Cukup Dengan Memancing

Hari minggu lalu, saya pergi ke sebuah area kolam pancing bersama Ian (nama disamarkan), adek les sekaligus tetangga kamar kos. Sebuah acara yang menjadi janji saya padanya beberapa pekan lalu. Hanya janji sederhana kepada bocah yang berusia 7 tahun. Janji sederhana yang setidaknya memiliki efek luar biasa.

Sebagai anak yang kurang beruntung karena merupakan ‘produk’ broken home, dimana mamanya harus bekerja mencari biaya hidup mereka dari pagi hingga malam; ajakan saya semacam jalan-jalan istimewa buat dia yang hanya menghabiskan waktunya antara di sekolah dengan di kamar kos.

Bagi saya memancing itu tak ubahnya seperti kegiatan manusia-manusia tak punya dan malas kerja karena menggantungkan hasilnya pada keberuntungan, tetapi bagi Ian area pancing itu adalah keajaiban dunia. Meskipun banyak pertanyaan yang ia lontarkan serta beberapa kali kami beradu argumen tentang hal-hal tak penting di sana (sumpah, dia itu pandai bersilat lidah. Bicaranya juara!), mengetahui bagaimana dia menceritakan kisah ‘liburan’ singkat pada sang mama; saya ikut hanyut dalam irama bahagianya.

Dia bertutur bahwa di kolam pancing itu dia bisa melihat banyak ikan dengan ukuran yang besar-besar. Walaupun jumlah dan ukuran ikan yang kami dapatkan sama sekali tak bisa menandingi hasil tagkapan pemancing lainnya, tak ada gurat kecewa dari wajahnya saat sang mama menanyakan apa yang dia lakukan di tempat pemancingan. Cukup dengan memancing, Ian sudah bisa merasakan kesenangan yang luar biasa. Mengatakan pada mamanya bahwa ia bahagia dengan bahasa bocahnya sembari berkata pada mama “aku boleh pergi sama mbak Mei lagi ya, Ma” (dituturkan Ian dalam bahasa Jawa).

Benar-benar sebuah pelajaran bahwa saya benar-benar harus belajar merasa cukup untuk mengerti akan bahagia, bahkan dari sesuatu yang tidak saya suka.

Setelah Mati Suri

Setelah terabaikan hampir selama 2 bulan, akhirnya bisa log in lagi ke laman ini. Bermula dari perangkat yang error sampai user yang error dan sama sekali tak beringin untuk ngoceh di halaman ini, jadilah tak ada cerita yang menghiasi beranda dalam 2 bulan terakhir.

Seperti mati suri, saya sama sekali tidak memiliki passion untuk beraksi di laman ini. Jangankan aksi, membukan ID nya saja enggan. Have no passion.

Ahhh sudahlah…

Mari mencoba memposting kembali. Bertutur lagi melalui cerita, tidak selalu ceria mungkin; tetapi setidaknya tak lagi kekepoan akan sebuah cerita 😀

3RD

3 Tahun

Fiuhhhhhhhhh…

Coret-coret di laman ini sudah berusia 3 tahun.

Ibaratnya tingkatan usia manusia, dia sudah bisa berlari..sudah bisa ngoceh, sudah bisa nyanyi-nyanyi, dan bahkan beberapa sudah berhenti ngompol.

Dan dalam 3 tahun perjalanan blog ini, dia…. tidak tahu bisa apa.

Bahkan sempat vakum dalam beberapa saat. Tak rutin lagi membeberkan cerita, gosip, kisah, dan narasi basa-basi seperti saat-saat pertama laman ini beredar di dunia maya.

Tapi lumayan, bisa bertahan 3 tahun.

Semoga saja perjalanan satu tahun ke depan  bisa lebih all out 🙂