Dosenku & Dosennya

Alhamdulillah, saya benar-benar harus bersyukur karena menimba ilmu di tempat yang ‘tidak menyulitkan’ mahasiswa. Memang, ada waktunya dimana dosen bersikap begitu menyebalkannya saat dimintai waktu konsultasi. Namun, selebihnya wajar saja.

Tidak pernah sekalipun saya bertemu dengan Tenaga Pendidik yang meminta bayaran hanya untuk konsultasi. Sekali pertemuan, harus membayar Rp 500.000 atau memabwa ‘sesajen’ berupa merek-merek terkenal. Tak perlu harus memberikan gratifikasi dalam bentuk apapun untuk mendapatkan nilai dari sebuah mata kuliah.

Sungguh beruntung saya dipertemukan dengan mereka yang tak pernah menarifkan ‘pajak’ bagi mahasiswanya.

Rasanya begitu geram ketika harus mendengar dan mengetahui sendiri bagaimana perlakuan dosen kepada mahasiswa.

Menetapkan ‘pajak’ kuliah jika ingin lulus. Harus memberikan sejumlah uang jika hendak berkonsultasi mengenai Skripsi.

Bahkan ada seorang dosen dari kampus tempat adik saya kuliah yang ddengan terang-terangan memberikan sebuah nomer rekening bank yang harus diisi jika hendak berkonsultasi… Subhanallah, macam hendak periksa ke dokter saja. Bahkan biayanya jauh lebih mahal dibandingkan kontrol ke dokter spesialis.

Alhamdulillah ya Allah, saya diberi kemudahan. Terimakasih untuk Dosen di Institut tercinta yang tidak meminta ‘pajak’ nilai pada setiap mahasiswa.

Semoga saja adik saya diberi kemudahan untuk melunakkan kepala dosennya… dan semoga saja saya punya rezeki lebih untuk membantunya…

Untuk Mr @OfficialAllegri

COLOUREVERYWHERE

Dua pekan pertama diakhiri dengan angka nol. Setidaknya merupakan hasil terburuk Juve dalam mengawali awal musim. Pak Pelatih, tugas utamamu di musim ini memang membawa si Kuping Besar ke Turin, tetapi bukan berarti Anda harus mengacaukan hasil manis Juventus di liga domestik!!! Kalau UCL terlampau berat, pertahankan saya scudetto sehingga tim saya bisa tetap beradda di zona UCL untuk musim depan!

Entah apa yang Anda pikirkan saat meracik skema permainan di dua pekan pertama. Bukankah Anda punya rentatan pemain ternama dalam skuad musim ini? Benar memang, saya sama sekali tak paham masalah meracik strategi, tetapi setidaknya saya tahu bahwa keputusanmu menjadikan Padoin sebagai starter sangat tidak bijak. Padoin bukan pemain jelek, saya bahkan lebih memilih Padoin di Juve ketimbang Anda. Tapi ketahuilah, Padoin bukan pemain yang pandai menentukan tujuan permainan. Dia sama sekali tak bagus jika dipasang dari awal. Lihat sendiri hasilnya, dalam dua pekan terakhir pemain bernomor punggung 20…

View original post 258 more words

PR Yang Menjadi Beban

Harusnya… les atau tambahan mata pelajaran, baik itu private maupun berkelompok, menjadi waktu bagi murid untuk mempelajari hal-hal yang tidak dimengerti di sekolah atau menanyakan pekerjaan rumah yang mereka tak bisa kerjakan sendiri. Tugas guru les itu menjelaskan apa-apa yang tidak dimengerti di sekolah. Bukan mengerjakan PR yang didapat dari sekolah!

Itulah susahnya jadi guru les untuk bocah SD yang agak ‘istimewa’.

Bahkan untuk menyelesaikan PR saja harus menggunakan bantuan guru lesnya.

PR nya pun tidak susah… hanya mewarnai contohnya… Hanya sekedar memoleskan pensil warna saja, sederhana tetapi jika diterus-teruskan bukan tidak mungkin bocah itu benar-benar enggan menyelesaikan sendiri tugas rumahnya. Terlebih lagi jika perintah untuk mengerjakan PR itu berasal langsung dari sang Bunda.

Guru les bisa apa?? 

