Kerja Karena Suka

Sekali lagi saya harus mengatakan bahwa Bekerja dimanapun sama saja…

Pasti ada sosok aantagonis & protagonis. Pasti ada wajah yang berperan sebagai ibu peri, atau mereka yang menjadi pengadu domba. Dan sungguh, itu kenapa untuk bertahan di suatu komunitas kerja harus benar-benar menjadi individu yang adaptif.

Bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Tapi bukan berarti harus merubah diri. Jika kalian hidup dalam lingkungan reptil, dikerumuni oleh manusia yang berbisa macam ular… maka jadilah Elang! Punya cakar & paruh yang tajam untuk menerkam si Ular.

Dan ya… beradaptasi tidak berarti harus merubah diri… tetap menjadi diri sendiri! Karena itulah, jika sulit merubah diri untuk menjadi individu adaptif… setidaknya carilah pekerjaan yang kita sukai. Biarkanlah ada bisa ular, ada jebakan, ada sumpah serapah, bahkan fitnah yang membabi buta sekalipun… tetapi setidaknya hasil akhir dari yang kita kerjakan tetap menyenangkan, sehingga kita (tetap) dibayar untuk bersenang-senang!

Kerja Senang

Berbicara kenyamanan di tempat kerja, maka indikatornya adalah senang. Senang akan setiap tugas dan kewajiban, senang akan ruangan kerja, serta senang akan rekan kerja di sekitar.

Sayangnya untuk mendapatkan ketiga senang tersebut tidaklah gampang.

Selalu saja ada gerundelan tentang tempat kerja. Kesampingkan masalah penghasilan, kenyamanan di tempat kerja seringkali terganggu dengan rekan kerja…entah itu perilakunya, karakternya, maupun sifatnya yang kurang ramah. Bagi saya semua kriteria tersebut bukanlah masalah, asal masih dalam batas profesionalitas kerja dan tidak merugikan rekan kerja lain.

Tapi, tidak sulit mendapatkan kenyamanan di tempat kerja… Mudah kok.. caranya adalah, carilah dunia pekerjaan yang benar-benar kita suka. Menyukai jenis pekerjaannya. Mau seburuk apapun tempat kerja, bagaimanapun menjengkelkannya orang-orang sekitar… setidaknya kita masih punya rasa senang saat melakukan semua tugas dan kewajiban.

Syukur-syukur jika semua faktor nyaman  bisa kita dapatkan… hingga akhirnya kita dibayar untuk bersenang-senang 🙂

Lembaga Bukanlah Hutan Rimba

Mungkin benar, dimanapun… yang namanya tempat kerja tak ubahnya hutan rimba. Siapa yang kuat dialah sang juara. Tak peduli benar atau salah, asal punya kuasa dialah yang bebas dari siksa.

Mau lembaga sebesar dan setenar apapun, hukum yang kuat yang menang adalah aturan mutlak yang tak tertulis.

Bohong jika tak ada faham senioritas! Nyatanya hampir semua institusi, pihak minor selalu saja menjadi sosok yang dipersalahkan.

Benar mungkin pandangan teori yang pernah saya baca di beberapa literatur bahwa sebenarnya mayoritas perusahaan, lembaga dan institusi di tanah air lebih menjadikan materi sebagai indikator kesuksesan lembaga. Menjadikan kepuasaan pelanggan sebagai target, tanpa peduli dengan kompetensi SDM.

Selalu saja menomersatukan aset materil daripada aset manusiawi.

Yang dipikirkan adalah bagaimana caranya mendapatkan ‘pelanggan’ sebanyak mungkin di setiap semester, tanpa peduli pada kualitas SDM yang menjalankan lembaga. Kalaupun ada pelatihan untuk SDM, paling-paling indikatornya berupa angka… Selalu saja dinilai melalui ujian yang isinya soal-soal. Padahal, angka hasil ujian bisa berubah sewaktu-waktu.

Jarang sekali saya dapati sebuah lembaga melakukan perbaikan mental, pola pikir, perilaku, dan sifat SDM.

