Cerita di Surabaya


Pernah ke Monumen Kapal Selam? Saya, setelah lebih dari lima tahun berdomisili di kota Pahlawan… baru sekali menginjakkan kaki ke Monkasel. Salah satu destinasi wisata yang disediakan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Letaknya di Jalan Pemuda, bersebelahan dengan Surabaya Plaza atau lebih dikenal dengan Delta Plaza (tempat yang sudah sering saya kunjungi).

Mungkin sebagian besar orang menilai Monkasel hanyalah seonggok bangkai kapal yang sudah tidak digunakan, jadi untuk apa masuk ke dalamnya?

Kalau saya, ingin tahu saja apa yang ada di dalam Monkasel. Jarang-jarang bukan masuk ke dalam kapal selam yang digunakan TNI untuk perang? Dimana lagi kita bisa melihat torpedo kapal selam dengan bebas selain di Monkasel? Nope! Bahkan banyak bule yang menjadikan Monkasel sebagai tempat hang out mereka di Surabaya.

Satu lagi, di Monkasel ini addemmmm… walaupun hanya ‘bangkai’ kapal, di dalamnya terpasang AC sehingga pengunjung tidak perlu merasa sumuk saat berjejalan  di lambung kapal. Asiknya lagi di dalam Monkasel bebas poto-poto. Bisa mengeksplorasi setiap sudutnya dengan lensa kamera. Mbak yang menjaga di dalmnya juga menyenangkan. Tidak menampakkan wajah yang metutu. Setiap pertanyaan pengunjung dijawab tanpa ada perasaan terganggu.

HTM?? Rp 8000. Harga itu sebanding dengan apa yang disajikan di dalam lambung kapal! Selain masuk ke dalam museum kapal, tiket masuk itu juga berlaku untuk menikmati pertunjukan teater Ramayana yang letaknya di belakang museum. Tidak mahal kan? 😀

Dari Monkasel…. lanjut ke Museum Tugu Pahlawan. Dan kunjungan ke Museum TP ini juga kali pertama bagi saya.

Apa yang disajikan di dalam Museum TP tidak kalah dari Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta. Bahkan saya harus mengakui bahwa Museum TP jauh lebih kece dibandingkan Museum Vredeburg. Bukannya ingin membandingkan, melainkan hanya memberikan penilaian yang objektif. Saya suka museum Benteng Vredeburg, tetapi selama kunjungan saya ke Museum yang ada di ranah sultan tersebut saya tak pernah sekalipun dapat menikmati diorama yang ada di sana. Kondisi diorama statis di Vredeburg sudah tidak sempurna. Untuk mengetahui jalan ceritanya harus membaca plakat yang terpampang di depan diorama. Sementara di museum TP, jalan cerita dioramanya masih bisa didengarkan melalui perangkat audio yang ada.

Jadi saya rasa tidak salah jika memberikan nilai lebih pada museum TP dibandingkan museum benteng Vredeburg 🙂

Walaupun harus  diakui bahwa HTM museum TP lebih mahal dibandingkan Vredeburg. Untuk masuk ke area Benteng Vredeburg saya hanya mengeluarkan Rp 2000, sedangkan memasuki museum TP harus  merogoh kocek sebesar Rp 5000,-. Sebandinglah dengan apa yang ada di dalamnya.

So, tidak memiliki ide untuk meikmati panasnya kota Pahlawan?? Ke Monkasel dan Museum TP saja, cukup untuk menggambarkan bahwa  Surabaya juga punya cerita.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s