Dear All

Dear Dad… I wanna kill you

Dear Mom.. if I can…. I wanna kill you

Dear Sister… I wanna kill you

Dear Brother… I wanna kill you

Dear Friends… I wanna kill you

Dear My Life… I like you…. Thanks for teach me about yours

Dear God… I’m nothing without You.

Advertisements

Sebuah Doa

Iya, mungkin memang tidak pandai bersyukur

Kurang bisa menghargai apa yang ada

Tidak pula benar-benar ikhlas…

Manusia…

Benar-benar harus berusaha keras untuk merasa bahagia

Sama halnya dengan usaha payah untuk merasa cukup

Padahal limpahan tawa itu tak perlu dicari dengan bersusah-susah

Dan, semoga bisa

By meirina Posted in Poetry

Ibu

Kddang-kadang cerewet

Kadang-kadang menyebalkan

Kadang-kadang menakutkan

Kadang-kadang membuat kesal

Tapi selalu dibutuhkan

Selalu dinantikan

Tidak pernah benar-benar dilupakan

Selalu membalas setiap kesakitan dengan ketulusan

Tidak pernah membenci kelakuan anak-anaknya yang terkadang bagai setan

Selalu memberikan harapan dengan doanya yang diam-diam

Itulah hebatmu, Ibu

Selamat hari ibu untuk semua Ibu yang ada di seluruh penjuru tanah air…

P.S: You’re so amazing, Mom 😀Proud being Ur ‘Kid’

By meirina Posted in Poetry

Saya Sudah di Rumah

“Tante kapan pulang ke rumah?”

Pertanyaan yang dalam beberapa hari terakhir meluncur dari ponakan-ponakan di kampung.

Pertanyaan yang entah kenapa sulit dijawab.

Kapan pulang? Pulang kemana?

Entahlah, sulit mendefinisikan kata ‘pulang’.

Apakah pulang itu seperti ayam yang setelah seharian bebas mematuk-matuk tanah kemudian kembali ke kandangnya saat sore?

Apakah pulang itu seperti domba yang setelah seharian digembalakan lalu masuk ke dalam kandangnya di sore hari?

Apakah pulang itu seperti kebiasaan orang-orang untuk mudik di waktu lebaran?

Tapi kemudian ada satu kesimpulan bahwa pulang adalah kembali ke rumah. Sama halnya si ayam dan domba yang kembali ke kandangnya di sore hari. Sama halnya dengan mudik lebaran.

Dan, benarkah tujuan akhir dari ayam dan domba itu adalah rumah bagi mereka?

Benarkah orang-orang yang mudik itu menganggap tujuannya adalah rumah?

Dan akhirnya muncul kembali pertanyaan lain… Apakah yang dimaksud rumah itu?

Apakah rumah hanya didefiniskan sebagai susunan batu bata kokoh beratapkan genting dengan lantai marmer buatan timur tengah?

Apakah rumah hanya sebatas tempat dimana kita pernah menghabiskan masa kecil bersama orang tua?

Apakah rumah hanya  sebatas tempat berteduh dari guyuran hujan dan terik matahari?

Saya rasa bukan.

Rumah tidak harus begitu.

Rumah tidak melulu tempat dimana kita dibesarkan

Rumah tidak hanya sekedar lokasi dimana semua anggota keluarga berada di sana.

Rumah tidak harus bangunan kokoh dengan perabot mewahnya.

Rumah itu adalah tempat dimana kita merasa ada.

Rumah adalah tempat dimana kita bisa tidur pulas.

Rumah adalah tempat dimana kita tertawa tanpa alasan.

Rumah adalah tempat dimana kita enggan untuk meninggalkannya.

Rumah adalah tempat yang meski kita tak punya keluarga tetap memberikan serangkai cerita.

Dan besok jika ponakan saya kembali bertanya; “Tante kapan pulang ke rumah?”

Mungkin saya akan menjawab; “Tante sudah di rumah”.

Sebuah Peran

Tuhanku, aku sudah memainkan peranku sebagai hambaMu dengan baik bukan?

Aku melakukan perintah wajibMu

Tidak selalu tepat menjalankan mungkin..

Terkadang masih lalai dan bermalas-malasan

Tetapi Tuhan, aku berusaha untuk selalu menyempatkan waktu menemuiMu

Di setiap kesempatan yang kumiliki, bertemu denganMu itu luar biasa

Benar, aku memang bukan hambaMu yang paling taat

Benar, aku memang bukan hambaMu yang bersih dari perkara siksa

Benar, aku punya sejuta catatan kriminal yang mungkin telah dituliskan secara rapi oleh para asistenMu

Benar Tuhan, aku sudah tercoreng moreng

Ada cacat dalam setiap peran yang kulakoni sebagai hambaMu

Tapi, tidakkah ada toleransi bagiku atas cacat-cacat yang telah tercatat itu?

Toleransi karena kecacatan itu adalah caraku memainkan peranku sebagai Manusia

Manusia dengan nafsunya yang melimpah ruah

Nafsu yang sama sekali tak peduli pada dosa

Ahh….persetan dengan dosa dan ancaman nerakanya

Setiap bulir dosa itu adalah gelora kebahagiaan dan kenikmatan yang tiada tara

Lalu, bagaimana bisa berpikir akan dosa?