Memperbaiki mental karyawan yang tak lebih dari sebuah kerupuk basah, memanipulasi waktu kerja untuk dicantumkan dalam laporan kerja harian misalnya.

Merubah pola pikir yang luasnya tak lebih besar dari daun talas.Hanya beranggapan bahwa kerja itu harus disebuah ruangan. Atau belajar itu harus duduk di bangku dan ada setumpuk kursi di atas mejanya.

Merubah perilaku yang suka bergunjing, bergosip, atau memperbincangkan keburukan rekan kerja di hadapan rekan kerja lain.Perilaku yang bermanis-manis muka, namun kerap menusuk seketika saat dirinya merasa bersalah namun tak mau kalah!

Serta memperbaharui difat SDM yang semanunya sendiri, mau menang sendiri, sok berkuasa, sok senior, dan sok bersih!

Sangat disayang jika suatu lembaga tersohor memiliki punggawa yang kualitasnya hanya sebatas ukuran angka 0-9. Lembaganya sudah punya nama, seharusnya SDM yang tergabung di dalamnya punya cara supaya nama tenar lembaga tidak tercemar.

Terlebih lagi jika lembaga (institusi) tersebut berhubungan dengan dunia pendidikan….Harusnya setiap individu yang bergabung dengan lembaga terkemuka bisa menjaga diri untuk tidak ‘menerkam’ rekan kerjanya…Menyalahgunaan kewenangan yang dipunya atau bersikap tak mau disalahkan! Toh sama-sama mencari nafkah… sama-sama memiliki bagian kerjanya… Sama-sama mengemban nama baik lembaga. Kenapa pula harus menjadikan tempat kerja sebagai hutan rimba?

Dimanapun, Mengajar itu Sama

Orang-orang yang hidup di ujung-ujung negeri, selalu saja beranggapan bahwa menjadi tenaga pendidik di tengah kota jauh lebih beruntung dari pada mereka yang mengajar di hutan belantara. Alasannya karena arus informasi bisa berlangsung lebih cepat…gaji yang rutin setiap waktu… ada tunjangan ini itu… bisa melihat pergerakan kemajuan zaman.

Ahh…hanya sebuah perspektif dari mereka yang terlalu lama hidup di daerah.

Padahal sama saja. Tak ada beda antara pendidik di daerah dengan pendidik kota. Kalau ingin mendapatkan uang dengan cepat, jadilah koruptor..jangan jadi tentor.

Gaji lebih besar karena mereka yang di kota punya pengeluaran lebih dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Harus membeli bahan bakar elpiji untuk memasak… Kalau di kota masih ada lahan kayu bakar, mungkin saja tak ada tabung gas ijo dan biru yang diperjualbelikan.

Mau membandingkan dari perjuangan pendidik yang harus mengayuh sepeda melewati rawa dan bukit untuk sampai ke tempatnya bertugas? Di kota banyak jalan raya, kawan. Jalan raya itu tak kalah seramnya dari hutan rimba. Tidak jauh berbahaya pula dari sebuah rawa.

Di hutan mungkin ada macan, jalan raya punya banyak pengendara liar yang pengemudinya sibuk main henpon. Jika di rawa ada buaya, di jalan raya ada balapan bus kota. Resiko kecelakaan dan kematiannya sama!

Mau menjadikan model siswa sebagai perbandingan?

Pendidik di daerah harus sabar dengan sikap siswa yang enggan belajar karena lebih suka mencari kayu bakar, namun  pengajar di kota juga harus bersabar dengan kelakuan siswanya yang datang ke tempat belajar hanya untuk show off.

Bagaimana mungkin pendidik yang hidup di kota dikatakan lebih beruntung daripada mereka yang di daerah? Sama saja, kawan. Yang membedakan adalah bagaimana cara mereka mentransfer ilmu serta kemauan setiap individu untuk terus mengajar atau tidak. Oleh karena itulah, mengajar dimanapun tidaklah berbeda. Sama-sama membagi pengetahuan pada generasi penerus.

