Saya Sudah di Rumah

“Tante kapan pulang ke rumah?”

Pertanyaan yang dalam beberapa hari terakhir meluncur dari ponakan-ponakan di kampung.

Pertanyaan yang entah kenapa sulit dijawab.

Kapan pulang? Pulang kemana?

Entahlah, sulit mendefinisikan kata ‘pulang’.

Apakah pulang itu seperti ayam yang setelah seharian bebas mematuk-matuk tanah kemudian kembali ke kandangnya saat sore?

Apakah pulang itu seperti domba yang setelah seharian digembalakan lalu masuk ke dalam kandangnya di sore hari?

Apakah pulang itu seperti kebiasaan orang-orang untuk mudik di waktu lebaran?

Tapi kemudian ada satu kesimpulan bahwa pulang adalah kembali ke rumah. Sama halnya si ayam dan domba yang kembali ke kandangnya di sore hari. Sama halnya dengan mudik lebaran.

Dan, benarkah tujuan akhir dari ayam dan domba itu adalah rumah bagi mereka?

Benarkah orang-orang yang mudik itu menganggap tujuannya adalah rumah?

Dan akhirnya muncul kembali pertanyaan lain… Apakah yang dimaksud rumah itu?

Apakah rumah hanya didefiniskan sebagai susunan batu bata kokoh beratapkan genting dengan lantai marmer buatan timur tengah?

Apakah rumah hanya sebatas tempat dimana kita pernah menghabiskan masa kecil bersama orang tua?

Apakah rumah hanya  sebatas tempat berteduh dari guyuran hujan dan terik matahari?

Saya rasa bukan.

Rumah tidak harus begitu.

Rumah tidak melulu tempat dimana kita dibesarkan

Rumah tidak hanya sekedar lokasi dimana semua anggota keluarga berada di sana.

Rumah tidak harus bangunan kokoh dengan perabot mewahnya.

Rumah itu adalah tempat dimana kita merasa ada.

Rumah adalah tempat dimana kita bisa tidur pulas.

Rumah adalah tempat dimana kita tertawa tanpa alasan.

Rumah adalah tempat dimana kita enggan untuk meninggalkannya.

Rumah adalah tempat yang meski kita tak punya keluarga tetap memberikan serangkai cerita.

Dan besok jika ponakan saya kembali bertanya; “Tante kapan pulang ke rumah?”

Mungkin saya akan menjawab; “Tante sudah di rumah”.

Advertisements

Sebuah Peran

Tuhanku, aku sudah memainkan peranku sebagai hambaMu dengan baik bukan?

Aku melakukan perintah wajibMu

Tidak selalu tepat menjalankan mungkin..

Terkadang masih lalai dan bermalas-malasan

Tetapi Tuhan, aku berusaha untuk selalu menyempatkan waktu menemuiMu

Di setiap kesempatan yang kumiliki, bertemu denganMu itu luar biasa

Benar, aku memang bukan hambaMu yang paling taat

Benar, aku memang bukan hambaMu yang bersih dari perkara siksa

Benar, aku punya sejuta catatan kriminal yang mungkin telah dituliskan secara rapi oleh para asistenMu

Benar Tuhan, aku sudah tercoreng moreng

Ada cacat dalam setiap peran yang kulakoni sebagai hambaMu

Tapi, tidakkah ada toleransi bagiku atas cacat-cacat yang telah tercatat itu?

Toleransi karena kecacatan itu adalah caraku memainkan peranku sebagai Manusia

Manusia dengan nafsunya yang melimpah ruah

Nafsu yang sama sekali tak peduli pada dosa

Ahh….persetan dengan dosa dan ancaman nerakanya

Setiap bulir dosa itu adalah gelora kebahagiaan dan kenikmatan yang tiada tara

Lalu, bagaimana bisa berpikir akan dosa?

Dan jika benar bahwa aku adalah pendosa yang paling hina di dunia

Maka ampunilah aku Tuhan

Ampunilah bagian dariku yang menurutmu adalah perkara siksa

Hapuskanlah catatan noda yang memburamkan aku sebagai hambaMu

Tak bisakah peranku yang berpahala sebagai hambaMu menjadi penanggung peranku yang penuh dosa sebagai manusia, Tuhan?

