Belajar Panah

Suatu sore,

Pada sesi obrolan santai antara saya dengan adik les sore itu kami membahas tentang weapon, senjata. Membahas macam-macam alat perang, mulai dari bambu runcing hingga senjata nuklir. Lalu kemudian ketika dia menanyakan;

“Mbak tahu panah?”

Saya: “Tahu dong. Kenapa?”

Adek les: “Bisa gak mbak main panah? Caranya gimana yaa mbak?”

Saya: “Wahh…aku gak bisa main panah. Gimana ya caranya..”

Adek les: “Trus mbak bisanya apa?”

Saya: “Bisa sih dek, tapi panah yang lain”

Adek les: “Panah yang lain itu gimana caranya? Panah apa?”

Saya: “Panah asmara”

Adek les: “Itu maennya gimana mbak? Bentuknya kayak apa?”

Saya: diem

Adek les: “Aku ajarin ya mbak main panah itu. Panah apa tadi namanya mbak? Panah asmara?”

Saya: mesem.

Payahhh………. berdialog dengan anak kecil berusia sekolah dasar memang harus hati-hati. Bagaimana bisa saya tahu dia begitu antusias untuk belajar panah asmara? Saya juga tak bisa menjelaskan bagaimana caranya memainkan panah tersebut.

Semoga saja dia tidak menceritakan topik panah asmara itu pada si mama -_-

Sebuah Doa

Iya, mungkin memang tidak pandai bersyukur

Kurang bisa menghargai apa yang ada

Tidak pula benar-benar ikhlas…

Manusia…

Benar-benar harus berusaha keras untuk merasa bahagia

Sama halnya dengan usaha payah untuk merasa cukup

Padahal limpahan tawa itu tak perlu dicari dengan bersusah-susah

Dan, semoga bisa

By meirina Posted in Poetry