Padahal salah satu tujuan guru sekolah memberikan pekrejaan rumah adalah meminimalkan kemalasan belajar siswa saat di rumah. Kalau PR kemudian dibebankan kepada guru les… kapan si murid belajar di rumah? 😐

Cerita Tentang Gunung Anyar

Semalam saya dan adik les belajar tentang penampakan permukaan bumi. Kami belajar tentang gunung. He’s so exiceted! Terlebih ketika saya memberikan pengajaran dengan memutarkan video-video tentang aktivitas yang bisa ‘dilakukan’ oleh gunung. Mulai dari gunung meletus, hingga gunung yang menjadi destinasi wisata oleh manusia. Letusan gunung adalah video favoritnya.

Adek les saya bertanya tentang nama-nama gunung berapi yang ada di Indonesia. Menanyakan gunung-gunung tertinggi di dunia & entah kenapa dia begitu takjub dengan nama gunung Kilimanjaro. Lalu kemudian dia bertanya “Gunung itu (Kilimanjaro) ada dimana mbak?”; Saya jawab “Di Afrika, Dek”. Lalu dia menimpali dengan sebuah cerita;

“Di Amerika ada mbak gunung yang lebih tinggi. Letusannya paling menakutkan di dunia”; awal cerita yang dilontarkannya secara menggebu.

Kemudian saya menimpali dengan  pertanyaan “gunung apa?”

Dia menjawab dengan mimik muka serius “Gunung Anyar”

Sayapun hanya bisa calangapan semabri melihatnya; berusaha menahan tawa. Bahkan saking sakitnya menahan tawa, keringat saya bercucuran deras!

Tak sampai di situ; dia membuat saya menahan tawa hingga sisa jam les. Menceritakan bagaimana si gunung anyar itu meletus hingga menyebabkan semua penduduk di Amerika  tak bernyawa. Sebuah kisah menakutkan yang dibawakan dengan penuh kengerian, sementara saya menahan nyeri karena harus memasang mimik muka tertarik pada kisah bocah 7 tahun itu.

Saat saya sedikit mengeluarkan tawa; si adek les berkata “Gunung Anyar ini di Amerika loh mbak; bukan Gunung Anyar yang ada di sini”.

Gunung Anyar di Amerika… dimanakah letak pastinya?? Di kota saya sekarang; Gunung Anyar itu adalah nama sebuah jalan.

Adek les saya ini luar biasa ya… hanya dari sebuah jalanan sempit, dia bisa melanglangkan pikirannya hingga lintas benua. Menjadikan Gunung Anyar sebagai setting kisah yang dia suka. Sebuah imajinasi takterkira dari bocah yang menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dan kamar kos (sesekali di tempat kerja mamanya).

Saya rasa malam itu dia kembali mengajarkan bagaimana caranya berbahagia dengan apa yang kita suka 🙂

Cukup Dengan Memancing

Hari minggu lalu, saya pergi ke sebuah area kolam pancing bersama Ian (nama disamarkan), adek les sekaligus tetangga kamar kos. Sebuah acara yang menjadi janji saya padanya beberapa pekan lalu. Hanya janji sederhana kepada bocah yang berusia 7 tahun. Janji sederhana yang setidaknya memiliki efek luar biasa.

Sebagai anak yang kurang beruntung karena merupakan ‘produk’ broken home, dimana mamanya harus bekerja mencari biaya hidup mereka dari pagi hingga malam; ajakan saya semacam jalan-jalan istimewa buat dia yang hanya menghabiskan waktunya antara di sekolah dengan di kamar kos.

Bagi saya memancing itu tak ubahnya seperti kegiatan manusia-manusia tak punya dan malas kerja karena menggantungkan hasilnya pada keberuntungan, tetapi bagi Ian area pancing itu adalah keajaiban dunia. Meskipun banyak pertanyaan yang ia lontarkan serta beberapa kali kami beradu argumen tentang hal-hal tak penting di sana (sumpah, dia itu pandai bersilat lidah. Bicaranya juara!), mengetahui bagaimana dia menceritakan kisah ‘liburan’ singkat pada sang mama; saya ikut hanyut dalam irama bahagianya.

Dia bertutur bahwa di kolam pancing itu dia bisa melihat banyak ikan dengan ukuran yang besar-besar. Walaupun jumlah dan ukuran ikan yang kami dapatkan sama sekali tak bisa menandingi hasil tagkapan pemancing lainnya, tak ada gurat kecewa dari wajahnya saat sang mama menanyakan apa yang dia lakukan di tempat pemancingan. Cukup dengan memancing, Ian sudah bisa merasakan kesenangan yang luar biasa. Mengatakan pada mamanya bahwa ia bahagia dengan bahasa bocahnya sembari berkata pada mama “aku boleh pergi sama mbak Mei lagi ya, Ma” (dituturkan Ian dalam bahasa Jawa).