Bukankah peranku sebagai hambaMu telah kulakukan dengan sangat baik?!

Karena Keluarga Tidak Akan Lupa

Beneran deh..punya dedek satu yang hyperactive plus ceriwis nan sporadis itu susah. Bikin gemes. Selalu saja membuat saya geregetan lalu kemudian tidak tahu harus bersikap bagaimana, yang kemudian saya hanya bisa menyimpulkan ‘capek’.

Mungkin terlalu kejam jika menyatakan “adekku suka banget bikin masalah”, bagaimana kalau kalimat itu dirubah “Masalah selalu memilih adekku”. Iyaaaa… karena ada saja hal-hal kurang baik yang ‘menyambangi’ & dilakukan adek saya satu-satunya itu. Hal-hal yang membuat dia ‘kenapa-kenapa’ yang ujungnya juga menjerumuskan saya ke dalam ‘kenapa-kenapa’-nya 😦

Oh Mam… Kesal rasanya ketika harus selalu bergumul dengan tingkah laku adek yang masih saja sulit dikendalikan. Mau marah…mau menjotosnya…mau mukulin…mau ngelemparin panci…mau nendang…mau ngomel-ngomel…tapi tidak bisa 😥 Saya hanya bisa menghela nafas panjaaaaaaaaaaanggggg, lalu kemudian merasa sangat sangat lelah.

Tapi kemudian saya tahu bahwa seburuk apapun capnya.. bagaimanapun menjengkelkannya, dan entah bagaimana kelakuannya yang terkadang harus membuat saya sakit kepala, she still my sist.

Iya, masih saudara. Masih punya hubungan darah. Masih bertalikan keluarga.

Dan saya tahu, bahwa Saya juga bukan seorang saudara yang sempurna. Mungkin di matanya saya hanya rumput liar yang mengganggu. Merepotkan. Cerewet. Tidak perhatian. Atau label negatif apapun.

But still, we are a family. Masih mengingat keberadaan saya. Tak pernah lupa kebiasaan saya. Tak lupa akan apa yang saya suka dan apa yang saya tak suka. Tidak melupakan setiap jengkal memori yang pernah kami lewati.

Karena keluarga tidak akan pernah lupa pada anggotanya. Setidaknya kita tak akan pernah dilupakan 🙂

‘Bertengkar’ Yuk!

Bertengkar seringkali diartikan sebagai keadaan dimana dua orang atau lebih saling mengumpat, saling pukul, saling menghina, saling meluapkan emosi marah. Benar memang. Dan melihat arti bertegkar tersebut, rasanya sangat tidak menyenangkan jika kita harus bertengkar dengan seseorang. Bahkan karena terlampau menakutkannya sebuah pertengkaran, seseorang seringkali menghindari untuk terlibat dari aksi bertengkar tersebut. Lebih memilih diam dan bersikap seakan-akan tidak ada hal yang menjanggal dan ingin dipertengkarkan.

Tapi sebenarnya ‘bertengkar’ itu perlu.

Serius.

Perlu diingat bahwa bertengkar tidak harus saling mengumpat. Bertengkar tidak harus saling menghina. Bertengkar tidak harus saling beradu kekuatan otot. Bahkan diskusi asik dengan kawan dekat pun dapat dikata sebagai ‘pertengkaran’.

Dan bagaimanapun bentuknya, bertengkar itu dibutuhkan. Dalam suatu ‘simbiosis’ antara manusia dengan manusia, pertengkaran itu perlu.

Kenapa harus bertengkar? Karena di dunia ini tidak ada dua orang manusia dengan karakter yang benar-benar sama, maka sangat tidak mungkin ada pikiran yang benar-benar sama antara manusia satu dengan manusia lainnya. Ada hal yang disukai seseorang justru menjadi sebuah ketidaksukaan bagi orang lain. Pada sebuah ‘simbiosis’, ketidaksamaan itu harus diungkapkan. Ketidaksukaan itu harus disampaikan.

Penyampaian yang mungkin akan berujung pada adu argumen, lalu kemudian sedikit percekcokan. Tapi percayalah bahwa percekcokan itu pada akhirnya bisa diselesaikan secara baik-baik

Kalaupun percekcokan tersebut tidak dapat didamaikan, sehingga kemudian terjadi perkelahian ataupun saling menghina dina; pasti akan ada waktu setelahnya dimana masing-masing akan menyadari bahwa Tuhan memang menciptakan manusia dengan beraneka rupa, dan yang bisa dilakukan manusia hanya menerima.