Ketika On Time Dipersoalkan

Risih rasanya ketika seorang penjaga gedung menuturkan pernyataan

“Ngapain mbak datang jam segini? Ngajarnya jam berapa coba? Emangnya situ udah jadi pegawai beneran di sini?”

yang kemudian diikuti gerundelan dan bisik-bisiknya  dengan beberapa pekerja di sana.

Sebuah kalimat yang menyiratkan bahwa mindset-nya terpaku pada pegawai kontraklah yang harusnya datang sebelum jam mengajar.

Saya hanya menimpali dengan senyuman…tapi membatin..

“Hei Boy… saya lebih suka datang lebih awal daripada harus terlambat.”

Mau dikontrak atau tidak, saya tak suka dengan keterlambatan. Harusnya protes itu tidak ditujkan pada saya. Kenapa kalimat sarkasmenya tidak dituturkan saja pada pekerja yang harusnya datang jam 12.00, tetapi justru menampakkan batang hidungnya pukul 14.00 ?

Saya terbiasa untuk on time, jadi jika benar-benar tak ada halangan untuk terlambat maka saya akan berada di sana tepat waktu. Mau dibilang lebay karena datang terlalu awalpun saya tak peduli, toh kedatangan awal saya tidak menyusahkan mereka. Saya datang tanpa minta dijemput. Tanpa meminta ongkos kendaraan umum.

Tak perlulah mengatur-ngatur saya untuk datang pukul berapa atau menyuruh-nyuruh saya untuk pindah tempat tinggal supaya saya lebih dekat dengan tempat kerja, sehingga tak perlu berangkat terlalu awal. Mau saya tinggal di antariksa pun jika saya bisa menyelesaikan setiap kewajiban mengajar tak masalah bukan? Tepat waktu untuk datang ke tempat kerja bukan karena dikontrak atau tidak, melainkan karena kebiasaan.

Jika saya menceritakan bagaimana si penjaga gedung itu ‘menasehati’ saya pada beberapa orang (include my boyfriend-perhaps), mereka pasti menuturkan ;

“Mungkin dia hanya mengemukakan pendapat. Biarkan saja”

Ahh..berpendapat… hidup saya bukan ajang musyawarah yang bisa menampung pendapat siapapun. Know before you judge, dude!

Ya..mungkin si penjaga gedung itu hanyalah salah satu wujud buramnya warna dunia kerja di Indonesia. Ada saja persoalan aneh yang seharusnya tak perlu diributkan, termasuk kebiasaan tepat waktu.

Tak perlu terlalu diambil pening pula, toh dia bukan siapa-siapa… hanya sosok yang mungkin begitu peduli dengan saya.

 

 

Kerja, Rupiah, Dan Setia.

Beberapa hari lalu seseorang pernah mengatakan bahwa semua perusahaan membutuhkan loyalitas dari pekerjanya, dengan begitu perusahaan akan memberikan apresiasi lebih pada pekerja. Beliaupun menuturkan;

“Seseorang yang digaji 10 juta per bulan, belum tentu dia bisa loyal pada perusahaan”

Ahh.. iyaa benar memang. Tapi logikanya.. pekerja yang digaji 10 juta per bulan saja belum tentu loyal, bagaimana dengan pekerja yang hanya diupah 500 ribu per bulan?

Maka sebenarnya loyalitas itu tak dapat diukur dengan nilai mata uang.

Tujuan utama dari bekerja adalah mencari nafkah… mendapatkan upah. Sementara setia pada tempat kerja adalah topik lain yang akan lahir dengan sendirinya.

Karena itulah, indikator loyal dan setia merupakan sikap fundamental yang menghubungkan pekerja dengan tempat kerjanya. Hubungan itu akan sedikit goyah jika salah satu pihak berusaha merugikan pihak lain. Dan namanya juga bekerja, kerugian yang paling nyata tentu saja yang berbau material.

Maka dari itu.. sesungguhnya (mayoritas) tujuan utama dari bekerja adalah rupiah, barulah bisa menunjukkan sikap setia.

