Kisah Punggawa Burung Hantu Liar

Ada kisah di setiap rentetan waktu yang bergulir bersama tawa, tangis, dan juga amarah. Cerita yang telah lama saya simpan untuk melukiskan bagaimana perasaan saya terhadap mereka, teman-teman seperjuangan di bangku kuliah. Cerita yang telah saya rancang sejak saya melihat rupa-rupa di antara mereka. Sebagai mahasiswa baru yang sama sekali buta akan dunia kampus yang tak pernah saya bayangkan sedikitpun, saya berusaha untuk terus mengikuti mereka.

Ya… apapun yang mereka lakukan….. saya berusaha untuk berada di sana. Bukan untuk ikut-ikutan atau suka akan acara-acara mereka, melainkan untuk mengenal mereka lebih jauh supaya pada saatnya, ketika saya merasa telah cukup mengenal mereka, saya bisa membicarakan mereka dengan meminimalkan kesotoyan yang mungkin akan tercipta saat kisah mereka saya gulirkan.

Di mulai pada akhir bulan Agustus tahun 2007 dimana saya untuk pertama kalinya memiliki teman satu sekolah tanpa seragam. Kala itu kami hanya 67 (jika saya tak salah)  orang bocah ingusan dengan kepala yang sama sekali tak sama isinya. Kami berbaris dengan kaus kuning celana kargo plus topi sejak pukul 05.30 hingga 17.30 WIB (Waktu Indonesia Bagian Biologi) selama tiga hari berturut-turut dimana para senior mengatakan kami adalah segerombolan burung hantu. Mendengar caci-maki senior. Menahan terik matahari. Memperjelek wajah yang sudah sangat kusam. Berusaha menuntaskan tugas-tugas senior yang menurut saya nonsense (karena sampai saat ini saya tak pernah tertarik akan hingar-bingar ospek atau kami menyebutnya KORAL). Hari-hari setelahnya selalu berkumpul di anak tangga lantai satu untuk kemudian beranjak bersama-sama memasuki kelas kuliah.

Setelah lepas dari jabatan mahasiswa baru… saya mulai mendengar berbagai komentar dari senior atau beberapa orang dosen tentang angkatan kami. Ada senior yang mengatakan bahwa kami manja (heiii…. Jika angkatan saya dicap manja, bagaimana dengan angkatan-angkatan di bawah saya ya???!!). Ada senior yang mengatakan angkatan 2007 kurang ajar. Ada yang mencap Owls tukang mbacem (sepertinya senior harus menyadari bahwa kami si tukang mbacem hanyalah cerminan mereka). Beberapa dosen mengatakan kami cerewet dan sedikit pembantah. Namun mereka yang berbeda pendapat tentang kami itu sama-sama sepakat bahwa angkatan 2007 adalah angkatan terbaik yang pernah dimiliki oleh jurusan Biologi ITS. Bahkan hal ini pernah ‘tak sengaja’ saya dengar langsung dari salah satu senior yang kebetulan adalah salah satu kakak ipar saya dimana ia mengatakan bahwa angkatan 2007 itu pandai (Ya iyalah, Mas! Masa aku jadi bagian angkatan dodol??!!! ).

Saya bukan seorang teman yang baik. Mungkin itulah pendapat sebagian besar dari teman-teman 2007 tentang saya. Saya tak suka kerja kelompok, saya tak suka main-main ke mall bersama mereka, saya jarang makan bersama di kantin jurusan, saya jarang ikut rapat ini itu, dan saya sama sekali tak pernah peduli pada keberadaan himpunan jurusan saat angkatan kami yang memegang kepengurusannya. Atau entah penilaian buruk apalagi yang mereka sematkan terhadap saya, saya tak peduli apakah mereka peduli pada saya atau tidak…. Namun saya merasa harus berterimakasih pada mereka yang tak peduli tersebut… saya harus berterimakasih atas diamnya mereka pada sikap saya karena dengan begitu saya jadi lebih mudah mengenal mereka dan menuturkan bagaimana mereka di mata saya selama (±) empat tahun terakhir.

