Untuk Kalian Punggawa Tim Terbaik @juventusfcid @juventusfc

Untuk kalian…

Dear Gigi Buffon; terimakasih atas perjuangan menjaga gawang yang tak mudah. Percayalah, Anda tetap menjadi salah satu pemain favorit saya di Juventus. Tetap menjadi salah satu ‘buku’ yang saya baca jika saya hendak belajar tentang kesetiaan.

Kalian para defender… Chielo, Leo, Evra, Caceres & Barzagli… teruslah menjadi tembok kokoh yang membantu pertahanan Bianconeri. Kalian yang baru bergabung, Rugani & Alex Sandro… semoga bisa memperkuat barisan pertahanan Bianconero.. Halaulah bola sejauh mungkin dari gawang Gigi!

Untuk kalian yang berada di tengah, teruslah berkreasi! Jangan CONGKAK, Pogba!! Prestasimu belumlah apa-apa. Percuma bakatmu yang gemilang, jika tidak dibarengi dengan kerendahan hati di lapangan!! Bagi anda yang bernama Padoin, berlarilah… jika Anda tak bisa menggiring bola dengan benar, setidaknya berlarilah selama 90 menit (jika Anda kembali menjadi starter)! Berlalrilah seperti Sturaro!!! Tak peduli seberapa jauh dekatnya dengan bola, teruslah berlari… setidaknya, pergerakan kaki bisa menjadi salah satu pengecoh lawan.. Dan yaa… Saya telah jatuh hati pada Anda sejak musim lalu, Pereyra…. Sungguh, kepergian Vidal sama sekali tak berarti bagi saya karena Anda, semoga saja kerja keras Anda terus saya lihat selama membela The Old Lady. Sementara kalian yang tengah dinaungi badai cidera (Asamoah, Khedira, & Marchisio), semoga segera kembali ke lapangan….

Para penyerang yang tersayang… Ayolah… kalian dibayar untuk mencetak angka dan memberi Juventus poin penuh. Tak peduli karakter Anda yang senang menunggu di depan gawang, saat ini Anda pun harus ikut berlari Mandzukic! Sekarang ini, pemain tengah yang bisa memberimu suplai bola atas tengah cidera, jadi berusahalah dulu mengambil bola dari lawan. Cobalah seperti si kecil Dybala, yang berlari kesana-kemari untuk mencari bola… atau seperti Morata yang tak segan turun ke barisan pertahanan untuk segera mendapatkan bola. Ciptakanlah dulu peluang kalian sendiri! Zaza pun masih harus banyak belajar & bekerja keras supaya bisa bersaing dan memperoleh tempat di tim inti!

Kalian para pengisi bangku cadangan… Menjadi bagian dari seragam I Bianconeri bukanlah perkara mudah. Percayalah, kalian bukan pelapis pemain sembarangan. Bukan hanya sekedar cameo yang tak punya peran penting. Kalian yang telah beruntung dalam balutan hitam-putih, berbangga & berkaryalah.

Jika kalian tengah berada pada pertandingan yang sulit dengan dipimpin wasit yang kurang bijak dalam meniup pluit, ingatkan jiwa raga kalian bahwa Juventus tak bisa dihadang oleh arbitro sekalipun. Jika kalian dijegal lawan tetapi wasit tak memberikan pembelaan, berdirilah kembali! Tak perlu meminta belas kasih wasit atau mengerang-ngerang kesakitan! Berdirilah, lalu berlarilah kembali. Sungguh Tim… Saya rindu akan semangat Juventus yang saya kenal. Saya merindukan deru nafas & detak jantung yang berirama karena senang… bukan karena menang, melainkan karena KEINGINAN untuk mendapatkan hasil maksimal…

Semoga kalian bisa memberikan yang terbaik pada Juventus.. Turut menyumbangkan catatan manis dan masuk dalam sejarah kebesaran La Vecchia Signora!

