Mengajar Di Pekan Kedua


Pekan kedua memerah otak bukanlah tanpa celah..

Saya memulai minggu ini dengan sebuah ketololan yang menggelikan. Saya dengan bisanya lupa tidak menggunakan helm saat berkendara motor dari rumah kakak menuju tempat mengajar. Kebetulan awal pekan ini saya ditugaskan di lokasi yang lumayan jauh dari pusat kota. Harus melewati jalanan raya yang super padat oleh bus dan truk-truk besar. Belum lagi siang hari, para pejabat polisi selalu berkeliaran di jalan raya.. mengatur arus jalan dan (mungkin sembari) mencari mangsa pengendara yang lalai terhadap perarturan lalu lintas. Saya, melewati tiga orang polisi di tiga titik macet pusat kota, tetapi ketiganya tidak mengacuhkan saya. Tidak menyetop motor yang dikemudikan adek. Saya baru menyadari tidak ada helm yang melekat di kepala ketika kami hampir sampai di tempat tujuan. Ya Tuhan.. kenapa saya begitu stupid 🙂 . Mungkin karena terlalu excited dengan tempat mengajar yang jauh dari kota, dan yang pertama kali bagi saya menjamah daerah tersebut… sehingga amnesia akan helm.. Bersyukur rasanya tidak terkena operasi Mr. Police… Semoga saja Tuhan membalas kebaikan polisi-polisi yang tidak menjadikan saya sebagai ‘mangsa’ mereka (AMIN).

Esok harinya dan lusanya, tidak banyak kejutan yang saya dapatkan… Celotehan siswa masih tetap sama.. tentang saya yang kurang tinggi serta tulisan yang begitu mini. Satu dua orang berceletuk;

“Tahu gini aku pake kacamata”

“Aduh..aku gak terbiasa nyatet dengan tulisan kecil”

Lalu kemudian setelah selesai mencatat materi, saya menuju jajaran bangku paling belakang di kelas tersebut. Mencoba membaca tulisan saya yang kata mereka tak terlihat. Hasilnya… saya bisa kok membaca tulisan saya. Saya akui bahwa tulisan saya tidak besar, tetapi tidak berarti mirip sandi rumput yang tak terbaca. Saya juga iseng menanyakan pada salah satu siswa yang masih mencatat;

“Bisa gak baca tulisanku di depan?”

Siswa yang saya tanya menjawab;

“Bisa kok, Bu”

Lalu kemudian ada suara lain yang menimpali dari jajaran bangku di depan;

“Bisa kok dibaca, tapi aku males nyatet.. besok kalau mau ulangan aku fotokopi aja”

Ahh…tulisan saya yang kecil menjadi kambing hitam dari sebuah kemalasan bocah SMP 🙂

Jadi, setelahnya jika masih ada komentar tentang tulisan saya yang kecil.. saya datangi bocahnya dan saya tanyakan;

“Yang mana yang gak kelihatan, Dek? Aku diktekan sekarang”

Kemudian di kelas itu tak ada lagi bulan-bulanan tentang tulisan saya yang kecil… Kalau malas mencatat, ya tidak usah mencatat semua… jadi tak perlu menjadikan tulisan di papan tulis sebagai alasannya.. hohohohoohohoo..

Saya kembali terkejut ketika harus mengisi materi di kelas 2 SMP. Seperti mengasuh bocah playgroup. Kelas itu seperti taman bermain. Mereka berlari ke sana- kemari. Usil menyembunyikan tutup spidol saya.. Bahkan ada yang dengan sengaja berdiri terus di sebelah saya, mengikuti setiap gerakan yang saya lakukan. Mungkin baginya saya tak jauh beda dengan instruktur senam di kelas itu..

Berteriak-teriak di kelas adalah kegiatan yang berlangsung selama 90 menit penuh, baik lelaki maupun wanitanya. Ada juga siswa yang suka memotong pembicaraan. Ketika saya menjelaskan tentang ‘A’, tiba-tiba saja ada teriakan dari sisi kelas;

“IBUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU…COBA LIHAT SOAL NOMOR 3..ITU MAKSUDNYA APAAAA????!!!!!!!!”

Semua kata dilafalkan dalam nada 12 oktaf… teriakan nada seorang Mariah Carey pun lewat -_-

Lalu ketika hendak memberikan jawaban, ada lagi teriakan lain dari sisi sebelah… Padahal membahas soal sudah ditentukan dilakukan setelah menjelaskan materi. Tapi, aturan itu tak bisa diberlakukan pada siswa yang berada pada usia labil…di satu sisi mereka sudah harus berhadapan dengan masa akil baliq primer, tetapi di sisi lain mereka masih pantas berseragam putih merah.

Jadilah.. saya yang harus mengerti. Menahan diri untuk tidak melayangkan benda-benda sekitar pada keliaran mereka. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGG… Harus atur nafas dengan benar. Selesai mengajar, saya berasa baru saja melakukan lari cepat 10 KM.. Lelahnya.. Alhamdulillah, sistem pernafasan saya masih normal dan oksigen masih tersedia bebas di alam.

Semoga saja edisi lari di kelas tak ada lagi di sesi mengajar selanjutnya… Tak apalah lari-lari sedikit, asal ilmunya bisa diterima. Asal mereka senang. Asal mereka mau belajar. Kalau senang, insya Allah belajarnya mau.. ilmunya sampai..

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s