Di Keraton Yogyakarta

Keraton Yukkkk….

Mengunjungi istana kesultanan Yogyakarta juga bisa dijadikan tujuan utama jika berkunjung ke Yogja. Setidaknya bisa melihat benda-benda yang berkaitan dengan kerajaan Yogyakarta. Melihat-lihat lukisan. Atau hanya untuk mengamati arsitektur bangunan yang kental dengan tatanan fengshui Jawa. Misalnya; ada patung di kanan kiri pintu masuk halaman utama keraton, yang mana patung di sebelah kanan menandakan kebaikan dan sebelah kiri menandakan sifat buruk. Sebagai perlambangan bahwa setiap manusia memiliki dua sisi kepribadian dalam hidupnya.

Dan yang perlu diingat adalah…untuk masuk ke area Keraton bacalah tulisan di loket pembelian tiketnya. Saya, yang terlalu excited…tidak membaca. Langsung saja mengunjungi ibu-ibu yang menjaga loket sambil berkata “Dua ya bu”. Balasan si ibu begitu ramah; “Mbaknya dari mana?” sembari tersenyum. Dan Saya pun menjawab dengan senyum simpul; “Surabaya bu..”. Kemudian si Ibu kembali tersenyum sembari berkata; “Wisatawan domestik kan? Beli tiketnya di sebelah kiri ya” lalu mengarahkan tangannya pada sebuah loket lain yang bertuliskan “Loket Wisatawan Domestik”.

Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh….. dodolnya Saya πŸ˜€ Tapi kenapa pula harus dipisahkan ya??? Toh bayarnya juga sama-sama rupiah… Kalaupun beda harga, kenapa tidak diberi tulisan saja yang membedakan harga antara wisatawan mancanegara dan domestik. Have no idea… Sudahlah.. Keraton tetap layak untuk disapa jika kita punya waktu wisata ke Yogya πŸ™‚

Parkir Bus Menuju Keraton

Parkir Bus Menuju Keraton

Yogyakarta

Latest Post…

Yogyakarta…selalu istimewa..

Tidak pernah ada kata bosan untuk mengunjungi rumah Sri Sultan Hamengkubuono tersebut. Lagi dan lagi… tak perlu alasan untuk pergi ke Jogja.

Bagi saya, menginjakkan kaki di Yogyakarta sama halnya dengan mengucapkan kata ‘Pulang’.

Tempat dimana Saya bisa tidur lelap, lupa dengan semua beban hidup. Melepaskan semua penat. Bahkan, ketika emosi marah nan kesal tumpah ruah…Yogya masih bisa membuat bahagia.

Ada semacam magic yang membuat kota (Provinsi) itu terasa nyaman. Sebuah sihir yang selalu membuat Yogya tak akan pernah berhenti merangkaikan sebuah kisah… Yogyakarta, always and still never ending.

We're in Yogyakarta :D

We’re in Yogyakarta πŸ˜€

Sebuah Pantai Bernama Delegan

Indonesia adalah negara maritim. Negara dengan kawasan perairan yang mendominasi wilayahnya. Danau, sungai, waduk, dan laut. Dan semua kawasan perairan itu berpotensi besar sebagai tempat wisata. Laut, salah satu kawasan perairan yang salah satu bagiannya juga menjadi spot wisata. Dengan banyaknya laut di indonesia, maka banyak pula pantai-pantai yang bertebaran di seluruh penjuru Nusantara. Salah satu pantai yang kemudian menjadi objek wisata itu adalah Pantai Pasir Putih Delegan. Sebuah pantai kecil yang dikelola secara sederhana oleh pemerintah kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Tidak ada panorama spesial dari Pantai Delegan ini memang. Hanya pasir putih yang sesekali dihampiri deburan ombak. Bahkan Saya juga tidak mengetahui apa arti dari kata ‘Delegan’.

