Adek Les yang Malang

Adek les yang malang… Rasanya sangat tersentuh ketika beberapa kali dia memanggil saya dengan sebutan “Ma”.

Sesekali ketika kami sedang belajar bersama atau ketika dia hendak menanyakan sesuatu; pasti berkata “Ma… aku mau…” atau “Aku boleh makan nasi goreng gak, Ma”

Ohh Tuhan…malangnya dia.

Malang karena panggilan tersebut menunjukkan dia membutuhkan perhatian lebih dari mamanya. Membutuhkan waktu yang lebih untuk bersama mamanya.

Malang juga karena secara tidak sadar harus memanggil saya “Mama” melalui alam bawah sadarnya. Kalau dia sadar, pasti akan segera berisstighfar 😀

Cerita di Surabaya

Pernah ke Monumen Kapal Selam? Saya, setelah lebih dari lima tahun berdomisili di kota Pahlawan… baru sekali menginjakkan kaki ke Monkasel. Salah satu destinasi wisata yang disediakan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Letaknya di Jalan Pemuda, bersebelahan dengan Surabaya Plaza atau lebih dikenal dengan Delta Plaza (tempat yang sudah sering saya kunjungi).

Mungkin sebagian besar orang menilai Monkasel hanyalah seonggok bangkai kapal yang sudah tidak digunakan, jadi untuk apa masuk ke dalamnya?

Kalau saya, ingin tahu saja apa yang ada di dalam Monkasel. Jarang-jarang bukan masuk ke dalam kapal selam yang digunakan TNI untuk perang? Dimana lagi kita bisa melihat torpedo kapal selam dengan bebas selain di Monkasel? Nope! Bahkan banyak bule yang menjadikan Monkasel sebagai tempat hang out mereka di Surabaya.

Satu lagi, di Monkasel ini addemmmm… walaupun hanya ‘bangkai’ kapal, di dalamnya terpasang AC sehingga pengunjung tidak perlu merasa sumuk saat berjejalan  di lambung kapal. Asiknya lagi di dalam Monkasel bebas poto-poto. Bisa mengeksplorasi setiap sudutnya dengan lensa kamera. Mbak yang menjaga di dalmnya juga menyenangkan. Tidak menampakkan wajah yang metutu. Setiap pertanyaan pengunjung dijawab tanpa ada perasaan terganggu.

HTM?? Rp 8000. Harga itu sebanding dengan apa yang disajikan di dalam lambung kapal! Selain masuk ke dalam museum kapal, tiket masuk itu juga berlaku untuk menikmati pertunjukan teater Ramayana yang letaknya di belakang museum. Tidak mahal kan? 😀

Dari Monkasel…. lanjut ke Museum Tugu Pahlawan. Dan kunjungan ke Museum TP ini juga kali pertama bagi saya.

Apa yang disajikan di dalam Museum TP tidak kalah dari Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta. Bahkan saya harus mengakui bahwa Museum TP jauh lebih kece dibandingkan Museum Vredeburg. Bukannya ingin membandingkan, melainkan hanya memberikan penilaian yang objektif. Saya suka museum Benteng Vredeburg, tetapi selama kunjungan saya ke Museum yang ada di ranah sultan tersebut saya tak pernah sekalipun dapat menikmati diorama yang ada di sana. Kondisi diorama statis di Vredeburg sudah tidak sempurna. Untuk mengetahui jalan ceritanya harus membaca plakat yang terpampang di depan diorama. Sementara di museum TP, jalan cerita dioramanya masih bisa didengarkan melalui perangkat audio yang ada.

Jadi saya rasa tidak salah jika memberikan nilai lebih pada museum TP dibandingkan museum benteng Vredeburg 🙂

Walaupun harus  diakui bahwa HTM museum TP lebih mahal dibandingkan Vredeburg. Untuk masuk ke area Benteng Vredeburg saya hanya mengeluarkan Rp 2000, sedangkan memasuki museum TP harus  merogoh kocek sebesar Rp 5000,-. Sebandinglah dengan apa yang ada di dalamnya.

So, tidak memiliki ide untuk meikmati panasnya kota Pahlawan?? Ke Monkasel dan Museum TP saja, cukup untuk menggambarkan bahwa  Surabaya juga punya cerita.

Cerita Tentang Gunung Anyar

Semalam saya dan adik les belajar tentang penampakan permukaan bumi. Kami belajar tentang gunung. He’s so exiceted! Terlebih ketika saya memberikan pengajaran dengan memutarkan video-video tentang aktivitas yang bisa ‘dilakukan’ oleh gunung. Mulai dari gunung meletus, hingga gunung yang menjadi destinasi wisata oleh manusia. Letusan gunung adalah video favoritnya.

Adek les saya bertanya tentang nama-nama gunung berapi yang ada di Indonesia. Menanyakan gunung-gunung tertinggi di dunia & entah kenapa dia begitu takjub dengan nama gunung Kilimanjaro. Lalu kemudian dia bertanya “Gunung itu (Kilimanjaro) ada dimana mbak?”; Saya jawab “Di Afrika, Dek”. Lalu dia menimpali dengan sebuah cerita;

“Di Amerika ada mbak gunung yang lebih tinggi. Letusannya paling menakutkan di dunia”; awal cerita yang dilontarkannya secara menggebu.

Kemudian saya menimpali dengan  pertanyaan “gunung apa?”

Dia menjawab dengan mimik muka serius “Gunung Anyar”

Sayapun hanya bisa calangapan semabri melihatnya; berusaha menahan tawa. Bahkan saking sakitnya menahan tawa, keringat saya bercucuran deras!

Tak sampai di situ; dia membuat saya menahan tawa hingga sisa jam les. Menceritakan bagaimana si gunung anyar itu meletus hingga menyebabkan semua penduduk di Amerika  tak bernyawa. Sebuah kisah menakutkan yang dibawakan dengan penuh kengerian, sementara saya menahan nyeri karena harus memasang mimik muka tertarik pada kisah bocah 7 tahun itu.

Saat saya sedikit mengeluarkan tawa; si adek les berkata “Gunung Anyar ini di Amerika loh mbak; bukan Gunung Anyar yang ada di sini”.

Gunung Anyar di Amerika… dimanakah letak pastinya?? Di kota saya sekarang; Gunung Anyar itu adalah nama sebuah jalan.

Adek les saya ini luar biasa ya… hanya dari sebuah jalanan sempit, dia bisa melanglangkan pikirannya hingga lintas benua. Menjadikan Gunung Anyar sebagai setting kisah yang dia suka. Sebuah imajinasi takterkira dari bocah yang menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dan kamar kos (sesekali di tempat kerja mamanya).

Saya rasa malam itu dia kembali mengajarkan bagaimana caranya berbahagia dengan apa yang kita suka 🙂