Karena ‘bertengkar’ itu berarti peduli.

Ziarah Ke Makam Wali

Ziarah ke makam Wali.

Namanya juga ziarah, tujuannya pasti untuk mengingat bahwa manusia akan berujung pada kematian. Selain itu untuk mengetahui bahwa umat muslin di Nusantara mengenal islam karena keberadaan wali-wali tersebut. Kalau kata saya, wali itu ibaratnya guru agama islam pertama di Indonesia. Sudah, itu saja.

Selebihnya mengunjungi makam wali memiliki tujuan yang berbeda-beda bagi setiap orang.

Entah mau berdoa, enatah mau berdiam diri, entah mau apa..

Tapi bagi saya, selain ziarah… kegiatan mengunjungi makam wali yang saya lakukan bersama rekan kantor di akhir pekan pada awal Mei lalu adalah wisata. Jalan-jalan. Refreshing! Dan tentu saja foto-foto 🙂

Foto Rombongan Kantor Di Pintu Masuk Makam Sunan Giri (Gak Ada Saya, Kan Saya Fotografernya)

Foto Rombongan Kantor Di Pintu Masuk Makam Sunan Giri (Gak Ada Saya, Kan Saya Fotografernya)

Menulis Masih Mengasyikkan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

“Ketika menulis tidak lagi mengasyikkan”

Sebuah statement yang beberapa hari lalu terlontar dari salah seorang rekan. Entah bagaimana kriteria mengasyikkan yang dimaksudnya. Tapi beberapa saat setelah dituliskan, si rekan juga menuturkannya, persis didepan Saya. Lalu dia bertanya “Bener gak, Mei?”

Sebuah pertanyaan yang entah bagaimana secara tiba-tiba memenuhi isi kepala Saya… Benarkah bahwa menulis sudah bukan lagi pekerjaan yang mengasyikkan?Ditambah dengan pertanyaan beberapa kawan tentang “kenapa sekarang jarang up date tulisan”; lalu mengatakan “produktivitas blogmu di tahun 2013 menurun drastis. Sebulan cuma 14 postingan? What’s going on??”

Kemudian terbatin rentetn jawaban:

  • Iya, saya sudah bosan
  • Iya, saya sudah lelah
  • Iya, saya sudah muak dengan segala deadline kantor yang tak karuan
  • Iya, saya sudah tak punya passion untuk melakukan aktivitas ini setiap hari
  • Iya,saya sudah tidak menikmati tempat ini

Jawaban-jawaban yang selanjutnya membuat saya menghembuskan nafas panjang, lalu tersenyum simpul, dan menyadari betapa tolol dan labilnya pikiran saya selama beberapa detik itu sehingga harus mengiyakan pernyataan kawan saya yang memang sedang mengalami gangguan jiwa akibat tekanan deadline yang tak terkira. Tersadar juga akan teguran kawan yang menyatakan sedikit pasifnya postingan yang saya buat dalam beberapa bulan terakhir.

Dan “Benarkah menulis sudah tidak lagi mengasyikkan?” Nope, it’s my world which I choosy. That’s my choise.

Jika sampai ada pikiran ‘tak ada lagi keasyikan’ untuk menulis, mungkin bukan menulisnya yang salah. Mungkin ada sesuatu yang salah pada saya. Ada hal yang membuat saya tak bisa ‘benar-benar’ menulis. Ada faktor ‘X’ yang harus dihilangkan, dibuang, dan ditinggalkan supaya passion itu kembali muncul.

Menulis masih mengasyikkan. Masih. Insya Allah, Masih.

Pendosa

Mungkin Si Pendosa mulai melancarkan aksi balas dendamnya

Meluapkan segala kekesalannya

Meledakkan ranjau yang dipendam jauh di dasar nyawanya

Memasukkan dirinya ke dalam jerat setan dengan tetek bengek perangainya

Membuat dirinya tersorot dalam setiap jengkal yang katanya berakibat siksa

Lalu, tertawalah kalian….