Bagian tepinya juga tak jauh beda dengan pantai wisata di kawasan Pantura lainnya… berjejer kios-kios yang menjajakan oleh-oleh khas daerah setempat yang pada umumnya berupa kain pantai, baju pantai, dan topi pantai. Ada juga replika-replika perahu layar. Mau makan? Ada kok warung-warung makanan. Mungkin menu yang ditawarkan di setiap warung makan di tempat ini tidak sama dengan pantai-pantai utara lainnya, rata-rata menu yang ditawarkan adalah rujak cingur dengan minuman utama es dawet legen. Kalau mau rekomendasi dari Saya, rasa rujak manis di tempat ini oke! Ada rasanya πŸ˜€ Tidak hambar dan tidak aneh-aneh… Bisalah memanjakan lidah bagi mereka yang memiliki selera tinggi untuk sebuah jajanan rujak manis πŸ˜›

Cukup untuk membuang penat dari asap yang beterbangan di kota.

Salah satu spot di pinggir pantai. Tempat ini biasa digunakan pengunjung yang hanya ingin menikmati suasana pantai tanpa mau berbasah-basahan.

Salah satu spot di pinggir pantai. Tempat ini biasa digunakan pengunjung yang hanya ingin menikmati suasana pantai tanpa mau berbasah-basahan.

Monumen Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Pernah mendengar kisah tenggelamnya kapal Van Der Wijck?

Sebuah cerita yang populer dari novel karangan Buya Hamka. Yang kemudian saat ini menjadi semakin terkenal setelah kisahnya diputar di bioskop-bioskop tanah air. Kisah ‘nya’ yang difilemkan itu adalah kisah yang dituturkan dalam novel, romansa dua orang anak manusia yang berbeda budaya.

Tapi, tahukan kalian bahwa Van Der Wijck benar-benar sebuah kapal yang tenggelam?

Hohohohoho…Saya tahu.

Dan Alhamdulillah..akhirnya memiliki kesempatan untuk berkunjung ke monumen yang menjadi bukti akan sejarah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sebuah monumen sederhana yang dibangun oleh tentara kolonial Belanda sebagai bentuk terimakasih kepada masyarakat setempat yang saat ini memberikan pertolongan kepada korban kapal yang tenggelam. Van Der Wijck adalah sebuah kapal layar yang diambil dari nama salah satu gubernur Hindia Belanda.

Kata sejarah, kapal ini berlayar dari Bali menuju Semarang, dan singgah sebentar di Surabaya yang kemudian melanjutkan perjalanannya. Namun ketika samapai di laut Lamongan, 12 mil dari pelabuhan Brondong, kapal ini tenggelam. Ada yang menyebutkan kapal mengalami kebocoran. Ada pula yang mengatakan kapal kelebihan muatan karena banyak mengangkut penumpang ilegal. Catatan mengenai jumlah korban, baik jiwa maupun luka, juga kurang jelas. Yang jelas adalah, peristiwa tenggelamnya kapal Van Der Wijck ini adalah nyata.

Sayangnya, monumen yang memiliki nilai sejarah ini tidak terawat. Tak banyak orang mengetahui bahwa di Lamongan ada tempat yang memiliki cerita heroik bangsa Indonesia. Sebuah monumen yang terletak di pelataran kantor Perum Prasana Perikanan Samudra Cabang Brondong, yang beradaΒ  di belakang gapura menuju Pelabuhan dan Tempat PeIelangan Ikan –Β  Brondong, Lamongan. Monumen dengan ketinggian sekitar 15 meter ini mungkin disangka sebuah tower biasa oleh orang awam karena bentuknya memang tidak menarik. Hanya monumen dengan dua buah prasasti yang tulisannya sama, hanya beda bahasa. Satu prasasti menggunakan bahasa Belanda (badan monumen sebelah timur), dan prasasti lainnya dituliskan dengan bahasa Indonesia (sebelah barat). Selebihnya, hanya kantor dan tumpukan sampah.

