin niat Tujang potretnya membidik latar belakangnya πŸ˜€

Kolam Untuk Pengunjung Dewasa. Puji Syukur, Panorama Indah Masih diberikan olehNya :)

Kolam Untuk Pengunjung Dewasa. Puji Syukur, Panorama Indah Masih diberikan olehNya πŸ™‚

Welcome.

Welcome.

Hari Pertama Lebaran (@Home)

Lebaran hari pertama di Lawang

Saya, Kakak, Adik & 4 Ponakan Beserta Orang Tua Kami :D

Saya, Kakak, Adik & 4 Ponakan Beserta Orang Tua Kami πŸ˜€

Kakak Kedua & Suaminya + Putri Kecil Mereka

Kakak Kedua & Suaminya + Putri Kecil Mereka

Aunty & Ponakan

Aunty & Ponakan

Tante & Ponakan

Tante & Ponakan

Aunty, Papi, & Ponakan. Menjadikan Bukit Nongkojajar (Salah satu jalur menuju Gunung Bromo & Semeru) Sebagai Background :)

Aunty, Papi, & Ponakan. Menjadikan Bukit Nongkojajar (Salah satu jalur menuju Gunung Bromo & Semeru) Sebagai Background πŸ™‚

With My Sister. Yang Maksa banget untuk mempublish foto ini dengan alasan tubuhnya tak terlihat 'besar' :P

With My Sister. Yang Maksa banget untuk mempublish foto ini dengan alasan tubuhnya tak terlihat ‘besar’ πŸ˜›

Cuma Kumpul di Hari Lebaran

Lebaran tahun ini (1434 H) = sepi. Lebaran pertama saya & keluarga habiskan di kota tinggal anyar. Lebaran pertama yang benar-benar hanya dirayakan oleh Saya dan keluarga inti. Lebaran kedua tanpa sosok Mami. Hari raya yang sepi cerita mungkin, tapi setidaknya tetap berkumpul bersama keluarga. Simple sih.. cuma ngumpul. Tapi kegiatan ‘cuma’ tersebut tak bisa dilakukan setiap saat.Β 

Hanya ada satu orang tua, dua kakak, dua kakak ipar, 1/2 lusin ponakan, dan seorang adik. Kami bertigabelas seakan-akan membentuk skuad sendiri untuk merayakan lebaran tahun ini. Tidak ingin ada campur tangan keluarga lain. Just our family.Β 

Tidak ada yang spesial juga. Hanya shalat Id bersama, kemudian sungkeman, dan selanjutnya makan-makan. Setelah itu menggiring ponakan-ponakan ke waterboom yang ada di dekat hunian kami. Sayangnya keadaan tubuh saya sedang tidak mendukung aktivitas yang berlebihan. Kondisi tubuh yang kurang fit pada hari raya membuat saya harus stay di rumah sementara ponakan, adik, & kakak saya plus suaminya bermain air di waterboom.Β 

Hari Kedua Lebaran; kami menuju rumah bude di Situbondo. Silaturahmi pula dengan tetangga di rumah lama. Ada rencana untuk melanjutkan perjalanan ke Jember, tetapi karena saudara dari Jember beraksud mendatangi bude yang bermukim di Situbondo, rencana ke Jember dibatalkan.Β 

Benar-benar sepi. Kalau mungkin bisa dibilang ramai; bertemu dengan beberapa kawan SMA di hari ketiga lebaran adalah sesuatu yang berbeda dari kegiatan kumpul-kumpul dengan keluarga. Atau mungkin kegiatan bermain dengan ponakan-ponakan di alun-alun kota adalah keramaian lebaran lainnya.Β 

Secara keseluruhan, acara lebaran tahun ini cuma kumpul-kumpul biasa. Baik dengan keluarga, maupun dengan teman. Semoga saja kegiatan ‘cuma’ yang hanya tiga hari tersebut bisa kembali dilakukan lebaran tahun depan.Β 

Ricuhnya Keberangkatan Tour of History (1)

Rencana itu sudah tersusun. Sudah disepakati oleh kami bertiga. Saya, Sendu & Kemplo sudah setuju untuk menyambangi rumah personel kami yang lain di Mojoagung pada tanggal 13 Agustus 2013; berangkat pukul 05.00 pagi setelah salat subuh. Rencana sudah fix. Aturannya adalah “Kami pergi untuk bersenang-senang. Gak pake ribet. Gak pake galau. Mau ikut ya berangkat; enggak juga gak papa”.Β 

Sebuah persetujuan yang saya & tuan rumah gagas untuk mengantisipasi hambatan ribet dan molor yang selalu dilakukan oleh seorang kawan kami. Saat gagasan tersebut disosialisasikan, pernyataan “Oke” terlontar dari semua pihak. Tanpa ada paksaan. Singkat kata kami fix berangkat pukul 05.00 pada 13 Agustus 2013 ke Mojoagung.

