Ricuhnya Keberangkatan Tour of History (1)


Rencana itu sudah tersusun. Sudah disepakati oleh kami bertiga. Saya, Sendu & Kemplo sudah setuju untuk menyambangi rumah personel kami yang lain di Mojoagung pada tanggal 13 Agustus 2013; berangkat pukul 05.00 pagi setelah salat subuh. Rencana sudah fix. Aturannya adalah “Kami pergi untuk bersenang-senang. Gak pake ribet. Gak pake galau. Mau ikut ya berangkat; enggak juga gak papa”. 

Sebuah persetujuan yang saya & tuan rumah gagas untuk mengantisipasi hambatan ribet dan molor yang selalu dilakukan oleh seorang kawan kami. Saat gagasan tersebut disosialisasikan, pernyataan “Oke” terlontar dari semua pihak. Tanpa ada paksaan. Singkat kata kami fix berangkat pukul 05.00 pada 13 Agustus 2013 ke Mojoagung.

Saya bahkan rela meninggalkan ponakan di Situbondo yang masih merindukan tante kesayangannya ini sehari sebelum keberangkatan. Berebut bis dengan penumpang lain yang hendak menuju Surabaya. Supaya bisa on time di kota pahlawan. Tidak merusak kesepakatan saya dan teman-teman. Supaya tidak terlambat. No ngaret!

Kemudian di sore hari; sebuah pesan singkat datang dari kemplo “Mei, berangkatnya gak bisa ditunda ta. Aku abis subuh ngaji”

Ahhh… seperti dugaan. Oke; karena setelah subuh dia mau mengaji maka saya putuskan keberangkatan ditunda hingga pukul 6 pagi. Jam 6 ketemu di terminal Purabaya (read: Bungurasih). Tapi kemudian berbagai alasan terlontar dari Kemplo. SMS nya yang berisi bermacam-macam alasan meminta untuk menunggunya di Bungur paling lama pukul 06.45. Bahkan saya merasa kami sedang beradu argumen. Ada sebuah pesan singkatnya yang bagi saya sangat nonsenses dan maaf; toleransi keterlambatannya sudah sangat berlebihan.

Ini bukan kali pertama Kemplo merusak jadwal. Tak ada lagi excuse. Kalau tak bisa berangkat pagi; ya sduah tak usah berangkat. Bukankah kesepakatan awal sudah jelas “gak pake ribet, gak pake galau”. Entah keadaan tersebut disengaja atau tidak; bukankah kesepakatan tetap kesepakatan? Saklek? Memang harus kan… saklek pada kesepakatan & waktu yang telah ditentukan. 

Jadi ketika pesan singkatnya yang terkesan menodong meminta kepastian apakah saya & Sendu mau menunggunya di Bungur; saya jawab saja “Gak”.

Jahat ya Saya?! Mau bagaimana lagi. Sudah tak bisa ditoleransi. Ibaratnya tanaman; sudah sangat tercekam dengan kondisi lingkungan, sehingga tidak mampu bertahan hidup. Sorry, plo… Terserah mau berpandangan saklek, sadel, sak karep… just up to you… Ini prinsip, guys!! Must on time! Bukankah sudah ada toleraansi keterlambatan? Saya sama sekali tidak melarang-larang seorang kawan untuk mengaji bukan? Tapi itu urusan pribadi yang seharusnya bisa diselesaikan untuk mengutamakan kepentingan bersama. Ngaji ya ngaji… janji ya janji!! It’s so simple!

13 Agustus 2013 

Jam 06.15 sampai bungur. Menunggu Kemplo. Saya tak ada niat menunggu memang. Ini inisiatif Sendu yang tak disampaikannya pada saya. Sendu kan tidak sejahat saya; mungkin dia dan Kemplo sudah berdiskusi via sms. Entah bagaimana diskusinya. Mungkin skenarionya begini;

Senja menjemput saya lalu kemudian dia mengendari motornya dengan kecepatan ‘siput’ supaya kami bisa agak lama untuk tiba di terminal. Setelah di terminal; markir motornya lama. Jalannya juga lambat. Supaya bisa sampai di tempat keberangkatan Bus agak lama. Supaya Kemplo bisa menyusul juga & saya tidak menjadi kesal karena harus menunggu lama

Itu sih perkiraan saya. Perkiraan yang tidak saya sampaikan pada Sendu karena kawan saya yang satu itu terlalu baik untuk disemprot pemikiran saya yang hanya kira-kira.

Perkiraan yang menurut saya sedikit benar sebenarnya. Pada saat saya dan Sendu sudah berada separuh jalan, bahkan sudah hampir sampai tempat tujuan; Sendu berkata bahwa Kemplo tadi sudah di terminal tapi kembali pulang karena kami benar-benar meninggalkannya. Padahal saya sudah dengan diam mengikuti skenario (perkiraan) Sendu & Kemplo tersebut. Tidak mengatakan apa-apa. Ikut saja alur mereka. Bahkan saya tidak protes ketika kami baru meninggalkan terminal pukul 06.35 WIB. Saya diam saja, tapi tetap saja Kemplo tidak menampakkan dirinya. 

Ahhh…dasar Kemplo. Kalau memang niat & ingin ikut; kenapa tidak menyusul naik bus lain saja? Toh hanya ke Mojoagung! Mau beralasan tak tahu daerah Mojoagung? Alasan bullshit karena dia jelas-jelas menghabiskan waktu sekolah menengah atasnya di Jombang; kota yang berbatasan langsung dengan Mojoagung. Mau alasan gak tahu harus turun dimana? Kenapa tidak tanya pada tuan rumah? Kenapa tak tanya sebelum-sebelumnya?!

Ah, sudahlah…. intinya adalah keberangkatan ke Mojoagung ini diawali dengan keribetan yang sebenarnya tak ribet! Rencana keberangkatan bertiga terlaksana dengan dua anggota.

Apa saya selfish karena tak mau menunggu kemplo? Bagaimana Kemplo yang tak bisa menaati kesepakataan bersama demi kepentingan pribadi? Dan lagi, seperti yang saya tegaskan sebelumnya; ini bukan kali pertama dia merusak jadwal!! 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s