Simbiosis Siswa-Pengajar


Dua pekan adalah waktu yang cukup bagi saya untuk mengobservasi tingkah pola adek-adek les serta tempat dimana saya harus mengisi kelas. Setelahnya, saya mulai terbiasa dengan lingkungan tempat belajar tambahan tersebut.

Dan tak ada lagi ketakutan ataupun salah fokus saat harus berhadapan dengan puluhan mata di depan kelas pada pekan ketiga saya mengajar. Materi yang harus saya jabarkan juga tidak terlalu rumit. Hanya saja di pekan ini saya jadi tahu bagaimana pemikiran beberapa siswa yang mengikuti pelajaran tambahan di LBB ini.

Di suatu kelas, tiba-tiba saja tiga hingga empat orang siswa berdialog…

Saya tak ingat runtut ucapannya, yang saya ingat hanyalaah pernyataan salah satu diantara mereka..

“Kalo memang gak suka sama kebiasaan kita di kelas, mendingan guru itu pergi aja. Toh kita di sini bayar. Kalo dia gak suka, keluar aja..kita bisa kok cari guru lain yang mau ngajar. Yang butuh loh bukan kita, tapi dia!”

Sebuah pernyataan yang benar-benar jahat. Pernyataan yang serta merta membuat saya mencelos. Saya tahu bahwa mereka tengah menggunjingkan pengajar lain, hanya saja sebagai sesama pengajar… mendengar pernyataan tersebut sedikit membuat saya geram.

Benar memang bahwa pengajar di LBB ini (dan semua LBB saya kira) membutuhkan siswa untuk mendapatkan penghasilan. Pengajar bisa memenuhi kebutuhannya karena siswa membayar. Membayar untuk diberi pelajaran ekstra. Namun bukan berarti siswa memiliki hak veto untuk menjadikan kelas sebagai ruang kekuasaannya. Pengajar juga punya hak yang sama dengan siswa.

Pengajar memang dibayar, tetapi dia dibayar setelah memberikan ilmunya kepada siswa. Apa dikira ilmu itu mudah didapat? Membayar bukan berarti selalu benar. Pengajar pun memiliki hak untuk tidak melaksanakan tugasnya jika siswa benar-benar tak mau diajar. Bullshit jika dalam suatu LBB hanya berlaku simbiosis komensalisme dimana pengajar diuntungkan karena siswa yang membayar uang tambahan pelajarannya. Bagaimana jika tak ada pengajar LBB? Bukankan tak akan ada yang namanya LBB? Jika tak ada LBB, kemana siswa akan pergi mencari penjelasan mengenai materi pelajaran yang tak dijelaskan di sekolah? Ahh…bagi saya tak semua siswa menjadikan LBB sebagai tempat belajar ekstra. Mayoritas diantara mereka menjadikan LBB sebagai pilihan utama daripada harus stay di rumah dan mendengar omelan mama. Dengan kata lain, LBB tak ubahnya sebagai tempat pelarian. Jika tak ada LBB..mau lari kemana?

Karena itulah… tak ada yang namanya murid tak butuh guru, begitu pula sebaliknya. Kalau memang suatu saat nanti saya menjadi bahan gunjingan siswa, terutama masalah simbiosis pada siswa, maka saya punya hak untuk menolak mengajar kelas mereka.Simbiosis diantara siswa dan pengajar haruslah sama-sama menguntungkan..

Selebihnya.. pekan ketiga berjalan menyenangkan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s