Sebuah tempat yang sebenarnya bisa dikembangkan oleh pemerintah daerah setempat.

Selain untuk menjaga nilai historis dari cerita Van Der Wijck, tempat ini juga bisa meningkatkan pendapat daerah. Lumayan..nambah-nambahin kas pemerintah walaupun hanya beberapa ribu rupiah bukan?

Mau berkunjung ke monumen ini?

Saya tak tahu jelas alamatnya, yang pasti terletak tidak jauh ari jalan raya ke arah pelabuhan dan TPI Brondong atau jalan raya Pantai UtaraΒ  Lamongan, di belakang pos penjagaan bapak police. Silahkan dicari jika berminat πŸ˜€

Yang pasti di monumen ini tidak ada ukiran nama Zainuddin & Hajati seperti di novel Buya Hamka πŸ™‚

Semeru Tanpa Rencana (3)

27 Desember 2013

03.00 WIB

Terbangun dari tidur. Waahhh….ternyata bisa tidur. Walaupun hanya beberapa jam, setidaknya bisa melewati waktu krusial Kumbolo. Waktu dimana suhu bisa di bawah nol derajat celcius.

Terbangun karena henpon meraung-raung. Alarm menyala. Dan saat itu Saya sadar henpon sedang berteriak-teriak menyuruh bangun. Tapi entahlah, kesadaran itu cuma sekedar menyadari “ohh..sudah jam tiga”, kemudian saya terlelap kembali. Melanjutkan ringkukan dalam kantung tidur.

05.00 WIB

Benar-benar terbangun. Kebelet pipis πŸ˜›

Manusia-manusia dari tenda lain juga sudah mulai berkicau. Saya, memberanikan diri membuka tenda… Brrrrrrrrrrrrrrrrrrr…duinggggggiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnn…. Beberapa dari mereka sibuk memotret munculnya sinar matahari. Saya, hanya mengintip dari balik tenda. Belum berani keluar. Hohohohoho.

06.00 WIB

Memberanikan diri mengambil air karena persediaan air minum di botol kami sudah tak ada lagi πŸ˜€

Dan yaaa..berusaha keras melawan dingin.

Merendamkan kaki ke air danau, yangg..hangat ternyata. Iya, ketika kaki berada di dalam air rasanya hangat. Tidak terlalu dingin. Tapi kemudian, setelah mentas barulah dingin itu menusuk tulang kaki… ada hubungannya dengan sains sih..tapi whatever lah… yang pasti setelah mengeluarkan kaki dari danau, Saya bergegas menuju tenda. Mulai melakukan aktivitas memasak. Membuat sarapan dan minuman hangat.

Nasi putih, Sarden dan nugget goreng.

Rasanya? Asin. Terlalu banyak menggunakan margarin πŸ˜€ Ahh..biarin, yang penting sarapan.

07.30 WIB

Meninggalkan tenda, menuju bumi perkemahan untuk poto-poto πŸ˜€

Mencari spot yang enak dipandang mata…

Bagaimana dengan tanjaakan cinta?

Oohh…ingin sebenarnya berjalan menanjak dan melihat oro-oro ombo.

Tapi sumpah, Saya sedang tidak bernafsu untuk menapaki tanjakan yang katanya memiliki makna mistis itu. Hanya memotret keadaan bumi perkemahan yang kata salah satu pendaki tak jauh beda dari pasar malam.

Hihihi….

Dan karena begitu ramai pulalah saya tidak bisa menemukan kawan pendakian yang pada form perijinan, namanya tercantum sebagai anggota mendaki kami. Mereka baik-baik saja, kok…Semoga πŸ™‚

09.00 WIB

Puas dengan poto-poto, kembali ke tenda. Bersiap-siap untuk turun gunung. Kembali ke peradaban.

10.30 WIB

Menuruni Semeru.