Benar-benar sebuah pelajaran bahwa saya benar-benar harus belajar merasa cukup untuk mengerti akan bahagia, bahkan dari sesuatu yang tidak saya suka.

Tentang 5 Bola

Pernah ada sebuah pelajaran yang saya dapat dari sebuah sesi ‘perbincangan’ di kantor. Tentang 5 bola kehidupan.

Iya, masing-masing dari setiap manusia itu punya 5 bola yang harus ada dalam genggamannya. Empat bola kaca, dan satu bola bekel (bola karet).

Kelima bola tersebut dianalogkan sebagai:

  1. Keluarga
  2. Sahabat
  3. Semangat
  4. Kesehatan
  5. Pekerjaan

Pelajarannya adalah, ketika kelima bola tersebut dilemparkan, lalu kita harus menangkapnya dengan kedua tangan; harus ada satu bola yang dilepas. Empat bola kaca harus tetap kita tangkap, sedangkan sebuah bola karet dibiarkan saja terjatuh. Dan keempat bola kaca itu adalah keluarga, sahabat, semangat, dan kesehatan. Keempatnya benar-benar harus ditangkap karena jika sampai pecah maka tak akan lagi bisa berwujud ‘bola’. Pecah…hilang…raib…tak bisa digantikan.

Sedangkan bola bekel (karet), lepas saja. Karena ketika bola tersebut dilepas, dia akan kembali memantul. Bahkan pantulannya bisa lebih tinggi dibandingkan lemparan pertama. Iya, lepaskan saja ‘bola’ pekerjaan maka ia tidak akan pecah dan hilang. Bisa dicari, bisa diganti.

……………………………………………………………………………………

Mungkin memang sudah saatnya melepas si bola karet.

‘Bertengkar’ Yuk!

Bertengkar seringkali diartikan sebagai keadaan dimana dua orang atau lebih saling mengumpat, saling pukul, saling menghina, saling meluapkan emosi marah. Benar memang. Dan melihat arti bertegkar tersebut, rasanya sangat tidak menyenangkan jika kita harus bertengkar dengan seseorang. Bahkan karena terlampau menakutkannya sebuah pertengkaran, seseorang seringkali menghindari untuk terlibat dari aksi bertengkar tersebut. Lebih memilih diam dan bersikap seakan-akan tidak ada hal yang menjanggal dan ingin dipertengkarkan.

Tapi sebenarnya ‘bertengkar’ itu perlu.

Serius.

Perlu diingat bahwa bertengkar tidak harus saling mengumpat. Bertengkar tidak harus saling menghina. Bertengkar tidak harus saling beradu kekuatan otot. Bahkan diskusi asik dengan kawan dekat pun dapat dikata sebagai ‘pertengkaran’.

Dan bagaimanapun bentuknya, bertengkar itu dibutuhkan. Dalam suatu ‘simbiosis’ antara manusia dengan manusia, pertengkaran itu perlu.

Kenapa harus bertengkar? Karena di dunia ini tidak ada dua orang manusia dengan karakter yang benar-benar sama, maka sangat tidak mungkin ada pikiran yang benar-benar sama antara manusia satu dengan manusia lainnya. Ada hal yang disukai seseorang justru menjadi sebuah ketidaksukaan bagi orang lain. Pada sebuah ‘simbiosis’, ketidaksamaan itu harus diungkapkan. Ketidaksukaan itu harus disampaikan.

Penyampaian yang mungkin akan berujung pada adu argumen, lalu kemudian sedikit percekcokan. Tapi percayalah bahwa percekcokan itu pada akhirnya bisa diselesaikan secara baik-baik

Kalaupun percekcokan tersebut tidak dapat didamaikan, sehingga kemudian terjadi perkelahian ataupun saling menghina dina; pasti akan ada waktu setelahnya dimana masing-masing akan menyadari bahwa Tuhan memang menciptakan manusia dengan beraneka rupa, dan yang bisa dilakukan manusia hanya menerima.

Karena ‘bertengkar’ itu berarti peduli.

We Aren’t a Math

Sebuah teori yang beberapa hari lalu dikatakan oleh kawan saya;

“Seperti ilmu matematika SD, Mei… negatif ketemu positif, jadinya negatif. Gak mungkin positif. Jadi bullshit kalo ada istilah saling menguatkan, yang ada saling melemahkan. Kalo kamu positif dan mau dapat positif, kumpullah dengan orang-orang positif. Kalo kamu negatif pengen jadi positif, kumpul sama orang negatif”

Pertama kali mendengar teorema itu saya hanya diam sambil berfikir agak lama. Cukup lama sebenarnya karena kata ‘matematika’ secara tiba-tiba membuat setiap lapisan pikiran di otak berhenti bekerja. Teorema sinting!!!!

