Mengajar Di Pekan Pertama


Begini rasanya menjadi pengajar yang peserta didiknya memiliki panca indera lengkap dan tubuh tanpa cacat. Bisa berbicara keras, motil, serta sistem eksresi yang masih normal. Bising, berisik, dan bau keringat bercampur menjadi satu di ruang kelas yang ukurannya sekitar 7 x 6 meter. Ya salam… ramenya tak kalah seru dari pasar malam.

Minggu pertama ketika harus bergumul dengan adek-adek pengguna seragam putih abu-abu dan putih biru terasa mengejutkan. Semacam ada shock culture. Iya, mereka memang mendengarkan saat pengajar di depan kelas menerangkan materi, tetapi tetap saja saat pengajar menuliskan materi… semua mulut sepertinya berkicau. Berebut untuk berbicara.

Singkat cerita, dalam satu kali memberikan pelajaran di kelas, waktu saya adalah 90 menit. 30 menit untuk menuliskan materi di papan tulis, 25 menit untuk menjelaskan materi, 5 menit istirahat (biasanya diputarkan musik oleh mbak-mbak CS), dan 30 menit untuk membahas soal-soal yang berkaitan dengan materi yang telah saya jelaskan.

Adek-adek yang usianya sudah belasan itu biasanya langsung mengikuti kelas (les) sepulang sekolah, jadi bisa dibayangkan bagaimana kondisi mereka. Masih berseragam, dengan aktivitas di sekolah yang mungkin seabrek. Kucel dengan sedikit bau-bauan masam, sebuah kombinasi relaksasi aromaterapi yang tak akan mudah dilupakan. Ditambah dengan ocehan yang seakan tak ada putusnya plus tawa hingar bingar, lengkaplah sudah nina bobo bagi saya di setiap siang/sore hari.

Kadang-kadang, ada beberapa kelas yang seakan-akan tidak menganggap keberadaan saya di depan kelas. Mungkin bagi mereka, saya hanya manekin hidup yang merangkap sebagai sales yang menjajakan ‘materi’ pelajaran.

Saya juga sering ‘dirasani’… dikata kurang tinggi (memang 😀 ), dibilang tulisannya terlalu mini (kan mirip orangnya hohohoho), atau bahkan dibilang terlalu hobi menulis lantaran materi yang saya berikan terlalu banyak.

Ada juga yang suka iseng mencuri-curi memotret saya saat sedang menjelaskan materi… -___-

Yang paling mengesalkan adalah jika mereka mengajukan pertanyaan yang tidak semestinya. Misalnya ketika materi pelajaran berhubungan dengan sistem reproduksi, ada beberapa gelintir bocah yang tanpa malu-malu menanyakan bagaimana caranya mengeluarkan cairan sperma -__- Saya yakin mereka paham, hanya usil saja menanyakannya pada pengajar baru.

Ahhh…adek-adek yang lucu…

Sempat beberapa kali ingin melemparkan spidol atau penghapus pada mereka yang tidak mau mendengar penjelasan atau mengoceh dari awal hingga akhir kelas, tetapi akhhirnya saya hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Menyadari bahwa mereka masih terlalu muda untuk mengerti tentang susahnya mencari nafkah, mungkin dulu saya juga begitu.

Saya juga bukan  tanpa celah.. di minggu pertama berbagi ilmu, saya sempat beberapa kali kurang fokus. Pertama karena materi yang saya pelajari saat malam hari ternyata bukan materi yang harus saya jelaskan di depan kelas. Ada misscommunication antara pengajar dengan pembuat jadwal. Kedua, karena saya belum terbiasa dengan keramaian kelas.. suara-suara ribut membuat konsentrasi saya kacau, inginnya marah-marah. Tapi setidaknya, masa orientasi sepekan bisa saya lalui.

Mengajar itu memang susah, tapi menyenangkan 🙂

Semoga saja kelas-kelas selanjutnya bisa memberikan kejutan lain yang tak kalah seru seperti di pekan pertama lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s