Perbedaan diantara kami memang sangat mencolok. Ada Botani… Ada zoologi… ada ekologi… ada mikrobiologi…. Ada waktu dimana setiap metapopulasi tersebut menganggap kelompoknya lebih baik dari yang lain. Ada cela, ada iri, ada marah, dan tentu saja ada gesekan-gesekan kecil yang sering muncul diantara kami. Tapi jika diingat-ingat lagi, keempat laboratorium yang sempat memisahkan teman-teman burung hantu hanyalah sekedar bangunan bisu yang diisi oleh berbagai macam alat-alat penelitian. Ruang-ruang laboratorium itu hanyalah tempat kami menyelesaikan bidang minat studi yang kami pilih untuk masa perkuliahan ini. Namun saat kami tak lagi berada di dalamnya, tak ada lagi identitas laboratorium. Tak ada lagi anak botani. Tak ada lagi anak zoo. Tak ada lagi anak mikro. Dan tentu saja tak ada anak Eco. Yang ada hanyalah anak-anak bebal yang terperangkap dalam 10 rangkaian angka dengan awalan empat angka yang sama… 15 07… BITS 07…. Burung Hantu Liar.

Ada perjuangan, ada semangat, ada persaingan, ada pertengkaran, bahkan ada adegan sinetron. Pencitraan yang sebenarnya hanya sebatas penilaian subjektif dari seorang teman. Hanya ingin menuturkan hal yang ingin sekali saya sampaikan pada mereka ketika kami menghabiskan waktu bersama namun tak bisa saya lontarkan secara lisan. Inilah yang akan saya ceritakan tentang mereka dari kaca mata yang saya pakai selama ini. Tentang  teman-teman 2007. Tentang manis, pahit, asam, asin, hambar, dan mungkin saja sedikit kebusukan.

Tak ada perang kata-kata atau saling caci di depan angkatan lainnya memang, tetapi saat satu angkatan kumpul dalam satu ruang kelas yang tertutup…. berbagai perkataan dan uneg-uneg meluncur dari semua kubu. Ada yang dengan sangat ngotot  mengatakan komting yang salah. Ada yang teriak-teriak lantaran tak bisa mengendalikan emosi. Ada yang teriak-teriak untuk melerai. Dan ada pula yang sibuk dengan ponselnya…. up date  status atau sms san. Bahkan tak jarang ada air mata yang mengalir dari beberapa pelupuk mata mereka. Saya? Diam terpaku sembari menyaksikan adegan sinetron yang berjudul “Angakatan Dodol” ini di kursi pojok belakang.

Dan Cerita-cerita yang nanti saya tuturkan bukan karena saya suka atau tidak suka. Atau karena saya benci atau cinta. Semuanya murni karena saya ingin menceritakan mereka dari sudut pandang saya. Sekali lagi, mungkin hanya sebatas penilaian subjektif.

Apapun yang akan saya ceritakan benar-benar hanya sebatas memori seorang kawan yang Insya Allah bukan sekedar imajinasi saya. Mungkin untuk sekedar mengingat bahwa saya pernah mengenal mereka dan mereka pernah mengetahui keberadaan saya. Bisa pula saya katakana sebagai bentuk apresiasi saya terhadap mereka yang telah mecipratkan warna-warna baru dalam jenjang pendidikan strata satu yang saya tempuh.

Menempatkan biru di balik awan. Menempatkan pelangi di kedua mata saya. Membuat garis silver di setiap doa yang saya panjatkan.  Dan sekarang ada warna di setiap sudut yang saya singgahi. Terimakasih untuk setiap cerita kalian, teman….. Semoga kita semua selalu diberi kemudahan olehNya untuk setiap jalan yang kita pilih.

Advertisements

9 comments on “Kisah Punggawa Burung Hantu Liar

  1. I blog quite often and I really appreciate your content. Your article has truly peaked my interest. I will bookmark your website and keep checking for new details about once per week. I opted in for your RSS feed as well.

  2. Hello there! This article couldnít be written much better! Looking at this article reminds me of my previous roommate! He continually kept talking about this. I most certainly will send this post to him. Pretty sure he’ll have a good read. I appreciate you for sharing!

  3. I have been exploring for a little bit for any high quality articles or weblog posts in this kind of house . Exploring in Yahoo I ultimately stumbled upon this site. Reading this information So i am satisfied to express that I’ve a very excellent uncanny feeling I came upon exactly what I needed. I such a lot surely will make sure to don¡¦t fail to remember this website and give it a look on a relentless basis.

  4. Hey There. I found your blog using msn. This is an extremely well written article. I’ll be sure to bookmark it and come back to read more of your useful info. Thanks for the post. I will certainly return.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s