Menggambar Saja

Model

Model

Mengamati si panda

Mengamati si panda

Adek les yang berdialog dengan Panda

Adek les yang berdialog dengan Panda

Adek les benar-benar menikmati aktivitas mengamati setiap detail tubuh si panda

Adek les benar-benar menikmati aktivitas mengamati setiap detail tubuh si panda

Hasil Gambarnya :D

Hasil Gambarnya 😀

Bosan dan lelah dengan aktivitas sekolahnya yang cukup padat membuat adek les menjadi sedikit tidak bersemangat saat belajar di malam hari. Jadilah di hari terakhir les minggu ini lesnya diisi dengan menggambar. Setidaknya dia suka. 🙂

Advertisements

Pindahkan Jam Tayang Maha……….

Hari ini salah satu materi belajar yang saya berikan pada adek les adalah menyebutkan struktur morfologi (bagian-bagian) bunga. Hanya bagian-bagian utama dan bagian dasarnya.

  • Mahkota bunga
  • Kelopak bunga
  • Tangkai bunga

Ketika penjelasan saya mengenai bagian-bagian tersebut selesai… adek les saya bertanya;

“Mbak, kalo mahkota manusia sama gak dengan mahkota bunga?”

Say menimpalinya;

“Manusia gak punya mahkota, dek. Apa coba fungsi mahkota untuk manusia? Kalo buat bunga kan ada”

Lalu adek les saya berkata lagi;

“Ada loh mbak manusia yang punya mahkota. Coba liat Mahabarata!”

AAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGG

Tolong… siapa saja… hentikan tayangan maha maha di televisi!! Pindahkan jam tayangnya!!! Tolong 😦

Sebuah Kompetisi

Salah satu efek dari implementasi kurikulum 2013 adalah semakin kompetitifnya subjek pendidikan.

Iya.. guru dituntut untuk lebih berkompetensi, yang secara tidak langsung juga harus berkompetisi dengan guru-guru lain dalam ujian kompetensi guru (UKG).

Murid? Saya pikir, sejak zaman dahulu memang ada kompetisi atara anak yang satu dengan yang lain. Banyak diantara mereka yang selalu ingin menduduki peringkat pertama di kelas. Setidaknya masuk dalam jajaran sepuluh besar. Saya sendiri menjadi saksi hidup bagaimana ‘perang’ itu terjaddi.

Suatu hari adek les saya tidak mencatat soal pekerjaan rumah yang dituliskan guru di papan sekolahnya. Alasan adek les saya adalah dia tidak sempat mencatat karena soal dihapus ketika bel pulang dibunyikan. Hanya kurang 3 soal. Soalnya pun tidak berbentuk kalimat panjang. Sekedar angka, karena perintahnya hanya menggambar bentuk sudut.

Kebetulan saya memiliki mantan adek les yang sekelas dengan adek les saat ini. Saya mencoba menanyakan 3 soal sisa tersebut pada mantan adek les, tetapi jawaban yang saya terima sungguh mengejutkan.

“Aku les mbak… pulangnya malem. Gak bisa ngasih tau. Salah sendiri gak nyatet di sekolah”

Sebuah jawaban yang menggambarkan persaingan antara siswa. Jadi, saya tidak berhasil menanyakan ketiga soal tersebut. Adek les saya sih tenang-tenang saja. Dia tidak panik, tidak juga ambil pusing dengan pekerjaan rumahnya yang kurang tiga soal. Mungkin itu pulalah yang membedakan kaum adam dengan lawan jenisnya, adek les saya ini laki-laki yang sama sekali belum punya beban dan pikiran. Kalau saja yang kurang 3 soal itu mantan adek les saya, mungkin dia akan merengek kebingungan dan tidak mau masuk sekolah esok harinya.

Namun saya masih tetap mencoba untuk menghubungi orang tua mantan adek les… Meminta tolong apakah bisa memotretkan soal pekerjaan rumah  milik anaknya. Hanya soalnya saja. Saya tak butuh diberi contekan jawaban. Lalu, jawaban yang saya dapatkan tetaplah penolakan.

“Anakku masih les, mbak. Pulangnya malem. Jadi aku gak janji”

Well… padahal saya dan si Mama mantan adek les cukup mengenal. Kami juga masih sering berkomunikasi. Tapi entah kenapa secara tiba-tiba permintaan tolong saya tidak dikabulkan. Padahal saya tidak meminta yang macam-macam. Hanya meminta untuk diberitahu soal pekerjaan rumah anaknya. Itulah bentuk kompetisi orang tua. Secara tidak langsung, Mama dari mantan adek les saya tidak ingin nilai anaknya di bawah adek les saya. Logikanya adalah jika adek les saya hanya mengerjakan 7 dari 10 soal, maka nilai maksimal yang didapat hanya 70… sementara anaknya yang mengerjakan semua soal berpeluang untuk mendapatkan nilai 100.

Yaaa..itu memang hanya pemikiran saya… tetapi jika memang tak ada unsur kompetitif, kenapa tidak mau memberi tahu 3 soal yang saya minta?

Ahh… memang sih.. salah satu interaksi yang terjadi pada setiap kehidupan adalah kompetisi.

Sebuah Diskusi Yang Tidak Pantas

Awal bulan ini saya mendengar begitu banyak keluhan dari orang-orang sekitar mengenai kurikulum pembelajaran 2013 atau kurikulum 2013. Mayoritas dari mereka yang mengeluh adalah orang tua (wali murid) dan para pengajar.

Kurikulum anyar tersebut dinilai merepotkan. Terlalu banyak memeras tenaga dan pikiran semua pihak yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Guru harus lebih berkompeten dalam menerangkan materi-materi pembelajaran, murid dituntut untuk lebih kreatif, sementara orang tua harus lebih berperan aktif dalam kegitan belajar anaknya.