Tentang G30SPKI

Di sebuah sesi Try Out ujian nasional dua orang siswa berbisik pelan sembari mengerjakan soal Bahasa Indonesia yang menjadi materi Try Out hari ini.

Siswa Satu: “Aku minggu depan ada pementasan drama lagi”

Siswa Dua: “Lohh..aku sudah kemarin.. tentang Snow White”

Siswa Satu: “Ohh.. pementasan dongeng ya. Besok aku pementasan tentang sejaran Indonesia”

Siswa Dua: “Apa? Sangkuriang? Apa Malin Kundang?”

Siswa Satu: “bukan.. G30SPKI”

Siswa Dua: “Opo iku????”

Siswa Satu: “Yaa itu perang-perang.. aku juga gak tahu”

Siswa Dua: “Aneh..”

Saya pun tertegun.. Oh adek… Sangkuriang dan Malin Kundang itu bukan sejarah… Kedua kisah itu hanya sebatas legenda.. G30SPKI tak tahu? Well.. saya memang bukan ahli sejarah, tak hafal pula setiap kisah heroik di Nusantara. Namun tak mengerti apa itu G30SPKI sungguh keterlaluan. Bukankah kisah itu adalah salah satu materi pelajaran di sekolah dasar? -_-

Ingatan Akan Siswa

Pada zaman sekolah, saya sempat menganggap sebagian besar guru itu sombong karena terkadang tidak mengenal siswanya ketika berada di luar sekolah. Sempat beberapa kali menyapa seorang guru di sebuah departemen store, tetapi balasan yang saya dapat hanya anggukan kecil serta senyum simpul. Tak jarang pula saya dilewati begitu saja ketika berpapasan di tempat lain. Yaa.. maklumlah.. saya memang bukan kriteria siswa yang bisa diingat. Tak masuk dalam kategori jenius dan lolos pula dari klasifikasi tukang buat onar. Hanya golongan siswa medium dengan prestasi alakadarnya.

Tapi kemudian… setelah saya berkecimpung sendiri di dunia pengajaran… mengingat setiap  siswa memang tak semudah mengingat nama bintang film kesayangan.. Apalagi jika setiap tahun selalu ada regenerasi siswa. Saya sudah merasa mengingat setiap rupa siswa yang pernah saya isi kelasnya. Merasa pede bahwa saya hafal betul setiap paras mereka. Namun kemudian saya disadarkan oleh seorang siswa bahwa sebenarnya saya sama seperti mayoritas pendidik. Tidak benar-benar hafal pada semua peserta didiknya.

Akhir pekan kemarin, saya kembali memberikan tambahan pelajaran kepada seorang bocah SMP. Les privat ini juga merupakan rekomendasi seorang rekan di tempat kerja, sama sekali tidak berfikiran bahwa adek les  tersebut adalah bagian dari tempat saya mengajar selama ini.

Selama 60 menit saya sama sekali tidak mengenali bocah lelaki yang dengan tabahnya mendengarkan ocehan saya. Di akhir les, tiba-tiba dia berkata;

“Saya diajar ibu loh… ehh mbak..”

Dengan merespon dengan sedikit kekagetan;

“Ahh..masa? Kamu kelas berapa?”

Dan dia menjawab dengan santainya;

“Iya, Mbak.. kelas 193. Kemarin mbak masuk kelasku pake masker. Waktu mbak lagi sakit itu loh..”

Ahh.. ya… saya memang pernah sekali mengisi kelas dengan mengenakan masker.

Ya Tuhan kelas itu adalah kelas yang diisi siswa dengan mulut yang tak bisa berhenti mengoceh selama 90 menit. Saya pikir saya tahu betul setiap pemilik mulut yang tak mau tertutup di kelas itu. Namun ternyata ingatan saya tidak sepenuhnya sempurna. Diantara  mereka banyak omong itu ada satu siswa yang cenderung pendiam.. yang luput dari ingatan visual saya.

Benar memang.. untuk mengingat siswa memang lebih mudah jika mereka masuk dalam dua kategori khusus. Punya otak brilliant atau pembuat masalah di kelas 🙂

Maafkan Saya Yang Katrok

Dua kali saya mendapatkan cercaan dari siswa dengan alasan yang sama. Mereka menilai bahwa saya katrok (ndeso or tidak gaul).