FINO ALLA FINE… FORZA JUVENTUS

Advertisements

Untuk Mr @OfficialAllegri

Dua pekan pertama diakhiri dengan angka nol. Setidaknya merupakan hasil terburuk Juve dalam mengawali awal musim. Pak Pelatih, tugas utamamu di musim ini memang membawa si Kuping Besar ke Turin, tetapi bukan berarti Anda harus mengacaukan hasil manis Juventus di liga domestik!!! Kalau UCL terlampau berat, pertahankan saya scudetto sehingga tim saya bisa tetap beradda di zona UCL untuk musim depan!

Entah apa yang Anda pikirkan saat meracik skema permainan di dua pekan pertama. Bukankah Anda punya rentatan pemain ternama dalam skuad musim ini? Benar memang, saya sama sekali tak paham masalah meracik strategi, tetapi setidaknya saya tahu bahwa keputusanmu menjadikan Padoin sebagai starter sangat tidak bijak. Padoin bukan pemain jelek, saya bahkan lebih memilih Padoin di Juve ketimbang Anda. Tapi ketahuilah, Padoin bukan pemain yang pandai menentukan tujuan permainan. Dia sama sekali tak bagus jika dipasang dari awal. Lihat sendiri hasilnya, dalam dua pekan terakhir pemain bernomor punggung 20 mu tak memberikan kontribusi apapun selain sebagai pengisi starter. Dia hanya bagus setelah duduk di bangku cadangan, mengamati rekan-rekannya di lapangan selama 70 menit, hingga akhirnya bisa mengetahui arah geraknya saat menggantikan salah satu pemain. Padoin bagus jika ditugaskan menjadi pemain pengganti. Pemainmu sudah lebih dari cukup untuk meraup poin penuh di dua pekan terakhir jika saja Anda cukup jeli meracik strategi! Berpikirlah dalam jeda dua pekan sebelum menghadapi pekan ketiga!! Ingat, jangan samakan musim kedua Anda di Juventus dengan musim kedua Anda di M*l#n!!!

Satu lagi Pak Pelatih…. Tolong, ajarkan hal yang baik pada Paul Pogba. Ingatkan dia bahwa permainannya sejauh ini sama sekali tak indah dipandang mata. Mungkihkah nomor punggung yang dia miliki sekarang terlalu berat? Ajari dia bagaimana memperlakukan nomor keramat tersebut. Nomor sepuluh bukan hanya untuk mereka yang bisa mengocek bola dengan berbagai gaya, melainkan juga amanah untuk memperlihatkan kerendahan hati di lapangan. Sejauh ini, Pogba sepertinya terbuai dalam balutan kostum nomor 10 hingga akhirnya membuat dia lupa bahwa Juventus punya ‘nomor punggung’ lain. Katakan padanya jangan sombong, Sir! Tak perlu mengingatkannya pada Platini atau Del Piero, ingatkan saja akan Tevez yang mampu menjaga amanah nomor punggung 10 dalam dua musim terakhir.

Tolonglah Pelatih yang Saya hormati… kembalikan semangat Juventus ke dalam lapangan. Lecutkan perintahmu selama 90 menit di setiap pertandingan. Jangan duduk manis di kursi cadangan, lalu teriak berang di menit-menit akhir saat tim tertinggal angka dari lawan!! Perintahkanlah pemainmu untuk berlari selama 90 menit!

Pelatih yang Terhormat, saya berterima kasih atas prestasimu di MUSIM LALU… semoga bisa lebih baik di musim ini.

Setelah Final

Salah satu cara menghilangkan euforia final dini hari tadi adalah menghabiskan waktu ke pusat perbelanjaan bersama sang Pangeran. Dan yaa… sama seperti dugaan kami, sepanjang perjalanan banyak sosok berbaju Barca. Mulai dari lapangan parkir hingga bagian dalam pusat perbelanjaan. Mulai dari perjalanan pergi, hingga perjalanan pulang.

Kami adalah satu-satunya sosok manusia yang mengenakan atribut Bianconerri.

Banyak sekali lirikan yang mereka arahkan ketika bersisipan dengan kami. Bahkan ada pasangan yang terang-terangan tertawa cengengesan ketika mereka melintasi kami.