Ironisnya… ketika mayoritas para tenaga pendidik yang saya ketahui tengah berjuang memikirkan repotnya kurikulum anyar, secara tak sengaja saya mendapati gerombolan pengajar yang sibuk mendiskusikan  hal-hal yang sifatnya sangat non akademis.

Bolehlah membahas masalah rekreasi perpisahan untuk siswa kelas 6, tapi bukankah tahun ajaran baru dimulai 3 minggu? Reksreasi sekolah masih pertengahan tahun depan… masih sangat lama.. kenapa harus dibahas sekarang? Lalu kemudian mereka mengubah topik pembicaraan.. menjadikan ‘adegan kasur’ sebagai  bahan diskusi. Ohh… terserah mereka memang mau menceritakan hubungan dengan pasangan masing-masing, tetapi tak bisakah mendiskusikan hal-hal rahasia tersebut di tempat yang lebih tertutup?

Saat itu kami sedang di warung makan pinggir jalan. Banyak pembeli lain. Ada beberapa pembeli yang masih di bawah umur pula. Sangat tidak etis rasanya jika harus bertukar cerita mengenai hubungan suami istri di tempat tersebut.

Kenapa tidak mendiskusikan kurikulum yang katanya susah? 😐

Unexpectedly Questions

Suatu malam, adek les memberikan pertanyaan tak terduga….

  1. Malaikat kan bisa menghancurkan Bumi, kuat mana Malaikat sama Allah?
  2. Kalau Nabi lawan Malaikat siapa yang menang?
  3. Kalau Nabi sama Allah kuat mana?
  4. Setan, Jin, Iblis… lebih kuat mana?
  5. Terus kalau Allah lawan Iblis… kira-kira Iblis bisa menang apa gak?
  6. Dewa sama Allah kuat mana?

Begitulah…hampir 45 menit pertanyaan mengenai ‘siapa yang paling kuat’ diajukan adek les. Setelah memberikan jawaban dengan hati-hati dan (jujur saja) sedikit ketakutan dan terengah-engah dan berkeringat… saya pikir kami bisa melanjutkan sisa jam les dengan membahas materi pelajaran yang lain.. tapi kemudian adek les saya kembali memberondong kakak lesnya ini dengan pertanyaan yang tak kalah wau dari tema’siapa yang paling kuat’.

  1. Bumi ini yang nyiptain Allah kan mbak… terus siapa yang nyiptain Allah?
  2. Allah itu ada dimana?
  3. Allah itu kayak apa? Bentuknya seperti orang atau gimana?
  4. Allah kan yang paling kuat, berarti bisa menghidupkan orang yang sudah mati? (ketika pertanyaan ini diajukan, saya membatin.. seandainya memang bisa..lalu tersenyum simpul)
  5. Orang-orang mati yang di surga dan neraka, apa bisa lihat Allah?
  6. Caranya masuk ke Surga dan Neraka gimana?
  7. Naik apa kalo kita mau ke surga? Sama gak kendaraannya kalo kita mau ke neraka?
  8. Katanya Allah maha pemaaf, tapi kok ada orang mati yang disiksa di neraka?
  9. Tuhannya orang Kristen, Hindu, Budha, dan Katolik itu siapa yang nyiptain?

😐

Lelahnya… jadwal les malam itupun harus berlangsung satu jam lebih lama karena pertanyaan-pertanyaan ingin tahu si Adek les… Ya Allah… semoga saja jawaban yang saya berikan bisa sedikit menjinakkan pemikiran liar bocah 8 tahun itu…

Hebohnya Kurikulum 2013

Tiba-tiba saja dunia sekolah dasar di sekitar tempat tinggal dihebohkan dengan perubahan kurikulum. Saya hanya mendengar gerutuan wali murid mengenai kurikulum anyar tersebut melalui orang tua adek les. Masalah internet, raport online, hingga mata pelajaran tematik.

Hebohnya masya Allah…. dan sebagian besar dari orang tua murid yang heboh tersebut memusingkan masalah teknologi yang menjadi salah satu sarana pembelajaran di semester ini. Lucu saja ketika harus mendengarkan ibu-ibu yang kebingungan dan mungkin setengah ketakutan saat mengatakan

“Internet iku opo… piye carane gawe” (Internet itu apa, gimana cara menggunakannya?)

Belum lagi mereka yang pusing dengan kurikulum 2013 yang mereka kenal sebagai kurikulum tematik. 😀

Ahh Ibu….

Internet itu tidak susah, kok… Hanya perlu dibiasakan saja. Tidak jauh beda dengan mengutakatik smartphone. BBM dan facebook-an saja lancar, masa iya hanya melihat nilai raport anak via internet gelagapan???

Dan tidak perlu juga memusingkan masalah kurikulum 2013. Sama saja. Mau kurikulum apapun semuanya sama-sama memberikan pengajaran bagi anak. Benar memang, orang tua harus lebih aktif di kurikulum baru ini… tapi kurikulum 2013 ini lebih ditekankan untuk mengup-grade kompetensi guru. Supaya para tenaga pendidik juga tidak ketinggalan zaman. Dunia sudah berkembang pesat…jika metode pengajaran di sekolah tidak dikembangkan juga; peserta didik di sekolah formal tidak akan belajar banyak. Kurikulum tematik tersebut juga diterapkan supaya anak tidak menganggap sekolah hanya sebagai formalitas untuk selembar ijazah karena ‘rencana’ pembelajaran pada kurikulum 2013 tidak hanya mencakup IQ, tetapi juga EQ serta pengembangan bakat plus minat peserta didik.

Kalau benar-benar diterapkan… kurikulum 2013 ini oke kok…. 😀