Going Out of The Stress


Benar bahwa dunia sedang mengalami yang namanya perubahan iklim. Topik yang sebenarnya sudah trend in sejak satu dekade silam. Topik yang juga diikuti fakta dengan semakin tidak menentunya cuaca. Tidak ada lagi waktu pakem perubahan musim penghujan ke musim kemarau. Pancaroba bisa datang dengan semaunya. Satu-satunya kepastian hanyalah adanya cekaman dari cuaca yang perubahannya tidak memberikan kepastian waktu.

Ketika di bulan-bulan yang dulunya disebut sebagai bagian dari musim penghujan justru memberikan terik matahari yang panasnya naudzubillah, panas dan kering adalah cekaman yang tidak bisa dihindari. Manusia bisa apa? Mau berkompromi dengan cuaca? Ingin melobi sang Surya untuk menghentikan sistem kerjanya? Mau merajuk? Mau mengeluh? Tetap saja kepanasan. Tetap saja kekeringan.

Atau saat langit tetap mengguyurkan airnya sepanjang hari di saat musim yang jaman lampau disebut sebagai musim kemarau? Banjir…Luapan air dimana-mana. Tidak ada sinar maatahari, hanya ada kubangan air kotor yang menjadi sumber penyakit mematikan. Sebagai manusia, bisa apa?

Tapi, apakah kodrat sebagai manusia yang hanya bisa ‘menerima’ membuat manusia hanya bisa ‘menerima’ dengan keluhan, ratapan, atau bahkan benar-benar menerima? Tidak.

Bukankah manusia juga diciptakan dengan seperangkat sistem yang tak kalah canggih dari operasi sistem komputer tercanggih sekalipun? Tercekam kekeringan sehingga merasa kepanasan? Bukankah manusia tidak kurang akal dengan menciptakan kipas angin dan bahkan yang lebih canggih pendingin ruagan ‘Air Conditioner’ atau dikenal dengan AC. Tercekam air? Bukankah bisa dibangun sebuah waduk atau bendungan untuk menampung air hujan? Masih tidak bisa menghindari cekaman? Setidaknya cekaman tersebut merupakan sistem imunitas praktis yang tak perlu dikaji secara teoretis. Dengan adanya cekaman; tidak hanya manusia, semua makhluk di muka Bumi akan terlatih untuk menjadi individu yang lebih kuat.

Probabilitas untuk tidak lolos dari cekaman memang ada, tetapi setidaknya ada usaha untuk bertahan.

Jika merasa sudah tidak mampu untuk bertahan, menghindar juga perlu dilakukan. Bukan untuk lari ataupun bersikap pengecut, melainkan hanya untuk mempertahankan eksistensi kehidupan karena sebenarnya peluang semesta tak melulu berbentuk cekaman.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s