Semeru Tanpa Rencana


Keberangkatan yang tidak direncanakan. Sebuah ‘trip’ yang tidak terduga. Menginjakkan kaki di gunung Semeru (lagi). Rencana yang awalnya menjadi milik pacar dan kawanannya, berubah menjadi perjalanan kami. Tujuan yang awalnya sampai Mahameru, berubah menjadi Ranu Kumbolo. Iya, hanya danau Kumbolo. Karena saya memiliki misi tersendiri untuk menginjak pasir Mahameru (semoga bisa, ASAP). Dan yaaa….akhirnya sampailah pada waktu keberangkatan yang sudah kami tentukan.

Tanggal 25 Desember 2013, jam 06.00 PAGI berangkat dari Surabaya menuju terminal Arjosari, Malang. Semua perlengkapan yang kami butuhkan  (insya Allah) sudah lengkap, tinggal angkut.

25 Desember 2013 (04.30 WIB)

Mandi, salat subuh, lalu siap-siap. Melakukan pengecekan terakhir sebelum berangkat. Memastikan semua perlengkapan yang kami butuhkan tidak tertinggal. Memastikan kebutuhan pribadi seperti obat-obatan sudah ada di dalam tas yang hendak saya bawa. Kacamata oke. Masker dan slayer oke. Jaket siap. Kaus kaki juga sudah. Maunya juga membawa bantal, selimut tebal, dan boneka-boneka untuk teman tidur; sayangnya tidak ada cukup tempat. Carier sudah penuh sesak dengan barang-barang macam jas hujan dan tenda. Bahkan untuk memasukkan peralatan mandi plus setelah mandi (make up) saja membutuhkan kreativitas yang tinggi supaya semuanya bisa terjejal ke dalam tas. Dan yaaa… untuk pergi ke gunung memang hanya perlu membawa hal-hal yang perlu. Hal-hal yang perlu antara individu satu dan individu lainnya tidak sama bukan? Setiap orang memiliki keperluannya masing-masing. Jadi, boleh saja jika saya mengatakan bahwa membawa lipbalm itu perlu!

Oke, semua sudah siap. Tinggal menunggu jemputan. BBM yang saya kirimkan pada Mr.Transporter juga sudah berlogo ‘R’; artinya dia sudah bangun. Sudah siap berangkat. Tidak lagi ada acara ngaret.

06.00 WIB

Siap memanggul tas. Menunggu jemputan.

06.30 WIB

Tidak ada tanda-tanda kedatangan orang yang hendak menjemput. Sigh! Mungkin masih di jalan?

Kesal, pasti. Bahkan emosi semakin menjadi ketika teman sekamar saya bertanya heran “Kok belum berangkat, Mei?” dan saya menjawab “Yang jemput masih bubu”.

06.45 WIB

Sebuah pesan via BBM “Baru bangun”

Shit! Oke… baru bangun. Ya sudahlah. Toh perjalanan kali ini bukan rencana yang saya buat. Kalaupun molor atau bahkan mungkin dibatalkan, it doesn’t matter at all. Namanya juga rencana yang tak terencana.

07.30 WIB

Kami tiba di terminal Bungurasih (Purabaya). Tidak banyak bicara. Saya hanya mengangguk ketika si partner mengatakan “Maaf”. Berusaha untuk diam saja. Tidak mau menyulut rasa kesal menjadi kemarahan. Lagipula saat itu kondisi tubuh memang sedang tidak 100% fit. Masih ada lelah setelah sehari sebelumnya melakukan trip yang lain ( 😀 ). Karena itulah, daripada semakin lelah karena melampiaskan emosi  gara-gara jam keberangkatan yang molor, lebih baik diam saja. Tidur di bus!

11.00 WIB

Sampai di terminal Arjosari. Kondisi saat itu hujan, cukup deras. Dan dengan segera kami menuju tempat mangkalnya angkutan yang bisa mengantarkan ke daerah Tumpang, tempat pemberhentian sebelum menggunakan angkutan khusus menuju Ranu Pani.

Jadi, dari Arjosari naik angkot warna putih, turun di Tumpang. Sampai terminal Tumpang, angkutan yang dapat digunakan adalah mobil Jeep atau menumpang truck.  Sama seperti tahun lalu, saya juga menjadikan truck sebagai transportasi dari Tumpang ke Ranu Pani. Lebih ekonomis. Bisa menggunakan kamar mandi pemilik jasa angkut trucknya pula 😀

13.45 WIB

Saya sudah duduk manis di kursi truck. Duduk di samping pak supir (insya Allah namanya Pak Wahyu), sedangkan manusia yang menjadi partner perjalanan ini bergerombol duduk di bak truck bagian belakang. Hahahahahahaaaa….