Mungkin mereka pikir kami gila… Ada pula seorang wanita yang berbisik cukup keras pada pasangannya;

“Tadi dia kalah kan? Masih make bajunya, gak malu ya”

Hihihihihihi… dasar mbak-mbak…. Kalau kalah, terus harus berhenti mendukung tim kesayangan? Harus membuang semua kostum yang berhubungan dengan Juve?

Kami ini cinta dengan sepenuh jiwa & raga… mau menang, mau kalah, mau seri… Juventus tetap di hati.

Belajarlah untuk setia, mbak…. Musim depan, Juventus bisa lebih baik dari ini. Semoga club kita bisa kembali bersua di Final UCL musim depan (kalo si mbak masih jadi angel buat club Catalunya). Sampai ketemu di San Meazza (Bingung nyebut stadion duo Milan…San Siro atau Giuseppe Meazza) 2015 mendatang. AMIN…

Grazie Juventus

Musim 2014-2015  diawali dengan rentetan cerita yang kurang menyenangkan.

Keputusan Antonio Conte untuk meninggalkan posisi sebagai kepala pelatih di Vinovo hingga penunjukan Max Allegri sebagai pengganti merupakan pembuka yang hambar. Bukan pilihan pengganti yang tepat, itulah pemikiran mayoritas teman-teman Juventini di seluruh muka Bumi. Banyak alasan yang menjadikan unjuk rasa penolakan Allegri sebagai pelatih Juve. Saya sendiri menolak Allegri bukan karena dia tidak bisa melatih, melainkan karena dia ‘bukan Juve’. Entahlah… yang jelas, saya tidak sedikitpun melihat semangat Bianconeri pada mantan arsitek tim Milano tersebut. No spirit. Tak ada ‘Lo spirito alla Juventus’ dalam sosok Max.

Tapi mau bagaimana lagi, keputusan siapa yang akan menukangi Juve tetap berada di tangan para petinggi club. Mau tak mau, ucapan ‘Welcome Max’ pun harus saya lontarkan. Lupakan Conte!

Belum lagi rumor, desas-desus serta gosip akan rencana hengkangnya Arturo Vidal ke Manchester merah… Awal musim yang begitu menggiatkan kerja suprarenalis!

Satu-satunya kisah manis di awal musim ini adalah kunjungan Juventus ke Indonesia. Melihat mereka berlari-lari di lapangan secara langsung, hanya berjarak 10 meter. Setelahnya.. saya berencana untuk menjalani musim ini dengan rentetan doa. Bukan karena pasrah, melainkan sebuah permohonan pada yang Kuasa untuk tetap mempertahankan tim ini dengan mental juara. Pasalnya, sebagaimana pemaparan di awal, tak ada aura ‘spirit’ dalam sekujur tubuh pelatih baru. Kami sudah meraih tiga gelar serie A beruntun, butuh mental yang lebih lagi untuk bisa mempertahankannya menjadi empat.

Musim kompetisi pun diawali dengan lawatan ke Verona. Sebuah laga pembuka yang sama sekali tak saya ingat jalannya. Skor akhir sepertinya didapat dengan susah payah. Setidaknya gol tunggal Martin Caceres membuat Juve membukukan 3 poin pertama di musim kompetisi baru. Pekan keduapun sama, tak ada greget Juve. Bermain di kandang menjamu Udinese juga tak membuat semangat Juve terlihat di lapangan… Bolehlah Tevez dan Morata mencetak masing-masing sebuah gol, tapi tetap… rasa Juve seakan-akan tak terlihat di J-Stadium.

Tapi tetap, dukungan saya 100% untuk tim. Berusaha untuk tetap setia menyaksikan mereka dari layar kaca. Tetap menjadikan nonton bareng sebagai salah satu agenda kencan. Berangkat ke venue Nobar pada pekan ketiga, berusaha tetap ceria walau panasnya arena nobar naudzubillah… Dan yaaa kecewa, karena tak bisa menonton pertandingan hingga akhir.. tak lebih dari 15 menit, listrik di wilayah setempat padam. Pekan ketiga vs Milano pun gagal menjadi titik balik semangat akhir pekan yang musim lalu selalu saya dapatkan sepulang nobar. Untunglah kami masih mendapatkan tiga poin. Menang satu gol (lagi).