Cercaan itu dituturkan oleh dua siswa yang berbeda 3 tingkat.

Siswa pertama menuturkan hal tersebut beberapa bulan lalu. Ketika saya ‘magabut’ di kelasnya  lantaran semua materi telah selesai. Siswa cantik yang super banyak bicara selama jadwal les, tetapi yang terpandai diantara kawannya; mengajak saya bercengkrama tentang tempat-tempat nongkrong di wilayah sekitar tempat bimbel. Dia dengan santainya menceritakan berbagai tempat yang katanya asik untuk menghabiskan waktu luang, sementara saya menimpali dengan menuturkan tempat nongkrong asik ala saya. Hingga kemudian dia bertanya;

“Miss, aku mau beli pasco aaahhh…. Mau titip gak?”

Saya secara spontan bertanya

“Pasco itu apa?”

karena memang kata itu asing di telinga saya. Dan keluarlah kalimat..

“Ihh…katrok deh gak ngerti pasco.. Helloo… anda dari planet mana?”

Semenjak itu dia mengatakan saya sebagai tentor gak gaul -_-

Mana tahu saya pasco? Mana saya tahu jika si pascco adalah minuman ringan yang dijajakan di rombong-rombong pinggir jalan? Tak jauh beda dengan pop ice yang diblender!

Lalu beberapa saat lalu, ada seorang siswa yang saya tak begitu kenal mengawali monolognya tentang dunia politik tanah air.

Dia secara menggebu-gebu memborbardir saya dengan kisah KPK Vs Polri jilid 2. Katanya kasus ini lebih seru daripada jilidd 1.

Sebagai respon, saya hanya menganga… lalu kemudian saya bertanya..

“Memangnya ada apa dengan KPK dan Porli?”

Jawaban yang saya terima tak jauh beda dengan cap katrok.

“Mbak gak gaul ya? Gak pernah nonton berita? Wah, kasian Indonesia kalo semua warganya kayak mbak. Jangan-jangan mbak gak tahu ya harga BBM udah jadi 7600?”

Ohh… ya yaa… ingin sekali saya mengatakan bahwa saya memang tak pandai dengan kisah KPK dan Porli… Tidak mengerti dengan peperangan dua institusi penegak keadilan di Indonesia itu. Memangnya sekarang saya punya waktu untuk mengamati keduanya? Saya hanya punya waktu beberapa detik untuk melihat judul TL di salah satu medd-sos tentang perang mereka, setelah itu sisa waktu saya habiskan untuk memikirkan bagaimana cara saya mencukupi kebutuhan sebulan ke depan. Memangnya saya anggota KPK dan Porli yang akan mendapatkan gaji bulanan tinggi untuk makan sehari-hari?

Yah.. mungkin dunia politik Indonesia merana jika semua penduduknya ‘tak gaul’ seperti saya, namun betapa menyedihkannya bangsa beberapa tahun ke depan jika semua generasi penerusnya mendefiniskan kata parental saja tak bisa!

hahahaha… ketika kamu menyebutkan angka 7600, SPBU di Indonesia (Jawa mungkin) sudah menjual premium dengan harga 6700 per liter. Ah, jangan-jangan tak pernah membeli bensin sendiri? Berbahagialah tangki motor full karena orang tua, tapi tak perlulah sok menjadi dewa yang mengerti segalanya! You just a shit boy, so shut up your f*ck*’ mouth! (Sorry, God!)

Hei.. kids… maafkan saya yang katrok! Tapi belajar sajalah kalian dengan benar.

3 Pekan Setelah Liburan

Yaaayy… liburan sudah selesai… Kembali pada rutinitas menyebar sedikit ilmu dan pengetahuan alakadarnya. Tidak berbeda dengan kegiatan di awal semester lalu, aktivitas siswa di tempat ‘les’ tak jauh-jauh dari menghabiskan waktu luang. Ada satu atau dua atau tiga yang memang niat mempertebal catatannya, tetapi lebih dari sepuluh siswa yang menjadikan tempat ‘les’ sebagai arena ‘bermain’.

