Bukan Sebuah Kontempelasi

Secara tiba-tiba seorang teman mengatakan bahwa Saya dan Juventus adalah salah satu perwujudan dari teori ‘Kontempelasi’. Sebuah teori yang berkaitan dengan perasaan yang diciptakan oleh pemikiran positif manusia.

Teori itu meluncur dari mulut seorang kawan setelah mendengar Saya mengatakan “My team is my cure”.

Dia mengatakaan bahwa setiap manusia memiliki ‘kontempelasi’nya sendiri-senddiri. Dan bagi saya ‘kontempelasi’ itu adalah Juventus. Artinya adalah apapun dan bagaimanapun kondisi Saya; asalkan ada Juventus semuanya baik-baik saja. Bagaimanapun sakit yang Saya rasakan, asal Juve menang maka sakit itu hilang. Secara harfiah dapat dikatakan “A thing of beuty is a joy forever”; Juventus adalah kegembiraan utnuk selamanya.

Saat mendengar penjelasan kawan mengenai teorinya itu, Saya hanya tersenyum sambil menanggapi “Bisa saja” 😀

Lalu dia mengatakan “Kontempelasi itu sifatnya sementara Mei. Bisa saja kamu sembuh sekarang, tapi sebenarnya kamu belum benar-benar sembuh. Itu cuma sembuh yang kamu ciptakan”

Jadi maksudnya Juventus hanya sementara??

Nope. Bukan itu maksud kawan Saya.

Bukan Juventusnya, melainkan kontempelasinya.

Iya, mayoritas orang (mungkin termasuk Saya) seringkali menolak fakta bahwa ia sedang sakit dengan menciptakan kondisi yang membuatnya lupa akan sakit itu. Salah satu bentuk penyembuhan dengan pendekatan mental mungkin. Dan kata kawan Saya kontempelasi bukan hal yang cocok untuk dijadikan media penyembuhan. Dia mengatakan, suasana senang, damai, tak banyak pikiran yang dibuat-buat dengan pendekatan kontempelasi hanya akan membuat seseorang semakin merasakan sakit sesudahnya. Kalau sakit, pergi ke dokter. Minum obat. Gak usah beraktivitas macem-macem. Gak usah ngapa-ngapain. Stay di kamar. Just take a rest.

Take a rest!!! Iya memang harus beristirahat. Tapi, bukankah setiap orang memiliki cara istirahat yang berbeda-beda?! Dan bagi saya, berkerumun dengan teman-teman pecinta Bianconeri di tempat nobar adalah cara beristirahat. Karena itulah, team Saya bukanlah sebuah bentuk kontempelasi melainkan media untuk beristirahat.

Tapi, bukankah berkontempelasi sesekali waktu tidak ada salaahnya???

Going Out of The Stress

Benar bahwa dunia sedang mengalami yang namanya perubahan iklim. Topik yang sebenarnya sudah trend in sejak satu dekade silam. Topik yang juga diikuti fakta dengan semakin tidak menentunya cuaca. Tidak ada lagi waktu pakem perubahan musim penghujan ke musim kemarau. Pancaroba bisa datang dengan semaunya. Satu-satunya kepastian hanyalah adanya cekaman dari cuaca yang perubahannya tidak memberikan kepastian waktu.

Ketika di bulan-bulan yang dulunya disebut sebagai bagian dari musim penghujan justru memberikan terik matahari yang panasnya naudzubillah, panas dan kering adalah cekaman yang tidak bisa dihindari. Manusia bisa apa? Mau berkompromi dengan cuaca? Ingin melobi sang Surya untuk menghentikan sistem kerjanya? Mau merajuk? Mau mengeluh? Tetap saja kepanasan. Tetap saja kekeringan.

Atau saat langit tetap mengguyurkan airnya sepanjang hari di saat musim yang jaman lampau disebut sebagai musim kemarau? Banjir…Luapan air dimana-mana. Tidak ada sinar maatahari, hanya ada kubangan air kotor yang menjadi sumber penyakit mematikan. Sebagai manusia, bisa apa?