Hinalah Dia yang sudah berbuat dosa

Tapi, yakinlah bahwa kalian tanpa salah

Perangi Ia yang sudah bersimbah celah

Tapi, pastikan diri kalian bersih dari hina

Atas nama apapun, si Pendosa bukan menjadi urusan semua khalayak di muka Bumi

Demi apapun, si Pendosa pun menyadari lumuran cacat pada dirinya

Dan apakah Tuhan dan para asistenNya di surga sana tidak memiliki pekerjaan yang lebih penting daripada mengurusi setiap titik kelakuan para Pendosa?

Maka bungkamlah kalian yang tak jauh berbeda dengan si Pendosa

Tuhan Juga Rindu

Sebuah kenyataan dimana hampir semua manusia pernah memunculkan pertanyaan “Tuhan, Kau dimana?”

Pertanyaan yang mungkin saja tidak disadari oleh beberapa orang atau mungkin mereka sengaja mengelak dan berpura-pura tidak menyadari munculnya pertanyaan itu dengan alasan iman.

Entah sadar atau tidak, sebagian besar dari manusia kadang-kadang masih berpikir keras akan eksistensi penciptanya. Tak sedikit dari kita yang tiba-tiba bertanya “Tuhan, Kau dimana?”

Pertanyaan yang kadang-kadang menempati sela-sela cerebellum.

Pertanyaan yang selalu timbul ketika manusia berada pada kondisi yang tersudut.

Pertanyaan klasik dari manusia yang sedang berada dalam kubangan polemik. Pertanyaan retoris yang kadang-kadang diikuti dengan rangkaian kata keluh kesah.

Dan; karena Tuhan adalah Maha Segalanya, Dia bisa saja memberikan jawaban dengan pertanyaanNya

“Kenapa mencariku sekarang?”

“Kenapa baru mengingatku sekarang?”

Yupp… Tuhan benar. Kenapa pula sebagian besar dari kita baru mengingat Tuhan di saat yang tidak menyenangkan? Saat yang tidak menyenangkan bagi kita itu, mungkin adalah moment paling mengasyikkan bagiNya karena diingat oleh hamba yang Dia cinta tapi sering lupa padaNya.

Lalu, bagaimana jika pertanyaan “Tuhan, Kau dimana?” terlontar dari minoritas? Dari hamba yang tidak lupa pada TuhanNya. Dari hamba yang tak lalai melaksanakan setiap perintahNya. Dari hamba yang selalu memujiNya.

Entahlah… apakah benar ada manusia yang seperti itu? Benarkah di setiap pujian terhadapNya hanya untukNya? Benarkah setiap tawa yang diiringi syukur itu sepenuhnya untuk Sang Esa? Benarkah setiap perintah yang terlaksana hanya karenaNya?

Mungkin tidak. Mungkin Tuhan ingin pujian yang lebih. Mungkin Tuhan ingin tawa yang benar-benar untukNya. Mungkin Tuhan ingin perintah itu dijalankan karena benar-benar mencintaiNya.

Mungkin….. karena Tuhan masih merindukan hambaNya yang minoritas itu, maka dibuatlah keadaan yang mengharuskan pertanyaan “Tuhan, Kau dimana?” terlontar dari manusia yang katanya tak pernah lupa padaNya.

Karena Tuhan juga berhak merindukan manusia yang diciptakanNya! Dan Ia punya cara sendiri untuk melepaskan kerinduan itu.

Jadi, pertanyaan “Tuhan, Kau Dimana” tak lain adalah cara Tuhan untuk memanggil manusiaNya kaarena ia rindu pada hambaNya. Supaya Ia bisa lebih dekat dengan hambaNya. Supaya Ia bisa benar-benar memeluk hambaNya.

Quote

Nothings to say but thank you.

Thank’s for the joyfull of life

Thank’s for the great story

Thank’s for the brilliant experience

Thank’s for the big spirit

There is no regret being your part

There is no griped for stand by your side

Surely that I know nothing about your all 116 years, but i have 100% feeling for you

Always hope the best and best wishes for you, my lovey team!!

Happy Anniversary Juventus… Many happy return of that day 🙂

1 November 1897 - 1 november 1897

1 November 1897 – 1 november 2013

Happy 116!!!!