Pekan-pekan setelahnya, setiap pertandingan di liga domestik tidak menggairahkan. Menang dalam tiga pertandingan beruntun, termasuk menggeser posisi AS Roma sebagai capolista di pekan ke 6… namun sama sekali tak terasa semangat alla Juve.

Benar memang, posisi puncak tetap berada di genggaman I bianconerri ketika tim hebat ini harus kalah sebiji gol dari Genoa di pekan ke 9, tetapi hasrat akan ‘Juventus’ tak juga muncul. Jujur saaja, musim ini saya sempat melewatkan beberapa pertandingan. Tak ada semangat untuk nonton bareng di akhir pekannya. Bahkan di sebuah jadwal pertandingan besar melawan tim biru hitam (nama tim sebenarnya tak boleh disebutkan, tabu!), pacar saya tertidur hingga kami batal nonton bareng. Dimulai dari pekan 17 itulah semangat saya akan Juventus hilang seketika.

Berkurangnya semangat pada tim juga ditunjukkan dengan kegagalan meraih tropi Piala Super Italia di Qatar pada bulan Desember…

Saya bukannya berhenti mendukung Juventus, melainkan tak ada semangat yang saya rasa kala Tim ini berlaga di liga. Tapi tetap saja, Juventus masih & selalu yang tercinta.

Rentetan pertandingan di Liga hingga pekan ke 38 tak saya hafal dengan benar… tak ada catatan rapi seperti musim lalu. Saya hanya berdoa. Hingga kemudian asa itu menjadi nyata. Kami tetap juara di pentas liga Italia. Berhasil finish di urutan terdepan. Tanpa 102 poin. Hanya butuh 87 saja dengan catatan 3 kali kalah, beberapa kali seri dan sisanya menang… Ahh, bahkan rincian hasil seri dan menangpun saya tak tahu.

Perjalanan Juve tak hanya sampai di Liga.. Kami pun menjadi jawara Coppa Italia. Sepuluh gelar untuk kompetisi kelas dua di negeri Pizza. Plus harapan besar untuk menggenapi musim di ranah Eropa.

Setelah sukses lolos dari babak penyisihan grup, Juve menghentikan laju Monaco di 16 besar, lalu menjegal Dortmund pada perempat final, hingga memaksa sang juara bertahan El Real angkat kaki di semi final pada laga Liga Champions Eropa (UCL). Partai puncak di Berlin mengharuskan kami bersua Barcelona. Sebuah asa lain muncul… di luar ekspektasi siapapun Juventus berhasil menembus final UCL musim 2014-2015.

Kata legenda hidup & besar Juve;

From Berlin to Serie B, From Serie B to Berlin!”

Harapan untuk membawa pulang Piala Kuping Besar dan uang 10 juta Euro semakin meningkat. Berharap Gigi Biffon bisa mendapatkan kesuksesan di stadion yang sama kala Ia mengankat trophy World Cup untuk Italia pada 2006 silam. Saya optimis, tetapi tetap realistis.

Skuad ‘alakadarnya’ akan berhadapan dengan bintang-bintang lapangan hijau. Saya percaya pada tim, bahwa mereka akan melakukan yang terbaik… tapi kami masih harus banyak belajar. Di akhir 90 menit pertandingan, Berlin belum berpihak pada Juventus.

Juventus masihlah salah satu yang terbaik di Eropa, dan selalu terbaik di pikiran dan hati saya. Delapan kali menembus final UCL dengan hanya dua kemenangan adalah cerita kurang beruntungnya kami di partai puncak. Menjadi runner-up yang ke 6 kali di pentas Eropa jauh lebih membanggakan daripada mereka yang hanya bisa berkomentar lantaran clubnya hanya bisa berlaga di liga lokal pada musim depan.

Musim ini…Target perempat final UCL terlampaui hingga final…. maka Juventus telah memberikan lebih daripada harapan yang mereka emban.