Tapi, apakah kodrat sebagai manusia yang hanya bisa ‘menerima’ membuat manusia hanya bisa ‘menerima’ dengan keluhan, ratapan, atau bahkan benar-benar menerima? Tidak.

Bukankah manusia juga diciptakan dengan seperangkat sistem yang tak kalah canggih dari operasi sistem komputer tercanggih sekalipun? Tercekam kekeringan sehingga merasa kepanasan? Bukankah manusia tidak kurang akal dengan menciptakan kipas angin dan bahkan yang lebih canggih pendingin ruagan ‘Air Conditioner’ atau dikenal dengan AC. Tercekam air? Bukankah bisa dibangun sebuah waduk atau bendungan untuk menampung air hujan? Masih tidak bisa menghindari cekaman? Setidaknya cekaman tersebut merupakan sistem imunitas praktis yang tak perlu dikaji secara teoretis. Dengan adanya cekaman; tidak hanya manusia, semua makhluk di muka Bumi akan terlatih untuk menjadi individu yang lebih kuat.

Probabilitas untuk tidak lolos dari cekaman memang ada, tetapi setidaknya ada usaha untuk bertahan.

Jika merasa sudah tidak mampu untuk bertahan, menghindar juga perlu dilakukan. Bukan untuk lari ataupun bersikap pengecut, melainkan hanya untuk mempertahankan eksistensi kehidupan karena sebenarnya peluang semesta tak melulu berbentuk cekaman.

Cerita Dari Madrid

Welldone, Team!!!

Bertandang ke Santiago Bernabue dengan formasi anyar 4-3-3, Juventus berharap mendapatkan poin penuh dalam lanjutan kualifikasi Liga Champions musim 2013-2014. Dengan modal kekalahan di akhir pekan, pasukan Turin tentu saja berambisi untuk menunjukkan bahwa Bianconeri masih punya kelas di Eropa.

Hasilnya??

Jangan tanyakan hasil akhir dalam bentuk numeric. Hasil pertandingan secara keseluruhan menunjukkan bahwa kelas tim besutan Antonio Conte tidak kalah dari tim yang menasbihkan dirinya sebagai Los Galacticos. Bahkan menilik jalannya pertandingan tengah pekan kemarin; Juventus was better with 10 than Real Madrid with 12!!!!!!!! 100% Sure!!!

Bolehlah mencela aksi tipu Vidal di kotak pinalty ketika pertandingan hampir memasuki endingnya. Namun acting mantan pemain termahal di dunia layak mendapatkan standing ovation sebagai the best ‘actor’ di pertandingan dini hari itu. Ahhh…sudahlah. Kekalahan dengan skor 2-1 di kandang El Real bukan akhir Juventus di pentas Eropa. Sebiji gol Llorente di menit ke 22 juga bukan hal yang sia-sia. Setidaknya laga kemarin juga bisa menjadi pembuktian bahwa didatangkannya Llorente secara cuma-cuma dari Athletico Bilbao tidak untuk hasil yang percuma.

Matchday 4 tengah menunggu di Juventus Stadium. Biarkan saja keberuntungan yang diperoleh anak asuh Ancelloti mereka nikmati dengan memuncaki klasemen sementara grup B, sementara Juventus bertahan di peringkat 3. Masih ada 3 pertandingan sisa di babak penyisihan. Masih ada peluang untuk lolos. Masih terbuka kesempatan untuk mengangkat si Kuping Besar di akhir musim nanti;  it could be possible to…. as much as possible (AMIN!!!)

Still believe that my team doing a great job!!!!!

Masih dan Tetap Yakin bahwa Lo Spirito ala Juventus MASIH dan TETAP ada.

Menang tetap membumi, Seri tak perlu mencaci, Kalahpun tetap Juventini 🙂

Ieri, Oggi, Domani, Sempre…. Fino alla Fine, FORZA JUVENTUS!!!!

Carbo = Sugar

Sekedar informasi.

