Sebuah Peran


Tuhanku, aku sudah memainkan peranku sebagai hambaMu dengan baik bukan?

Aku melakukan perintah wajibMu

Tidak selalu tepat menjalankan mungkin..

Terkadang masih lalai dan bermalas-malasan

Tetapi Tuhan, aku berusaha untuk selalu menyempatkan waktu menemuiMu

Di setiap kesempatan yang kumiliki, bertemu denganMu itu luar biasa

Benar, aku memang bukan hambaMu yang paling taat

Benar, aku memang bukan hambaMu yang bersih dari perkara siksa

Benar, aku punya sejuta catatan kriminal yang mungkin telah dituliskan secara rapi oleh para asistenMu

Benar Tuhan, aku sudah tercoreng moreng

Ada cacat dalam setiap peran yang kulakoni sebagai hambaMu

Tapi, tidakkah ada toleransi bagiku atas cacat-cacat yang telah tercatat itu?

Toleransi karena kecacatan itu adalah caraku memainkan peranku sebagai Manusia

Manusia dengan nafsunya yang melimpah ruah

Nafsu yang sama sekali tak peduli pada dosa

Ahh….persetan dengan dosa dan ancaman nerakanya

Setiap bulir dosa itu adalah gelora kebahagiaan dan kenikmatan yang tiada tara

Lalu, bagaimana bisa berpikir akan dosa?

Dan jika benar bahwa aku adalah pendosa yang paling hina di dunia

Maka ampunilah aku Tuhan

Ampunilah bagian dariku yang menurutmu adalah perkara siksa

Hapuskanlah catatan noda yang memburamkan aku sebagai hambaMu

Tak bisakah peranku yang berpahala sebagai hambaMu menjadi penanggung peranku yang penuh dosa sebagai manusia, Tuhan?

Bukankah peranku sebagai hambaMu telah kulakukan dengan sangat baik?!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s