Kutukan Air Mata Seorang Kawan


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #JuveINA14 dari Nine Sport Inc. untuk memenangkan tiket meet and greet dengan para pemain Juventus. Follow @ninesportinc untuk informasi lebih lanjut.

Kala itu saya hanya terpaku melihat kawan sebangku menitikkan air mata. Dengan alasan setia kawan saya tetap duduk di sebelahnya, sembari menerka-nerka mengapa kawan saya menangis sepagi ini. Pikiran bocah yang masih duduk di bangku kelas 3 SD saat melihat kawannya menangis tidaklah macam-macam. Saya, mengira ia menangis karena terkena omelan orang tua atau bertengkar dengan kakak perempuannya. Saya juga sempat memikirkan bagaimana cara menghiburnya. Ketika ide untuk menghentikan air mata kawan sebangku itu datang, ia berkata

“Aku sedih, Mei. Juve kalah. Gak jadi juara liga champions….blablablablaaaa”

Dan masih banyak keluh kesahnya. Saya menjadi seperti orang linglung. Tidak tahu harus menimpali bagaimana. Segala ide penghiburan atas kesedihannya lenyap seketika. Entahlah, saya fikir kawan saya itu gila.

Betul..saat mendengarnya menuturkan penyebab tangis pagi harinya itu, saya beranggapan kawan saya itu gila.

Bagaimana mungkin dia menangis karena sebuah club sepakbola yang ada di negeri nun jauh di sana. Hei.. kami berada di daerah yang bahkan tidak dekat dari ibukota Indonesia, bagaimana bisa dia menangis karena tim yang bernama Juventus harus kalah dari tim yang berlabel Los Galacticos? Tidak masuk akal!

Masih dengan alasan setia kawan, saya bertahan mendengar kisahnya. Cerita yang dia tuturkan sepekan penuh, yang saya anggap sebagai pengobat dukanya. Semakin lama dia bercerita tentang club sepak bola yang katanya berasal dari Italia itu, semakin yakinlah saya bahwa kawan sebangku saya ini tidak waras. 

“Juventus itu hebat, Mei. Apalagi strikernya…Inzaghi, cakep. Mainnya juga bagus… Harusnya kemarin itu Juve menang. Itu golnya off side…blablablablablablaaa”

Saya mendengarkan, sembari membatinkan kutukan. Striker?? Saya kira saat itu saya mendengar ia mengucapkan ‘sticker’, semacam tempelan  yang berbentuk kartun-kartun lucu yang sedang saya koleksi… dan apa itu off side??! 😐

Setelah sebulan kawan saya bertutur tentang Juventusnya, saya merasa risih. Rasanya tak mengerti apapun yang diucapkannya. Sama sekali tak paham tentang si kulit bundar. Namun di sisi lain saya tak mau menjadi pendengar yang bahkan tak mengerti apa yang didengar, risetpun mulai saya lakukan. Mulai dari membaca, bertanya pada kawan, bertanya pada saudara, hingga secara sembunyi-sembunyi memutar televisi di luar aturan jam TV yang berlaku di rumah saya. Mencari tahu apapun tentang Juventus. Supaya saya tahu kenapa club yang berada sisi Bumi lain itu bisa membuat kawan saya menangis gila. Mencari tahu sembari mengutuk. 

Akhirnya, kutukan yang saya luncurkan berbalik mengutuk diri sendiri. Seperti penyihir yang merapalkan mantranya dengan tongkat sihir cacat dalam kisah Harry Potter. Kutukan saya terhadap air mata kawan sebangku atas sebuah club yang bernama Juventus memantul pada diri sendiri. Saya menjadi gila pada La Vecchia Signora. Gilanya melebihi kawan sebangku saya. Memasukkan Juventus dalam setiap kesempatan doa, yang mungkin membuat Tuhan juga beranggapan bahwa saya gila.

Benar mungkin kata orang bahwa batas antara benci dan cinta itu tidak kentara. Berawal dari kutukan air mata seorang kawan, saya jadi belajar bahwa cinta itu tidak harus dekat dan saling kenal… bahkan untuk mencintai sebuah club sepak bola yang letaknya jauh di luar batas negara. 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s