Ketika On Time Dipersoalkan


Risih rasanya ketika seorang penjaga gedung menuturkan pernyataan

“Ngapain mbak datang jam segini? Ngajarnya jam berapa coba? Emangnya situ udah jadi pegawai beneran di sini?”

yang kemudian diikuti gerundelan dan bisik-bisiknya  dengan beberapa pekerja di sana.

Sebuah kalimat yang menyiratkan bahwa mindset-nya terpaku pada pegawai kontraklah yang harusnya datang sebelum jam mengajar.

Saya hanya menimpali dengan senyuman…tapi membatin..

“Hei Boy… saya lebih suka datang lebih awal daripada harus terlambat.”

Mau dikontrak atau tidak, saya tak suka dengan keterlambatan. Harusnya protes itu tidak ditujkan pada saya. Kenapa kalimat sarkasmenya tidak dituturkan saja pada pekerja yang harusnya datang jam 12.00, tetapi justru menampakkan batang hidungnya pukul 14.00 ?

Saya terbiasa untuk on time, jadi jika benar-benar tak ada halangan untuk terlambat maka saya akan berada di sana tepat waktu. Mau dibilang lebay karena datang terlalu awalpun saya tak peduli, toh kedatangan awal saya tidak menyusahkan mereka. Saya datang tanpa minta dijemput. Tanpa meminta ongkos kendaraan umum.

Tak perlulah mengatur-ngatur saya untuk datang pukul berapa atau menyuruh-nyuruh saya untuk pindah tempat tinggal supaya saya lebih dekat dengan tempat kerja, sehingga tak perlu berangkat terlalu awal. Mau saya tinggal di antariksa pun jika saya bisa menyelesaikan setiap kewajiban mengajar tak masalah bukan? Tepat waktu untuk datang ke tempat kerja bukan karena dikontrak atau tidak, melainkan karena kebiasaan.

Jika saya menceritakan bagaimana si penjaga gedung itu ‘menasehati’ saya pada beberapa orang (include my boyfriend-perhaps), mereka pasti menuturkan ;

“Mungkin dia hanya mengemukakan pendapat. Biarkan saja”

Ahh..berpendapat… hidup saya bukan ajang musyawarah yang bisa menampung pendapat siapapun. Know before you judge, dude!

Ya..mungkin si penjaga gedung itu hanyalah salah satu wujud buramnya warna dunia kerja di Indonesia. Ada saja persoalan aneh yang seharusnya tak perlu diributkan, termasuk kebiasaan tepat waktu.

Tak perlu terlalu diambil pening pula, toh dia bukan siapa-siapa… hanya sosok yang mungkin begitu peduli dengan saya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s