Berlin telah selesai… Juventus pulang tanpa mahkota, tapi bagi saya mereka tetaplah Juara. Saya pikir saya akan bersimbah air mata atas kegagalan di partai final UCL ini, ternyata yang ada hanya bangga dan rasa cinta yang lebih besar pada La Vecchia Signora.

Musim lalu kami gagal di kompetisi kedua Eropa, kemudian Juve memperbaikinya di musim ini dengan menembus Final UCL. Maka musim depan, prasangka positif untuk Trophy UCL haruslah dimiliki semua elemen Juve.. termasuk Juventini. Cukuplah hadiah 6.5 juta Euro untuk membenahi skuad di musim depan.

Jika memang Max Allegri tetap menjadi pilihan manajemen untuk mengarsiteki Juventus di musim depan maka dia HARUS memperbaiki ‘semangat’ Juve! Mengembalikan ‘Lo Spirito alla Juventus’ pada setiap pertandingan.

Terimakasih untuk musim ini, Tim! Apapun dan bagaimanapun hasilnya, selalu bangga bisa menjadi salah satu bagian dari semangat Bianconerri. Musim depan, semangat itu harus lebih digali. Harus lebih besar. Musim depan, kitalah yang terbaik di Eropa..

Cukuplah untuk musim ini… 33 gelar dan satu bintang perak… #4Ju33 #LaDecima …

Grazie Juventus.

#ProudOfJu

 

Kami Butuh Keadilan

I Need The Fairly Tale, Perhaps...

I Need The Fairly Tale, Perhaps…

Benar memang, suka tidak suka… kasus perusakan citra oleh ‘dia yang namanya menjijikkan untuk disebut’ sudah sangat terlambat untuk dibahas ulang. Sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu kebenaran, tapi suatu kebenaran tetaplah mutlak.

Juventus bersih.. harusnya, jika asosiasi yang menaungi keberadaan semua tim di ranah Italia mengerti akan keadilan.. kebenaran yang telah saya (dan seluruh komponen dan ornamen Juventus) yakini selama ini mendapatkan porsi keadilan yang sewajarnya. Harusnya, tak ada alasan lagi bagi FIGC untuk mengelak memberikan balasan setimpal kepada ‘dia yang namanya menjijikkan untuk disebut’ atas tuduhan tak berdasar kepada tim kami.

Dua gelar yang sembilan tahun lalu dirampas, masih ada di lemari piala Juventus. Tak ada alasan bagi FIGC untuk mengembalikan dua gelar tersebut setelah Moggi dinyatakan bersih dari tuduhan yang dulu dikemukakan oleh ‘dia yang namanya menjijikkan untuk disebut’, karena keduanya memang hak kami. FIGC hanya perlu menunjukkan kapasitasnya sebagai ‘payung’ yang menaungi semua club sepakbola di sana…menjatuhkan hukuman setimpal pada ‘dia yang namanya menjijikkan untuk disebut’ beserta antek-antek dan kroni-kroninya.

Mau merayu Juventus dengan cara menjadikan J-Stadium sebagai venue di laga-laga persahabatan Azurri? Laga persahabatan itu justru akan merusak fasilitas stadion kami..bangku penonton bisa jadi rusak, toilet tidak bersih, sampah dimana-mana, dan yaa..justru semakin menambah biaya operasional sewa stadion. Putusan banding yang slealu ditunda pun sebenarnya cukup memakan biaya.

Daripada begitu, bukankah jauh lebih baik untuk membayarkan saja kompensasi yang diminta Juve atas ‘kesalahpahaman’ di sembilan tahun lalu?

Silahkan saja bernegosiasi, tapi Agnelli pastilah sudah geram setengah mati. Memutus kontrak sebagai sponsor FIGC adalah langkah manis untuk membuat mereka sadar akan ketidakadilan yang Juve terima. Semoga saja di 15 Juli 2015 mendatang, keputusan sidang sudah mencapai akhirnya.

I Miss You

Selalu saja merangsang glnadula lacrimalis untuk mengeluarkan sekretnya..

Selalu saja menitikkan air mata jika harus melihat video ini..

