Tentang G30SPKI

Di sebuah sesi Try Out ujian nasional dua orang siswa berbisik pelan sembari mengerjakan soal Bahasa Indonesia yang menjadi materi Try Out hari ini.

Siswa Satu: “Aku minggu depan ada pementasan drama lagi”

Siswa Dua: “Lohh..aku sudah kemarin.. tentang Snow White”

Siswa Satu: “Ohh.. pementasan dongeng ya. Besok aku pementasan tentang sejaran Indonesia”

Siswa Dua: “Apa? Sangkuriang? Apa Malin Kundang?”

Siswa Satu: “bukan.. G30SPKI”

Siswa Dua: “Opo iku????”

Siswa Satu: “Yaa itu perang-perang.. aku juga gak tahu”

Siswa Dua: “Aneh..”

Saya pun tertegun.. Oh adek… Sangkuriang dan Malin Kundang itu bukan sejarah… Kedua kisah itu hanya sebatas legenda.. G30SPKI tak tahu? Well.. saya memang bukan ahli sejarah, tak hafal pula setiap kisah heroik di Nusantara. Namun tak mengerti apa itu G30SPKI sungguh keterlaluan. Bukankah kisah itu adalah salah satu materi pelajaran di sekolah dasar? -_-

Advertisements

I Miss You

Selalu saja merangsang glnadula lacrimalis untuk mengeluarkan sekretnya..

Selalu saja menitikkan air mata jika harus melihat video ini..

Oh My Capt… Pemilik nomor 10 terbaik masih tersemat padamu.. Terimakasih untuk setiap sikap yang kupelajari dari perilakumu selama mengabdi di Vinovo.

I miss you, Capt… Merindukan ke-humble-an mu.. merindukan semangatmu.. merindukan kesabaranmu… merindukan detak jantung yang begitu cepat saat kau merobek gawang lawan..

Ingatan Akan Siswa

Pada zaman sekolah, saya sempat menganggap sebagian besar guru itu sombong karena terkadang tidak mengenal siswanya ketika berada di luar sekolah. Sempat beberapa kali menyapa seorang guru di sebuah departemen store, tetapi balasan yang saya dapat hanya anggukan kecil serta senyum simpul. Tak jarang pula saya dilewati begitu saja ketika berpapasan di tempat lain. Yaa.. maklumlah.. saya memang bukan kriteria siswa yang bisa diingat. Tak masuk dalam kategori jenius dan lolos pula dari klasifikasi tukang buat onar. Hanya golongan siswa medium dengan prestasi alakadarnya.

Tapi kemudian… setelah saya berkecimpung sendiri di dunia pengajaran… mengingat setiap  siswa memang tak semudah mengingat nama bintang film kesayangan.. Apalagi jika setiap tahun selalu ada regenerasi siswa. Saya sudah merasa mengingat setiap rupa siswa yang pernah saya isi kelasnya. Merasa pede bahwa saya hafal betul setiap paras mereka. Namun kemudian saya disadarkan oleh seorang siswa bahwa sebenarnya saya sama seperti mayoritas pendidik. Tidak benar-benar hafal pada semua peserta didiknya.

Akhir pekan kemarin, saya kembali memberikan tambahan pelajaran kepada seorang bocah SMP. Les privat ini juga merupakan rekomendasi seorang rekan di tempat kerja, sama sekali tidak berfikiran bahwa adek les  tersebut adalah bagian dari tempat saya mengajar selama ini.

Selama 60 menit saya sama sekali tidak mengenali bocah lelaki yang dengan tabahnya mendengarkan ocehan saya. Di akhir les, tiba-tiba dia berkata;

“Saya diajar ibu loh… ehh mbak..”

Dengan merespon dengan sedikit kekagetan;

“Ahh..masa? Kamu kelas berapa?”

Dan dia menjawab dengan santainya;

“Iya, Mbak.. kelas 193. Kemarin mbak masuk kelasku pake masker. Waktu mbak lagi sakit itu loh..”

Ahh.. ya… saya memang pernah sekali mengisi kelas dengan mengenakan masker.

Ya Tuhan kelas itu adalah kelas yang diisi siswa dengan mulut yang tak bisa berhenti mengoceh selama 90 menit. Saya pikir saya tahu betul setiap pemilik mulut yang tak mau tertutup di kelas itu. Namun ternyata ingatan saya tidak sepenuhnya sempurna. Diantara  mereka banyak omong itu ada satu siswa yang cenderung pendiam.. yang luput dari ingatan visual saya.

Benar memang.. untuk mengingat siswa memang lebih mudah jika mereka masuk dalam dua kategori khusus. Punya otak brilliant atau pembuat masalah di kelas 🙂