Meskipun agak lama Saya bisa pastikan teorema yang dianut kawan saya itu kurang tepat. “negatif ketemu positif” tidak selalu negatif bukan? Tergantung ketemunya gimana kan? Kalo ketemunya via ‘perkalian’, hasilnya memang negatif. Tapi kalo ketemuanya via penjumlahan atau pengurangan? Bisa positif bisa negatif!  Tergantung besar nominalnya. -40 + 100 misalnya… Bukankah hasilnya positif? Lalu 30 + (-8); hasilnya 12. Masih positif bukan? Mungkin memang ada pengurangan nilai positif, tetapi setidaknya masih bernilai positif.

Ada juga benarnya mengomparasikan hidup manusia dengan hitung-hitungan matematika, but trust me Mate, our life isn’t a math. Menyamakan hidup dengan kalkulasi dan teorema matematika? Manusia kan bukan robot?! Tidak diciptakan dengan ukuran-ukuran angka beserta reasio-rasionya.

So, pleaseeee…… jangan mematematikakan kehidupan (really HATE math!!).

Terimakasih Untuk Adikku Yang Ajaib, Tuhan!

Dear God….

Terimakasih karena sudah memberi saya adik yang ajaib

Terimakasih… karena dengan keberadaan adik saya yang ajaib itu ada kekuatan ekstra yang saya miliki dalam menjalani kehidupanMu

Sungguh Tuhan… saya bersyukur karena Kau tidak membuat saya harus susah-susah mencari pengalaman dan pembelajaran hidup karena adik saya yang ajaib itu

Terimakasih Tuhan.. karena membuat saya bisa belajar banyak dari adik saya tentang apa-apa yang tidak bisa saya alami sendiri

Mungkin saya tidak bisa kuat jika harus mengalami alur cerita yang terjadi pada adik saya, tapi dengan adanya dia saya menjadi pribadi yang cukup kuat karena turut merasakan betapa luar biasa curamnya jalan yang dipilih adik saya itu

Terimakasih, Tuhan..

Terimakasih tiada tara untuk semua pelajaran ini…

Kalau saya memang cukup kuat untuk menerima keajaiban adik saya yang lain, maka tunjukkanlah kekuatan itu

Tapi kalau saya sudah tak mampu lagi, tolong…. cukupkanlah kelakuan ajaib adik saya

Overall…Thanks God!

Happy Kartini Days 2013

Perempuan adalah sosok inferior, jauh sebelum masa abad pertengahan. Kemudian, seiring dengan tahapan evolusi sosial yang berkembang sangat pesat…perempuan tak lagi sekedar seseorang yang punya tugas sebagai pengurus rumah. Lalu kemudian perempuan menjadi sosok yang punya kekuatan. Punya kuasa. Perempuan bisa jadi CEO. Perempuan bisa jadi Presiden.

Bahkan saya pernah menuturkan bagaimana keluarga saya yang didominasi oleh kaum hawa dan mereka hebat dalam dunianya masing-masing. Iya…perempuan itu hebat. Perempuan adalah ciptaan Tuhan  yang paling luar biasa. Kartini, hingga Gerwani…Lalu Sri Mulyani & Megawatie. Banyak lagi perempuan-perempuan yang tak bisa dipandang remeh kontribusinya terhadap kemajuan suatu Bangsa.

Masih mau mengganggap perempuan itu tidak punya kemampuan?

Hei jangan salah…perempuan itu hebat!

Saat ini, jaman dimana gender sudah tak lagi dipermasalahkan, tetap saja belum sepenuhnya menjamin perlakuan terhormat yang bisa didapatkan oleh seorang perempuan. Masih banyak kasus pelecehan dan perlakuan tidak pantas yang didapatkan oleh kaum hawa dari lawan jenisnya.

Bagi saya, perempuan tidak lagi harus didefinisikan sebagai makhluk hidup yang memiliki vagina, mengalami menstruasi, dapat hamil, dan melahirkan! Definisi perempuan jauh lebih dari itu!

Berbanggalah kalian yang dilahirkan sebagai wanita.

Selamat Hari Kartini Wahai Perempuan Indonesia 🙂