Oh My Capt… Pemilik nomor 10 terbaik masih tersemat padamu.. Terimakasih untuk setiap sikap yang kupelajari dari perilakumu selama mengabdi di Vinovo.

I miss you, Capt… Merindukan ke-humble-an mu.. merindukan semangatmu.. merindukan kesabaranmu… merindukan detak jantung yang begitu cepat saat kau merobek gawang lawan..

Hilang Satu Gelar

Satu piala yang  musim lalu menjadi milik Juventus harus berpindah ke tangan pasukan Naples.

Kesal rasanya ketika harus menyaksikan pertandingan selama 120 menit yang berujung dengan kekalahan.

Getir, ketika harus menerima kenyataan I Bianconerri tak bisa meraih gelar ke 7 Super Coppa Italia. Gagal menjadi perengkuh juara terbanyak, masih harus berbagi tempat dengan Milan sebagai peraih juara Super Coppa terbanyak se Italia.

Mau menghujat pun tak akan bisa merubah hasil akhir. Gelar sudah berada di tangan Napoli, kami harus puas dengan tahta kedua untuk super coppa di tahun ini.

Semoga saja lepasnya gelar yang dua musim beruntun lalu menajdi milik La Vecchia Signora, tak diikuti dengan hilangnya gelar lain yang telah menjadi milik Juve dalam 3 musim terakhir. Semoga saja tidak (Jangan sampai, Tuhan).

Semoga pemikiran itu hanya sebatas pemikiran tak baik akibat ketidaksukaan ini pada pelatih tim.

Maaf Pak Pelatih…. saya sama sekali tidak percaya pada anda. Saya tak butuh bermain indah. Saya tak butuh tim yang bermain atraktif. Kompetisi itu hanya menang dan kalah, Pak. Bermain cantik dan menarik adalah bonus. Saya tak perlu bonus yang nilainya kosong.

Ah, sudahlah. Biarlah gelar pertama ini lewat, mungkin pelatih kami berencana menggantinya dengan gelar yang lebih prestisius di akhir musim.

P.S: No matter what happen.. I’m still love you, Team! Please… do the best after the break.

 

Distressing!

Dear Mr Coach..

You said that Football is a drama, I agree. We can not predictable the final result. We can’t smile in the whole of the time. We have to wait till the end. However, you could not make a drama all the time in this season, Sir.

Surely… that match was overstrung. I really on tenterhooks! It so run for one’s money -_-

Torino is not a big team like M#l*n or *nt#r , but that club also not a simple club. Our club and the Toro has a big history, so You should have been know about that.

I think tenser about our next match because Stephan Lichtsteiner having ‘tea break’.

Please Coach… Don’t make another drama which makes me wrought-up all the time.

Dear My Mr.Coach

Dear My Mr. Coach ….

I am happy with the 7 goals in last week. Greatest victory from you so far. I am happy with the 3 points. I was pleased to see the team was at the top of the table.

Thank you, Sir. Thank you so much.

But, I am Sorry.. I don’t like you.

I gave a welcome at Turin, it does not mean I love you. I tried to love with you in a way to pretend. Pretending that I like you. Hope to really loves you. But it turned out that theory of “the distance between hate and love is near” does not apply to my feelings to you.

I know, I did not have the power to kicking you from your position. I’m nobody, Sir!

I only ordinary people who love the team that you are trained. Trust me, I loved Juventus. So much!

This statement also was nothing. It’s just a voice that I stand for 3 months….The claim that you might not know.

Now, I only hope victory from you.

Your statement about do not need to be a hundred points and always win to be the champion is so shit. A proof that you don’t know the meaning “Vincere non e importante e l’unica cosa che conta“.

Please…don’t say it again. Never ever think about it again, Sir!

Please sir, don’t give Juventus bad results… Please…

I don’t like you, but I really hope to you.

The champion is absolute, Sir!

Hold on to the end of the season. Bring the champion in us, then you have to go.

