Fanaticism Wasn’t A Sinning

Mungkin agak berlebihan jika seseorang mencintai sesuatu, yang mana kesenangan tersebut sudah melebihi ambang batas maksimalnya. Bahkan hanya mendengar namanya saja, kesenangan yang Saya rasakan tidak bisa diuraikan dalam rangkaian kata apapun. Juventus, ‘sesuatu’ yang dengan mudahnya membuat Saya lupa akan padatnya rutinitas harian yang menekan. Dan inilah Saya, seorang fans of Juventus. Satu dari sekian juta manusia yang menasbihkan dirinya sebagai Juventini.

Bagi Saya, fans merupakan sosok yang sangat bangga untuk mendukung, mensupport, dan membela Juventus apapun yang terjadi. Jarak ribuan kilometer antara Turin-Indonesia tidak menyurutkan tekad untuk tetap memberikan dukungan kepada Juventus di setiap pertanding. Menahan sakit, tidak tidur semalaman, bersorak-sorai melantangkan chant dukungan bagi Bianconerri hingga suara menghilang, dan bahkan rela ‘membuang-buang’ rupiah hanya untuk Juventus. Terkesan bodoh dan berlebihan memang, tetapi pada kenyataannya Saya bangga dan bahagia saat melakukan semua ‘kebodohan’ itu. Saya pun menyadari bahwa Juventus belum tentu mengenal dan mungkin tidak mau tahu akan keberadaan fansnya yang gila ini, akan tetapi rasa cinta Saya kepada The Old Lady tidak pernah surut.

Jika ada pertanyaan mengenai bentuk cinta Saya kepada Juventus; sederhana saja. Saat Juventus tidak dalam performa terbaiknya ataupun terpuruk karena kasus-kasus dagelan yang tidak masuk akal, cemoohan dari pihak-pihak tertentu (mungkin Juventus haters) Saya terima dengan kerelaan. Tidak peduli apa kata mereka tentang La Vecchia Signora, kadar cinta Saya kepada Juventus tidak pernah berkurang. Ada saat dimana Saya merasa emosi ataupun kesal dengan segala cacian dan hinaan terhadap Juventus, tetapi Juventini tidak pernah lari dari kenyataan. Kata salah satu legenda hidup club; “A true gentleman, never left his lady”, begitu pulalah Saya. Tidak pernah berniat sedikitpun untuk melepaskan titel Juventini.

Akibatnya, kesan bodoh dan anggapan berlebihan (atau bahasa saat ini adalah lebay) mengenai fanatisme kepada Bianconerri sering saya terima dari mereka yang tidak mengerti indahnya dunia hitam-putih. Fanatisme itu bukan dosa. Bukan juga kesalahan. Fanatisme juga tidak melulu tentang kekerasan dan paksaan. Lebih dari itu, fanatisme adalah bentuk kesetiaan, loyalitas, dan cinta yang tidak berbatas. Inilah Saya, yang mungkin memang dilahirkan menjadi Juventini. 

(Inspired By: H 🙂 )

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s