Saya bahkan rela meninggalkan ponakan di Situbondo yang masih merindukan tante kesayangannya ini sehari sebelum keberangkatan. Berebut bis dengan penumpang lain yang hendak menuju Surabaya. Supaya bisa on time di kota pahlawan. Tidak merusak kesepakatan saya dan teman-teman. Supaya tidak terlambat. No ngaret!

Kemudian di sore hari; sebuah pesan singkat datang dari kemplo “Mei, berangkatnya gak bisa ditunda ta. Aku abis subuh ngaji”

Ahhh… seperti dugaan. Oke; karena setelah subuh dia mau mengaji maka saya putuskan keberangkatan ditunda hingga pukul 6 pagi. Jam 6 ketemu di terminal Purabaya (read: Bungurasih). Tapi kemudian berbagai alasan terlontar dari Kemplo. SMS nya yang berisi bermacam-macam alasan meminta untuk menunggunya di Bungur paling lama pukul 06.45. Bahkan saya merasa kami sedang beradu argumen. Ada sebuah pesan singkatnya yang bagi saya sangat nonsenses dan maaf; toleransi keterlambatannya sudah sangat berlebihan.

Ini bukan kali pertama Kemplo merusak jadwal. Tak ada lagi excuse. Kalau tak bisa berangkat pagi; ya sduah tak usah berangkat. Bukankah kesepakatan awal sudah jelas “gak pake ribet, gak pake galau”. Entah keadaan tersebut disengaja atau tidak; bukankah kesepakatan tetap kesepakatan? Saklek? Memang harus kan… saklek pada kesepakatan & waktu yang telah ditentukan.Β 

Jadi ketika pesan singkatnya yang terkesan menodong meminta kepastian apakah saya & Sendu mau menunggunya di Bungur; saya jawab saja “Gak”.

Jahat ya Saya?! Mau bagaimana lagi. Sudah tak bisa ditoleransi. Ibaratnya tanaman; sudah sangat tercekam dengan kondisi lingkungan, sehingga tidak mampu bertahan hidup. Sorry, plo… Terserah mau berpandangan saklek, sadel, sak karep… just up to you… Ini prinsip, guys!! Must on time! Bukankah sudah ada toleraansi keterlambatan? Saya sama sekali tidak melarang-larang seorang kawan untuk mengaji bukan? Tapi itu urusan pribadi yang seharusnya bisa diselesaikan untuk mengutamakan kepentingan bersama. Ngaji ya ngaji… janji ya janji!! It’s so simple!

13 Agustus 2013Β 

Jam 06.15 sampai bungur. Menunggu Kemplo. Saya tak ada niat menunggu memang. Ini inisiatif Sendu yang tak disampaikannya pada saya. Sendu kan tidak sejahat saya; mungkin dia dan Kemplo sudah berdiskusi via sms. Entah bagaimana diskusinya. Mungkin skenarionya begini;

Senja menjemput saya lalu kemudian dia mengendari motornya dengan kecepatan ‘siput’ supaya kami bisa agak lama untuk tiba di terminal. Setelah di terminal; markir motornya lama. Jalannya juga lambat. Supaya bisa sampai di tempat keberangkatan Bus agak lama. Supaya Kemplo bisa menyusul juga & saya tidak menjadi kesal karena harus menunggu lama

Itu sih perkiraan saya. Perkiraan yang tidak saya sampaikan pada Sendu karena kawan saya yang satu itu terlalu baik untuk disemprot pemikiran saya yang hanya kira-kira.

Perkiraan yang menurut saya sedikit benar sebenarnya. Pada saat saya dan Sendu sudah berada separuh jalan, bahkan sudah hampir sampai tempat tujuan; Sendu berkata bahwa Kemplo tadi sudah di terminal tapi kembali pulang karena kami benar-benar meninggalkannya. Padahal saya sudah dengan diam mengikuti skenario (perkiraan) Sendu & Kemplo tersebut. Tidak mengatakan apa-apa. Ikut saja alur mereka. Bahkan saya tidak protes ketika kami baru meninggalkan terminal pukul 06.35 WIB. Saya diam saja, tapi tetap saja Kemplo tidak menampakkan dirinya.Β 

Ahhh…dasar Kemplo. Kalau memang niat & ingin ikut; kenapa tidak menyusul naik bus lain saja? Toh hanya ke Mojoagung! Mau beralasan tak tahu daerah Mojoagung? Alasan bullshit karena dia jelas-jelas menghabiskan waktu sekolah menengah atasnya di Jombang; kota yang berbatasan langsung dengan Mojoagung. Mau alasan gak tahu harus turun dimana? Kenapa tidak tanya pada tuan rumah? Kenapa tak tanya sebelum-sebelumnya?!

Ah, sudahlah…. intinya adalah keberangkatan ke Mojoagung ini diawali dengan keribetan yang sebenarnya tak ribet! Rencana keberangkatan bertiga terlaksana dengan dua anggota.

Apa saya selfish karena tak mau menunggu kemplo? Bagaimana Kemplo yang tak bisa menaati kesepakataan bersama demi kepentingan pribadi? Dan lagi, seperti yang saya tegaskan sebelumnya; ini bukan kali pertama dia merusak jadwal!!Β