Karbohidrat adalah salah satu makromolekul nutritif yang dibutuhkan oleh setiap tubuh mahkluk hidup. Molekul-molekulnya terdiri atas zat-zat gula dan polimernya. Berdasarkan kandungan gulanya itu karbohidrat dibedakan atas monosakarida, disakarida, dan polisakarida (mono= satu, di = dua, poli = banyak; ‘sakarida’ serapan kata ‘sacchar’ dalam bahasa Yunani yang berarti gula). Simplenya adalah karbohidrat = gula.

Jadi suatu makanan yang mengandung karbohidrat tinggi sudah tentu memiliki kandungan gula yang tinggi. Mana ada ceritanya karbohidrat jagung yang rendah memiliki kandungan gula yang tinggi?

Oohhh…what a theory?!!! Logika sajalah.. Seorang pengidap diabetes pada umumnya disarankan untuk mengkonsumsi gula jagung (gula yang terbuat dari sari jagung), masa iya kadar gula jagung itu tinggi sementara penyakit diabet adalah penyakit yang harus jauh-jauh dari kadar gula berlebih?

Dari Firenze Menuju Madrid

Sebuah tamparan keras yang merusak wajah kami. Seperti bogem mentah yang tersasar. Sakit! Marah! Kesal!

Tentu saja… Siapa yang mau tertampar dan terbogem tanpa perlawanan????

Menilik laga kemarin, Mazda vs Jeep… La Viola kontra La Vecchia Signora. Layaknya sebuah bogem mentah dari Firenze terhadap pasukan Turin.

Entah apa yang terjadi, hanya dalam tempo 15 menit empat gol bersarang ke gawang Gigi Buffon.

Ya, sepak bola memang tidak bisa ditebak. Pertandingan yang nyaris menjadi angka penuh bagi kami raib secara tiba-tiba.

Bukan kekalahan atas Fiorentina yang menjadi penyesalan, melainkan hilangnya Lo Spirito Alla Juventus yang membuat kami menjadi diam. Seolah terbuai dengan 2 scudetti di dua musim sebelumnya, semangat juang pasukan Conte seakan-akan lenyap. Terlalu melambung tinggi, sedikit congkak dan meremehkan. Sikap yang tidak sepantasnya ditunjukkan oleh tim sekelas Bianconeri. Hasilnya, setelah bisa menang dengan sedikit keberuntungan kala menjamu pasukan Rossonero di dua pekan lalu; kesombongan di pekan ini terbayar dengan nol poin. Tak ada vittoria! Tak ada pesta kemenangan. Tak bisa pula mengambil keuntungan atas kalahnya pasukan Naples dari Srigala Ibukota.

C’mon Juventus….. Down to Earth!!!

Semoga penyesalan di pertandingan lalu bisa menjadi cambuk bagi semua punggawa Bianconeri untuk tidak lagi ‘bermain-main’ di lapangan. Tengah pekan ini El Real tengah menunggu. Kami masih percaya bahwa Juventus yang kami kenal masih ada. Masih yakin bahwa La Vecchia Signora masih perkasa.

Lupakan Firenze, fokuskan pada Madrid! Jadikan hantaman empat gol dari La Viola sebagai pelajaran penting untuk bertamu ke Santiago Bernabue.

Vinci per noi, Juventus!!!!!!!!!!!!!!!

Dari ‘Aku’ Menuju ‘Kami’

Bagaimana rasanya setelah melakukan suatu pekerjaan dengan perasaan otak sendiri, tetapi kemudian ada pernyataan “Kami sudah mencoba menyelesaikan…” dari orang lain? Kesal? Jengkel? Marah? Wajar kalau iya. Setelah menyelesaikan semua tugas sendiri lalu mendengar “KAMI yang menyelesaikan” rasanya antara ingin menjontorkan wajah orang itu ke dinding atau menyumpel mulutnya dengan lap basah supaya tidak banyak bicara. Jahat mungkin. Tapi Saya rasa itu wajar. Salah satu bentuk ekspresi manusia normal.

Jujur, Saya juga pernah memiliki pikiran sadis nan jahat seperti itu. Kesal ketika hasil kerja sendiri diakui sebagai hasil kerja bersama. Wajar!