Agak sulit ketika harus menuju pos empat.

Dan yahhh…. selempangan tas carier patah! Fiuuhhhhhhhhhhhhh………….

Benar-benar sebuah hal yang tak terencana….Saya pun melihat sekitar. Mencari tali rafia yang ditinggalkan oleh pendaki lain, atau bahkan jika beruntung menemukan tali pramuka. Dan sembari mencari tiba-tiba saja Saya memberikan ide untuk menggunakan peniti.

Sebuah ide stress. Bayangkan…tali gendongan ransel yang beratnya sekitar 50 liter atau sekitar 25 kag (sepertinya πŸ˜€ ) direkatkan dengan jarum peneti. Butuh berapa penitikah supaya carier tersebut dapat dipanggul kembali??? Nonsense!! Ide gila yang berasal dari orang gila yang kemudian diimplementasikan oleh orang gila! Benar-benar pasangan gak beres…hahahahahaha….

Tapi, Tuhan itu baik. Sangat baik. Tak lama, setelah partner saya mulai menusuk-nusukkan tiga buah peniti, sepasang pendaki melintasi kami. Salah satu diantaranya bertanya (Sebut saja Mr.S)

“Putus mas? Dibenerin pake peniti begitu apa kuat? (dan mungkin dia juga membatin, ‘dua orang ini gak waras’)”

Sembari tetap umeg dengan peniti-peniti, partner saya menjawab “Iya mas, Putus. Gak tau belum dicoba”.

Jawaban yang begitu absurd dan sangat pasrah πŸ˜€

Saya tahu bahwa logikanya mengatakan “Tidak Bsia”, tetapi entah kenapa mulutnya begitu halus dengan mengucapkan “Belum dicoba” πŸ™‚

Lalu kemudian, Mr. S tersebut berkata “Aku ada tali pramuka, mas. Pake aja”

Alhamdulillah… Oh..God..You’re my Hero. Benar-benar bisa membaca pikiran saya πŸ˜€

Dan yaaa…akhirnya satu panggulan carrier tersebut disambungkan dengan tali pramuka.

Inilah kurangnya barang yang saya bawa. Tidak membawa tali (tali pramuka atau rafia). Padahal sewaktu melakukan perjalanan pertama ke Semeru, Saya membawa tali-tali itu, tetapi tidak terpakai. Sekarang, saat tali-tali tersebut Saya lalaikan…mereka dibutuhkan. Pelajaran, bahwa pendaki mutlak perlu membawa tali pramuka walaupun kita tidak pernah tahu kapan tali itu akan dapat digunakan.Β 

14.30 WIB

Sudah melewati pos satu.

Target jam 3 sampai Ranu Pani, dan syukurlah berhasil.

Bisa turun dengan selamat. Fiuhh……

Tidak ada sebuah perjalanan yang benar-benar tak berencana.

Akhirnya tepat pukul 16.00 Saya meninggalkan tanah Semeru. Menumpang truck kembali.

Bukan perjalanan yang spectaculer, but so fun.

Setidaknya masih bisa membuang jauh-jauh perasaan suntuk dari kepulan asap kendaraan bermotor yang ada di kota. Melihat pohon-pohon tinggi yang melantunkan harmoni pada gesekan antar daunnya. Melihat kabut yang turun berarak ke arah ranu. Berpapasan dengan pendaki-pendaki lain dari berbagai kawasan di Indonesia.

Dan yaah..juga dengan mereka yang berasal dari luar Indonesia, Bule πŸ˜€

Capek, iya.

Kesel, juga.

Tapi bahagia πŸ™‚

Iya, kadang-kadang hal yang tidak direncanakanpun bisa mendatangkan tawa. Dan semoga tawa itu bisa selalu ada, bahkan tanpa harus dimulai dengan sebuah rencana πŸ™‚

Akhirnya Turun Gunung :)

Akhirnya Turun Gunung πŸ™‚