Tuhan Juga Rindu


Sebuah kenyataan dimana hampir semua manusia pernah memunculkan pertanyaan “Tuhan, Kau dimana?”

Pertanyaan yang mungkin saja tidak disadari oleh beberapa orang atau mungkin mereka sengaja mengelak dan berpura-pura tidak menyadari munculnya pertanyaan itu dengan alasan iman.

Entah sadar atau tidak, sebagian besar dari manusia kadang-kadang masih berpikir keras akan eksistensi penciptanya. Tak sedikit dari kita yang tiba-tiba bertanya “Tuhan, Kau dimana?”

Pertanyaan yang kadang-kadang menempati sela-sela cerebellum.

Pertanyaan yang selalu timbul ketika manusia berada pada kondisi yang tersudut.

Pertanyaan klasik dari manusia yang sedang berada dalam kubangan polemik. Pertanyaan retoris yang kadang-kadang diikuti dengan rangkaian kata keluh kesah.

Dan; karena Tuhan adalah Maha Segalanya, Dia bisa saja memberikan jawaban dengan pertanyaanNya

“Kenapa mencariku sekarang?”

“Kenapa baru mengingatku sekarang?”

Yupp… Tuhan benar. Kenapa pula sebagian besar dari kita baru mengingat Tuhan di saat yang tidak menyenangkan? Saat yang tidak menyenangkan bagi kita itu, mungkin adalah moment paling mengasyikkan bagiNya karena diingat oleh hamba yang Dia cinta tapi sering lupa padaNya.

Lalu, bagaimana jika pertanyaan “Tuhan, Kau dimana?” terlontar dari minoritas? Dari hamba yang tidak lupa pada TuhanNya. Dari hamba yang tak lalai melaksanakan setiap perintahNya. Dari hamba yang selalu memujiNya.

Entahlah… apakah benar ada manusia yang seperti itu? Benarkah di setiap pujian terhadapNya hanya untukNya? Benarkah setiap tawa yang diiringi syukur itu sepenuhnya untuk Sang Esa? Benarkah setiap perintah yang terlaksana hanya karenaNya?

Mungkin tidak. Mungkin Tuhan ingin pujian yang lebih. Mungkin Tuhan ingin tawa yang benar-benar untukNya. Mungkin Tuhan ingin perintah itu dijalankan karena benar-benar mencintaiNya.

Mungkin….. karena Tuhan masih merindukan hambaNya yang minoritas itu, maka dibuatlah keadaan yang mengharuskan pertanyaan “Tuhan, Kau dimana?” terlontar dari manusia yang katanya tak pernah lupa padaNya.

Karena Tuhan juga berhak merindukan manusia yang diciptakanNya! Dan Ia punya cara sendiri untuk melepaskan kerinduan itu.

Jadi, pertanyaan “Tuhan, Kau Dimana” tak lain adalah cara Tuhan untuk memanggil manusiaNya kaarena ia rindu pada hambaNya. Supaya Ia bisa lebih dekat dengan hambaNya. Supaya Ia bisa benar-benar memeluk hambaNya.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s