Tapi perasaan kesal itu hanya sekelebat singgah karena saya tahu benar bahwa pekerjaan itu memang pekerjaan ‘kami’. Memang benar saya yang mengerjakan, tetapi sebelum pekerjaan tersebut mendekam manis di atas meja kerja saya; bukankah ‘ia’ harus melewati meja-meja kerja lainnya? Harus singgah di tempat Customer Service lalu kemudian diarsipkan di bagian Administrator. Lalu harus diverifikasi dan diolah setengah jadi dulu sebelum saya matangkan. Dan setelah selesai saya kerjakan, hasil akhir itu tidak akan memiliki value jika hanya tersusun rapidi folder deadline. Harus ada proses editing sebelum akhirnya sampai ke tangan pelanggan. Dan di saat mengerjakan pun ada pihak-pihak lain yang juga memberikan andil dalam setiap pengerjaan tugas saya. Karena itulah; statement “pekerjaan kami” mungkin memang lebih layak dibandingkan “aku”.

Sulit memang untuk mengubah kebiasaan “aku” menjadi “kami”. Sangat tidak mudah melepas pikiran “aku” menuju “kami”. Sulit dan tidak mudah, bukan berarti tidak bisa kan? Saya pun masih harus banyak belajar untuk tidak lagi berpikiran “aku”. Tetap berusaha untuk meletakkan prinsip “kami” pada setiap pekerjaan. Bukan untuk menggantungkan diri pada orang lain, melainkan mengikuti mata rantai yang bertujuan sama; mendapatkan hasil maksimal pada setiap pekerjaan. Kalaupun ada satu atau dua lakon yang tidak menjalankan perannya dengan baik maka itu urusan lakon lain, mungkin mereka memang digariskan untuk menjadi lakon yang tidak becus. Selebihnya, pekerjaan kantor adalah pekerjaan bersama 🙂

P.S: No more ‘Aku’

Simple Vacation at Wonosari Garden of Tea

Lebaran haji pertama di daerah tinggal baru Saya habiskan hanya dengan adek dan Papi. Hanya bertiga. Rencana awalnya sebenarnya semua saudara perempuan saya juga merayakan Idul Adha tahun ini di Lawang. But, planning failed. Dengan alasannya masing-masing, kedua saudara perempuan Saya memutuskan untuk menghabiskan waktu lebaran qurban ini di tempatnya masing-masing.

So, sudahlah. Bertiga bukan berarti tak punya acara.

Setelah menghabiskan waktu setelah shalat id dengan makan-makan kecil plus leyeh-leyeh sebentar, kami bertiga meluncur ke wisata agro yang terletak di Wonosari, Lawang. Perkebunan Teh lebih tepatnya.

Ada apa di sana?Ada berhektar-hektar tanaman Camelia sinensis; we called teh! Hu’um… cuma tumbuhan teh dengan daun-daunnya yang hijau. Tingginya tak lebih dari sepinggang orang dewasa, khas tanaman semaklah. Ngapain ngeliatin ‘semak-semak’ teh?? Gak ngapa-ngapain sih… Tapi banyak kok yang bisa dilakukan di tempat ini.

Pertama; simple saja seperti yang kami lakukan. Hanya mengelilingi sebagian kecil ‘semak-semak’ tersebut dengan berjalan kaki sembari memotret.

Kedua, bisa saja hanya duduk-duduk di sebagian tanah lapang yang dilindungi beberapa pohon Mahoni.

Ketiga; mengelilingi kebin teh dengan kereta kelinci. Fasilitas yang memang dikhususkan untuk pengunjung yang ingin memutari kebun teh yang luasnya lebih dari 1000 Hektar.

Dan selain untuk dikelilingi…wisata kebun teh ini juga menyediakan berbagai fasilitas yang mungkin menjadi minat pengunjung:

  • taman bermain,
  • kolam renang,
  • kereta mini,
  • kebun binatang mini,
  • lahan perkemahan,
  • hiburan musik electone dan band,
  • kesenian daerah,
  • depot rolas dan catering,
  • rumah bunga,
  • swalayan,
  • aula Santoon dan Java Cocoa,
  • tea walk,
  • out bond,
  • berkuda,
  • kunjungan pabrik dan tour kebun,
  • jalur sepeda sehat,
  • lapangan sepak bola,
  • lapangan volley dan lapangan tenis

Silahkan mencoba fasilitas-fasilitas di atas. Kalau mau menginap, ada villa ataupun sekedar contage yang bisa disewa oleh pengunjung.