15.30 WIB

Truck yang saya tumpangi sudah melewati caldera dan jalanan menuju gunung Bromo. Karena jalanan yang biasanya dilewati tertutup oleh longsor, maka truck ini melewati ladang penduduk. Setelah menurunkan beberapa penumpang yang hendak melakukan perjalanan ke gunung Bromo, truck yang saya tumpangi melanjutkan perjalanannya melalui jalan ‘atas’. Jalan ‘atas’ adalah sebutan para sopir dan penduduk setempat terhadap jalanan yang di kanan kirinya adalah ladang bawang daun dan kubis milik penduduk. Sementara jalan utama yang biasanya dilewati oleh Hartop (mobil Jeep) dan truck untuk mengantarkan pendaki ke pos perijinan Ranu Pani disebut jalan ‘Bawah’.

Dan beberapa saat sebelum samapi, truck yang saya tumpangi harus berhenti karena terdapat sebuah truck dari arah berlawanan yang rodanya terselip. Jalanan kecil..bergelombang…berbatu dan becek karena air hujan… jadi, bagaimana bisa melanjutkan perjalanan jika di arah depan ada truck lain yang sedang mogok?

Lagipula, tempat ini bukan kota. Satu truck mogok adalah tanggungan semua sopir truck beserta awaknya yang saat itu juga berada di TKP. Membantu bagaimana caranya truck mogok tersebut dapat segera meluncur kembali. Dan yaaa…. Pak Wahyu yang menjadi sopir truck saya juga melakukan tugasnya untuk ikut mengobati truck mogok itu.

Beberapa penumpang truck yang saya tumpangi juga ikut turun. Tapi, mereka hanya menonton. Saya… juga sama seperti mereka. Tidak tahu harus berbuat apa supaya truck di depan itu bisa segera berjalan. Hanya bisa membidikkan kamera 😐

Tapi syukurlah, mogok tersebut tidak lebih dari 30 menit. Setelah itu, truck mogok yang mengangkut panen kubis tersebut melanjutkan perjalanannya, dan truck yang saya tumpangipun kembali melaju menuju Ranu Pani.

16.30 WIB

Welcome in Ranu Pani.

Dan siap-siap menuju pendakian..yang yaaaahhh..lagi-lagi harus malam hari. Hal inilah yang menjadi maksud saya untuk berangkat dari Surabaya pagi-pagi. Supaya tidak melakukan pendakian malam hari. Tapi yaaa sudahlah… mau bagaimana lagi. Segeralah saya menuju loket perijinan, then..

Di bagian depan loket sudah tertempel kertas yang bertuliskan ‘Kuota Penuh. Pendaftaran Pendakian Dilanjutkan Besok Pagi’.

Ahhhhhh…. Inilah susahnya… jika musim liburan, kuota pendakian selalu penuh, karena itu pula lebih baik berangkat pagi hari supaya mendapatkan tiket masuk. Dan akhirnya, setelah meminta izin dari petugas, tenda kami dirikan di pelataran parkir Ranu Pani.

Mau bagaimana lagi?

Dan trip yang tak terencana ini memang benar-benar tak bisa direncanakan.

Jadilah, malam ini kami menghabiskan waktu di dalam tenda bersama pendaki-pendaki lain yang juga mendirikan tendanya.

Oke… setidaknya saya memiliki waktu istirahat. Merebahkan tubuh yang sedikit ngilu dan kepala yang sedikit berdenyut.

19.00 WIB

So cold!!!

Entah berapa suhu saat itu, tapi yang pasti tubuh saya menggigil tak karuan. Heiii…saya masih belum berada di Ranu Kumbolo.. Masih di Ranu Pani… Masih ada peradaban di sini, tapi dinginnya masya Allah. Badan saya panas, tapi tubuh menggigil. Dan yaahhh… I’ve got fever. Fiuhhhh…

Di Rumah Pak Rus, Pemilik Angkutan Truck Bagi Penumpang Yang Hendak Menuju Ranu Pani.

Di Rumah Pak Rus, Pemilik Angkutan Truck Bagi Penumpang Yang Hendak Menuju Ranu Pani.

Truck Yang Mogok

Truck Yang Mogok

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s