Tapi bagi saya dan teman-teman pengajar, lembaga bimbingan itu merupakan wahana untuk menunaikan kewajiban guna mendapatkan hak di awal bulan.

Tapi tetap… I love doing that.

Beberapa siswa memang masih menunjukkan sikap acuh tak acuhnya, saat menerima materi. Beberapa lagi malas-malasan di kelas. Beberapa lainnya masih terus berkicau sepanjang jam pelajaran.

Tiga pekan terakhir, saya harus mengisi kelas yang beraneka rupa. Saya harus mengisi kelas yang acuh-tak acuh untuk memulai semester genap ini. Lalu dilanjutkan dengan kelas yang tak banyak tingkah karena mereka sedang berada di kelas tua yang tak lama lagi harus berperang di ujian nasional.

Mengawali minggu kedua, saya harus berjibaku di kelas yang ramainya begitu sangat -_- Mungkin karena memang materi yang diajarkan merupakan pengulangan di semester pertama, sehingga muncul komentar seperti;

“Ahh.. materi itu sudah semester lalu. Ngapain diulang lagi”

Padahal ketika saya mengajukan pertanyaanpun, tak ada yang bisa menjawab.

Lalu ada kelas yang maunya cepat-cepat pulang. Menyuruh saya untuk bergegas menjelaskan materi dan membahas soal. Kemudian mereka minta pulang. Padahal waktu tiap kelas adalah 90 menit. 30 menit waktu saya menulis, 30 menit waktu mereka menulis, 30 menit untuk menjelaskan dan membahas soal. Tapi kelas ini melewatkan waktu 30 menit menulis mereka; alasannya papan yang penuh tulisan saya sudah difoto dan akan disalin di rumah. Jadilah ada sisa waktu 30 menit. Tak mungkin saya memulangkan siswa saat sisa waktu belajar mereka masih 30 menit… saya tak mau dibilang korupsi waktu. Tapi permasalahannya siswa-siswa itu merajuk untuk dipulangkan saja. Saya pun tak bisa berbuat apa-apa. Karena tidak tahan dengan rengekan mereka, saya seringkali mengeluarkan siswa dari kelas sebelum bel usainya jam pelajaran berdering. Saya kerap kali memulangkan mereka sepuluh atau lima menit sebelum bel.

Dan akhirnya ada teguran untuk tidak mengeluarkan siswa sebelum bel….

-_- Oke, saya masih belum bisa menahan siswa untuk betah di kelas dalam sisa waktu pelajaran. Tapi saya tak mau dianggap tidak mengajar penuh. Apa gunanya di dalam kelas jika materi yang telah dibahas sudah selesai? Percayalah saya bahkan pernah meninggalkan kelas 15 menit setelah bel karena memang materi belum dibahas tuntas. Jadi anggapan saya hanya duduk-duduk di kelas itu tak bisa saya terima.

Dan yaa.. minggu ketiga ini saya harus membatalkan satu hari KBM (3 kelas) karena diare yang datangnya tiba-tiba. Saat izin untuk membatalkan kelas pada koordinator saya mendapatkan jawaban yang sebenarnya membuat geli “Kenapa mendadak ijinnya?”

Ahh…kalau saya tahu hari itu saya kena diare, pastilah saya sudah izin jauh-jauh hari sebelumnya. Manusia mana yang mengetahui dia sakit kapan? Kalau saya tahu saya akan mati minggu depan… pastilah saya mengajukan ijin tak masuk karena alasan mati -_- Tapi untung pada akhirnya koordinator masih mau menerima ijin pembatalan kelas saya, meskipun (mungkin) dengan berat hati.

Dan minggu ketiga ini masih menyisakan 3 hari. Dari jadwal yang saya miliki, setidaknya saya akan mengisi kelas-kelas normal. Semoga saja tak ada aral melintang untuk menyelesaikan tugas di bulan pertama semester genap ini.