Buat saya, kebun teh di Purwosari cukup menjadi salah satu cara menghabiskan waktu secara simple bersama anggota keluarga. Sekedar info juga, tiket masuk per orang Rp 8.000 + Parkir Motor Rp. 3.000. Khusus weekend, karcis masuk per orangnya Rp. 11.000.

Hamparan Camelia sinensis

Hamparan Camelia sinensis

Kangen Ibu itu Wajar!

Ada yang mengatakan bahwa sebuas apapun harimau, mereka tak akan pernah memakan anaknya sendiri. Mungkin begitu pula bagi anak harimau. Sebuas apapun ibu mereka, tak ada yang namanya seekor anak harimau membenci ibunya.

Hukum itu berlaku pula untuk manusia. ‘Sebuas’ apapun seorang ibu pada anaknya, si anak pasti akan mencari ibu yang ‘buas’ itu. Sekeras apapun sikap ibu pada anaknya, sangat tidak mungkin seorang anak melupakan ibunya.

Kamar kos Saya bersebelahan dengan seorang ibu dengan satu anaknya. Si ibu tidak jahat memang, tetapi beberapa kali saya mendengar bagaimana bocah SD yang usianya tak lebih dari tujuh tahun tersebut terkena pelampiasan amarah si ibu. Dibentak dan diberi omelan plus sumpah serapah. Mungkin ada kesal atau marah yang dirasakan si anak, tetapi tetap..ketika si anak ditinggal ibunya bekerja seharian, tiba-tiba dia mengetuk pintu kamar saya lalu berkata “Mbak…sekarang jam berapa? Kok Mama belum pulang ya?”

See… padahal dia seringkali dimarahi, dibentak, disalah-salahkan, dan dicerewetin oleh si Ibu.. Tapi tetap saja, selalu mencari keberadaan ibunya yang tak kunjung kembali dari tempat kerja.

Ada lagi contoh ibu yang lebih sadis. Tidak hanya membentak, menghina, memarahi, ataupun memberikan ceramah tiada henti; tetapi juga melakukan gerakan tangan yang beraneka ragam pada anaknya…jeweran, ceplesan, cubitan, bahkan terkadang diikuti dengan ‘gerakan’ kaki. Lalu, ketika anak korban kekerasan itu ditinggal ibunya seharian; dia bertanya “Mama kok lama sih tante? Aku kangen”

Non sense bukan Jika harus dipikirkan dengan akal, logika, nalar dan sejenisnya… sikap anak yang sudah dikerasi oleh ibunya tersebut sangat tidak wajar. Namun sekali lagi harus ditegaskan bahwa kita tidak bisa mengomparasikan perasaan dengan studi matematika.

Tak peduli bagaimana kejamnya seorang ibu kepada anaknya, jika mereka tidak bersama dalam beberapa saat; pasti ada kekhawatiran dan kangen seperti yang dikatakan si anak.

Anak yang dikerasi saja masih bisa merasakan kangen pada ibunya yang kejam nan sadis bin jahat dan keras apabila si ibu meninggalkan mereka barang sehari. Lalu, bukankah tidak salah jika seorang anak merindukan keberadaan ibunya yang baik hati, tidak suka main pukul dan tak banyak omong????

Tidak ada kata berlebihan untuk perasaan seorang anak yang merindukan keberadaan ibunya. Nope! Jika seseorang beranggapan bahwa perasaan merindukan sosok ibu itu berlebihan, mungkin dia hanya iri. Atau mungkin ibunya jauh lebih buas daripada kolaborasi buasnya Harimau, Srigala, dan Singa sekaligus.  Perhaps.