Dan jika benar bahwa aku adalah pendosa yang paling hina di dunia

Maka ampunilah aku Tuhan

Ampunilah bagian dariku yang menurutmu adalah perkara siksa

Hapuskanlah catatan noda yang memburamkan aku sebagai hambaMu

Tak bisakah peranku yang berpahala sebagai hambaMu menjadi penanggung peranku yang penuh dosa sebagai manusia, Tuhan?

Bukankah peranku sebagai hambaMu telah kulakukan dengan sangat baik?!

Pendosa

Mungkin Si Pendosa mulai melancarkan aksi balas dendamnya

Meluapkan segala kekesalannya

Meledakkan ranjau yang dipendam jauh di dasar nyawanya

Memasukkan dirinya ke dalam jerat setan dengan tetek bengek perangainya

Membuat dirinya tersorot dalam setiap jengkal yang katanya berakibat siksa

Lalu, tertawalah kalian….

Hinalah Dia yang sudah berbuat dosa

Tapi, yakinlah bahwa kalian tanpa salah

Perangi Ia yang sudah bersimbah celah

Tapi, pastikan diri kalian bersih dari hina

Atas nama apapun, si Pendosa bukan menjadi urusan semua khalayak di muka Bumi

Demi apapun, si Pendosa pun menyadari lumuran cacat pada dirinya

Dan apakah Tuhan dan para asistenNya di surga sana tidak memiliki pekerjaan yang lebih penting daripada mengurusi setiap titik kelakuan para Pendosa?

Maka bungkamlah kalian yang tak jauh berbeda dengan si Pendosa

Will Be Top On The World

You could have a worst day

You could have a terrible week

You could have a miserable month

You could have a tearful year

Fight with Your old man

Get insult from Your old sister & brother

Lose Your top performance of working

Everything could be wrong

Everything could be Your fault

But when you go down there

On the terraces

On the free space hall

On the battle field

You are shouting along with your mates

Just shouting

Your worries fall away

You are on the top of the world

…………………………………………………………………………………..

P.S: another advice from my special mates

Dear Kawanku

Dia itu salah satu kawan

Agak berbeda dengan sejenisnya

Bukannya tidak normal, melainkan hanya tidak sama

Dan tidak sama itu bukan sesuatu yang salah bukan?

Bukankah Indonesia itu memiliki banyak sekali perbedaan? Ingatlah Bhinneka Tunggal Ika

Iya, kawanku yang berbeda itu bukanlah virus yang harus dibunuh dengan vaksin

Sama halnya dengan sejenisnya yang mayoritas… kawanku juga ciptaanNya

Sama-sama manusia dengan segala hak asasinya

Tahukah kamu… kawanku yang berbeda itu bukan penjahat

Banyak sekali cerita yang dia tuturkan padaku

Iya, hampir setiap malam pesan singkatnya selalu ada dalam kotak surat ponselku

Isinya…mulai perbincangan tanpa arah hingga pertanyaannya yang berkaitan dengan makna dari kehidupan

Lalu kemudian… suatu malam, pesan singkatnya padaku tak seperti biasanya

Pertanyaan yang menurutku melewati garis batas area perkawanan kami

Tapi aku tidak marah atas tuduhan tersiratnya padaku itu

Aku tidak marah atas dobrakan dirinya pada ruang khususku

Aku hanya sedikit bersikap dengan tidak menegurnya selama satu hari penuh

Tapi kemudian, pesan singkatnya padaku di tiap malam terhenti

Tak ada satupun percakapan diantara kami

Lalu dia menuliskan sebuah kalimat di sebuah aplikasi ponsel pintarnya yang intinya adalah kecewa

Ahhh… kecewa

Mungkin, dia kecewa pada ku

Mungkin saja

Dear kawanku yang berbeda… maaf jika rasa kecewa itu memang tertuju padaku

Maaf jika ternyata pribadiku ini tak sesuai dengan ekspektasimu

Karena Cinta

Kata orang cinta itu bisa datang dari mana saja

Bisa datang dari mana saja

Bisa karena apa saja

Cinta bisa datang dari kebersamaan

Cinta bisa datang dari senyuman

Cinta bisa datang dari tatapan

Cinta bisa datang dari ucapan

Cinta bisa karena kembang mawar

Cinta bisa karena sepucuk surat

Cinta bisa karena sepenggal lirik lagu

Cinta bisa karena sebait sajak

Cinta bisa karena gula-gula

Cinta bisa karena ice cream..

Dan percayalah… cinta juga bisa karena sendok

Antara Aksi & Reaksi

Aksi dan Reaksi

Karena ada aksi maka akan menucul reaksi

Reaksi tersebut akan kembali memunculkan aksi

Lalu akan muncul reaksi lain

Selanjutnya muncul aksi kembali

Dan reaksi baru akan muncul

Dan lagi, akan ada aksi…

Terus seperti itu…

Aksi dan reaksi

Kalau tak ingin ada memunculkan reaksi, berhentilah beraksi.. Dan tak perlu bereaksi ketika ada aksi

Diam saja.

By meirina Posted in Poetry

Ironi

Ketika semuanya berbenturan dengan prinsip, itulah ironi

Ketika kenyataan tak sama dengan pemikiran, itulah ironi

Ketika kewajiban berkebalikan dengan keyakinan, itulah ironi

Ketika kesalahan harus menjadi kebiasaaan, itulah ironi

Ketika kebenaran menjadi sebuah minoritas, itulah ironi

Ketika tidak ada lagi asa pada bangsa yang kaya, itulah ironi

By meirina Posted in Poetry