Berjaya Dengan Satu Nyawa

Tidak ada pemain bintang dengan rentetan rekor pribadi, tetapi tetap bisa menjadi club yang memiliki jati diri. Itulah Juventus. Secara resmi FIFA memang pernah mengukuhkan Real Madrid sebagai club terbaik di dunia pada penghujung abad 20 lalu. Tapi dari segi apakah? Relatif.

Jadi sebagai penilaian objektif mari kita sebut bahwa Real Madrid sebagai salah satu yang terbaik. Karena masih ada salah dua, salah tiga, salah empat, dan salah salah lain yang pantas menjadi bagian dari yang terbaik. Dan sebagai Juventini, mutlak saya mengatakan bahwa Juventus adalah yang terbaik. 

Mengapa terbaik? Secara kuantitatif sangat jelas bahwa suporter The Old Lady di Indonesia jauh lebih banyak daripada pendukung El Real. Juventus juga menjadi yang paling terkenal daripada pesaing abadinya di serie A, Milan & Inter. Bicara soal prestasi? Vinti sul campo adalah bukti bahwa Juventus adalah club besar dengan kejayaan yang tak bisa dipandang sebelah mata. 

Cukuplah menilik mengapa Juventus pantas menjadi yang terbaik. Sekarang, perhatikan. 

Sebuah club besar yang tak hanya mementingkan kemenangan di lapangan, pasti dijejali oleh pemain-pemain bintang yang dikenal oleh kalangan luas. Zaman sepakbola modern seakan-akan membuat kewajiban bahwa sebuah club akan bersinar apabila memiliki rising star. Betul memang, tapi tidak mutlak. Lihat Juventus. Sejak didirikan 1897 silam, La Vecchia Signora sangat jarang membeli pemain top dunia. Tak pernah ambisius dalam mengejar tanda tangan pemain terkenal. Sangat jauh berbeda dengan Real Madrid yang terang-terangan membentuk tim Los Galacticos dengan Beckhamnya. 

Manajemen Juventus seakan-akan percaya bahwa tim yang memiliki banyak bintang justru akan menambah masalah bagi club. Pertama gaji tinggi, sementara permainan belum tentu 100% on fire setiap saat atau pemain cidera. Yang kedua, Juventus bukan  club model sepak bola yang mementingkan style dari para pemainnya. Karena itulah Juventus dikenal sebagai club yang hanya memiliki seorang maskot. Seorang bintang yang mungkin memang tidak setenar Tom Cruise ataupun Super Junior, tetapi memiliki aura untuk menjadi roh bagi tim.

Mulai dari era Gaetano Sciera, Roberto bettega, Dino Zoff, Michel Platini, Roberto Baggio, hingga Del Piero. Hanya ada seorang maskot yang menjadi megabintang dan dicintai oleh suporter.

Karena itu ada istilah ‘habis manis sepah dibuang’. 

Coba saja lihat bagaimana kasus Baggio yang masih bisa bermain namun dibuang saja ke AC Milan sebagai jalan untuk menjadikan Del Piero maskot baru. Juventus pun tak pernah ragu menyingkirkan Zinedine Zidane ke Real Madrid karena telah memiliki Pavel Nedved. Terbukti, La Vecchia Signora masih punya taji. Bahkan Real Madrid dengan Zidane bisa dikandaskan oleh Juventus yang ‘hanya’ memiliki Nedved. 

Bahkan ketika musim lalu Del Piero mengakhiri karirnya sebagai punggawa Juventus dengan berlabuh ke Sydney FC, meskipun ada sedikit kekecewaan dari beberapa fans (termasuk saya), keyakinan Juventini (saya) terhadap Agnelli cs bahwa keputusannya untuk tak mempertahankan Alex karena mereka memiliki rencana untuk kemajuan Juventus. Ada seorang bintang baru yang harus  dilahirkan supaya kejayaan Juventus terus berlanjut. Masuk akal, karena toh Del Piero tak mungkin bisa selamanya bermain apik.

Karena itulah, saat ini saya dan teman-teman Juventini masih menantikan siapakah yang punggungnya tertempel angka 10. Menggantikan Del Piero. Menjadi satu-satunya nyawa tim. Menjadi roh yang tetap membuat Juventus berjaya.

Advertisements

One comment on “Berjaya Dengan Satu Nyawa

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s