We Aren’t a Math

Sebuah teori yang beberapa hari lalu dikatakan oleh kawan saya;

“Seperti ilmu matematika SD, Mei… negatif ketemu positif, jadinya negatif. Gak mungkin positif. Jadi bullshit kalo ada istilah saling menguatkan, yang ada saling melemahkan. Kalo kamu positif dan mau dapat positif, kumpullah dengan orang-orang positif. Kalo kamu negatif pengen jadi positif, kumpul sama orang negatif”

Pertama kali mendengar teorema itu saya hanya diam sambil berfikir agak lama. Cukup lama sebenarnya karena kata ‘matematika’ secara tiba-tiba membuat setiap lapisan pikiran di otak berhenti bekerja. Teorema sinting!!!!

Meskipun agak lama Saya bisa pastikan teorema yang dianut kawan saya itu kurang tepat. “negatif ketemu positif” tidak selalu negatif bukan? Tergantung ketemunya gimana kan? Kalo ketemunya via ‘perkalian’, hasilnya memang negatif. Tapi kalo ketemuanya via penjumlahan atau pengurangan? Bisa positif bisa negatif!  Tergantung besar nominalnya. -40 + 100 misalnya… Bukankah hasilnya positif? Lalu 30 + (-8); hasilnya 12. Masih positif bukan? Mungkin memang ada pengurangan nilai positif, tetapi setidaknya masih bernilai positif.

Ada juga benarnya mengomparasikan hidup manusia dengan hitung-hitungan matematika, but trust me Mate, our life isn’t a math. Menyamakan hidup dengan kalkulasi dan teorema matematika? Manusia kan bukan robot?! Tidak diciptakan dengan ukuran-ukuran angka beserta reasio-rasionya.

So, pleaseeee…… jangan mematematikakan kehidupan (really HATE math!!).

Hanya Ketidaksamaan ‘Bahasa’

Beradu pendapat dengan orang tua itu wajar bukan? Pasti ada waktu dimana anak dan orang tua tidak sependapat. Tidak perlu menunggu anak menjadi dewasa atau orang tua menjadi paruh baya dengan masa pubertas kedua untuk memunculkan perselisihan antara anak dan orang tua; bahkan seorang bayi pun bisa menangis meronta-ronta sebagai bentuk tidak setuju atas cara menggendong ayahnya yang mungkin memang membuat si bayi merasa tidak nyaman. Dan kadang-kadang si ayah tidak mengerti bahwa gendongan yang ia anggap sebagai bentuk cinta dan sayang itu justru menyakiti si bayi.

Benar mungkin anak dan orang tua memiliki hubungan darah, tapi bukan berarti keduanya memiliki jalan pikiran yang selaras bukan?

Sama seperti cara menggendong bayi yang dilakukan oleh sang Ayah. Si Ayah mungkin menganggap apa yang dilakukannya itu untuk menjaga anaknya yang masih di bawah umur, tapi bukankah seorang anak juga memiliki standar nyamannya sendiri?

Tidak ada yang salah jika seorang anak dan ayahnya berdebat panjang mengenai apa yang dilakukan masing-masing tak pantas dilakukan oleh masing-masing, artinya keduanya benar-benar saling menyayangi. Iya, saling cinta dengan bahasa cintanya masing-masing. Benar mungkin kata kawan Saya, setiap orang memiliki ‘bahasa’ cintanya masing-masing. Saat ayah melakukan hal-hal mistis yang diyakininya dapat melindungi anak-anaknya, mungkin itulah bahasa cinta si ayah untuk anak. Dan ketika anak memiliki keyakinan yang tak dapat diganggu gugat demi kebaikan dirinya dan ayahnya, maka itulah bahasa cinta si anak untuk ayah. Tidak sama. Dan sulit mungkin menyamakan ‘bahasa’ keduanya. Tapi bukankah yang terpenting bukan kesamaannya, melainkan bagaimana kita mengerti bahasanya? Asal mau mengerti, rasanya tidak perlu ada perang dingin antara anak dan orang tua.

Memang, selalu saja ada ketidaksepahaman antara seorang anak dengan orang tuanya…. tapi sekali lagi, itu hanya perbedaan ‘bahasa’ antara anak dan orang tua. Hanya perbedaan ‘bahasa’, selebihnya adalah rasa 🙂

P.S: Hope you understand, sista 🙂