Yours Truly;

Kutukan Air Mata Seorang Kawan

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #JuveINA14 dari Nine Sport Inc. untuk memenangkan tiket meet and greet dengan para pemain Juventus. Follow @ninesportinc untuk informasi lebih lanjut.

Kala itu saya hanya terpaku melihat kawan sebangku menitikkan air mata. Dengan alasan setia kawan saya tetap duduk di sebelahnya, sembari menerka-nerka mengapa kawan saya menangis sepagi ini. Pikiran bocah yang masih duduk di bangku kelas 3 SD saat melihat kawannya menangis tidaklah macam-macam. Saya, mengira ia menangis karena terkena omelan orang tua atau bertengkar dengan kakak perempuannya. Saya juga sempat memikirkan bagaimana cara menghiburnya. Ketika ide untuk menghentikan air mata kawan sebangku itu datang, ia berkata

“Aku sedih, Mei. Juve kalah. Gak jadi juara liga champions….blablablablaaaa”

Dan masih banyak keluh kesahnya. Saya menjadi seperti orang linglung. Tidak tahu harus menimpali bagaimana. Segala ide penghiburan atas kesedihannya lenyap seketika. Entahlah, saya fikir kawan saya itu gila.

Betul..saat mendengarnya menuturkan penyebab tangis pagi harinya itu, saya beranggapan kawan saya itu gila.

Bagaimana mungkin dia menangis karena sebuah club sepakbola yang ada di negeri nun jauh di sana. Hei.. kami berada di daerah yang bahkan tidak dekat dari ibukota Indonesia, bagaimana bisa dia menangis karena tim yang bernama Juventus harus kalah dari tim yang berlabel Los Galacticos? Tidak masuk akal!

Masih dengan alasan setia kawan, saya bertahan mendengar kisahnya. Cerita yang dia tuturkan sepekan penuh, yang saya anggap sebagai pengobat dukanya. Semakin lama dia bercerita tentang club sepak bola yang katanya berasal dari Italia itu, semakin yakinlah saya bahwa kawan sebangku saya ini tidak waras. 

“Juventus itu hebat, Mei. Apalagi strikernya…Inzaghi, cakep. Mainnya juga bagus… Harusnya kemarin itu Juve menang. Itu golnya off side…blablablablablablaaa”

Saya mendengarkan, sembari membatinkan kutukan. Striker?? Saya kira saat itu saya mendengar ia mengucapkan ‘sticker’, semacam tempelan  yang berbentuk kartun-kartun lucu yang sedang saya koleksi… dan apa itu off side??! 😐

Setelah sebulan kawan saya bertutur tentang Juventusnya, saya merasa risih. Rasanya tak mengerti apapun yang diucapkannya. Sama sekali tak paham tentang si kulit bundar. Namun di sisi lain saya tak mau menjadi pendengar yang bahkan tak mengerti apa yang didengar, risetpun mulai saya lakukan. Mulai dari membaca, bertanya pada kawan, bertanya pada saudara, hingga secara sembunyi-sembunyi memutar televisi di luar aturan jam TV yang berlaku di rumah saya. Mencari tahu apapun tentang Juventus. Supaya saya tahu kenapa club yang berada sisi Bumi lain itu bisa membuat kawan saya menangis gila. Mencari tahu sembari mengutuk. 

Akhirnya, kutukan yang saya luncurkan berbalik mengutuk diri sendiri. Seperti penyihir yang merapalkan mantranya dengan tongkat sihir cacat dalam kisah Harry Potter. Kutukan saya terhadap air mata kawan sebangku atas sebuah club yang bernama Juventus memantul pada diri sendiri. Saya menjadi gila pada La Vecchia Signora. Gilanya melebihi kawan sebangku saya. Memasukkan Juventus dalam setiap kesempatan doa, yang mungkin membuat Tuhan juga beranggapan bahwa saya gila.

Benar mungkin kata orang bahwa batas antara benci dan cinta itu tidak kentara. Berawal dari kutukan air mata seorang kawan, saya jadi belajar bahwa cinta itu tidak harus dekat dan saling kenal… bahkan untuk mencintai sebuah club sepak bola yang letaknya jauh di luar batas negara.