Bocah Petualang

Tidak tahu harus memulainya dari mana, tetapi tiba-tiba saja saya mengingat sosok yang pertama kali mengajak saya mengobrol di tahun pertama kuliah. Senja adalah satu-satunya manusia yang saat itu mengajak saya bercengkrama. Tidak untuk menanyakan tugas-tugas senior ataupun dosen. Tidak untuk bertanya mengenai masalah-masalah ospek. Percakapan diantara kami itu diawali dengan pertanyaan Senja mengenai asal saya, lalu berlanjut dengan monolognya tentang Kawah Ijen. Saya sendiri tidak mengingat semua perkataannya, satu-satunya yang bisa saya tangkap adalah “Senja adalah bolang. Bocah petualang. Senang mblangkrak!

Pikiran awal saya mengenai gadis berlesung pipit yang satu ini benar. Di sat kami semua sedang ditekan oleh senior dengan tugas-tugas yang menyebalkan, Senja menyibukkan dirinya di salah satu kegiatan ekstrakulikuler (atau bahasa kampus saya UKM) Pecinta Alam yang diberinama Siklus. Dia bukannya tidak peduli terhadap masalah ospek ataupun tugas praktikum yang kadang-kadang lebay, melainkan hanya benar-benar melakukan apa yang disukainya. kuliah tetap jalan, tetapi hanya sekedar di kelas. Jika sudah tak ada kelas, jangan harap menemukan seekor Senja di area jurusan karena hari-harinya di luar kelas hanya milik Siklus.Tidur di sekretariat siklus. Makan di sekretariat siklus. Main di sekretariat siklus. Bahkan mengerjakan laporan praktikumpun di sekretariat siklus, meskipun awalnya pasti ke jurusan untuk motokopi baceman (red: contekan) laporan 😉

Setidaknya itu yang saya ketahui tentang Senja di tahun pertama.

Ada satu hal yang membuat saya geli terhadap Senja. Kami adalah manusia yang mengenyam studi di bidang mahkluk hidup. Jurusan Biologi. Salah satu buku yang wajib dibaca oleh orang-orang biologi adalah “Biologi” yang di karang oleh Mr.Capbell dkk. Senja punya loh bukunya. Terus yang membuat saya geli bagian mananya? Bagian waktu memiliki si buku. Buku itu baru dibeli Senja ketika dia sudah berada cukup lama di jurusan. Ketika kami masih mahasiswa baru yang kinyis-kinyis dan sangat membutuhkan buku tersebut, saya sama sekali tak pernah melihat Senja menenteng-nenteng buku wajib mahasiswa Biologi tersebut. Namun ketika ia menjadi Mahasiswa Basi, saya melihat buku tersebut tergeletak manis di hadapan Senja. Saat saya membuka halaman sampul pertama, di situ terukir nama “SENJA” dengan menggunakan stabillo berwarna orange (kalau saya tidak salah, atau hijau). Duhh….Senja…Senja…. buat apa coba punya buku Capmbell di saat-saat terakhir masa perkuliahan? kalau memang mau beli, kenapa tak sejak awal menjadi mahasiswa? Kalau baru beli sekarang dan hanya untuk alasan TA rasanya lucu…kenapa tak pinjam saja pada teman yang memiliki? Kenapa tidak meminjam pada saya karena saya memiliki edisi buku Campbell yang dimiliki oleh Senja itu. Mungkin benar kata orang bahwa Tuhan selalu memberikan di saat yang paling dibutuhkan oleh hambaNya. Dan baru di saat TA lah Senja membutuhkan buku tesebut 😉

Senja memang bukan teman dekat yang kerap kali menjadi wadah saya bercerita, tetapi dia adalah teman angkatan yang bisa diajak bergaul oleh siapapun. Dari puluhan manusia yang menjadi anggota burung hantu, Senja adalah manusia yang bisa bergaul dengan semua tipe kaum. Mulai dari kelas terendah hingga kelas elit bisa dikawaninya. Tidak terlalu dekat memang, tetapi setidaknya Senja tak pernah terlihat berbeda jika berada di antara suatu kelompok. Dia bisa berbaur dengan siapa saja. Bisa mengikuti arah pembicaraan siapapun lawan bicaranya. Walaupun kadang-kadang dia sedikit sok tahu terhadap topik yang tengah dibicarakan.  Tapi hebatnya, lawan bicaranya itu ‘iya-iya’ saja terhadap perkataan Senja. Entah percaya entah memang tak mau ambil pusing sehingga tidak melakukan koreksi terhadap Sendu 😉

Tapi kalau saya yang mendengar perkataannya yang kurang tepat maka koreksi itu tak akan segan saya lemparkan padanya.

Yang paling baru adalah ketika beberapa saat lalu dia dan Ais babon ‘bermain’ ke rumah kos saya. Saat itu Ais bertanya “Eh..Indonesian Idol mambengi sopo sing methu?

Senja: “Yoda

Ais: “ohh..yo wes. Wong iku yo pantes methu la wong koyok gak ono gairah. Raine iku no expression

Senja: “iyo, nyanyine yo biasa ae

Ais: “Sakjane enak, tapi ket awal sampe saiki gak ono perkembangan. Membosankan

Saya yang sedang melaksanakan shalat maghrib tiba-tiba saja merasa geli dengan dialog dua orang itu. Karena mereka pulalah konsentrasi dan kekhusyukan shalat saya terpecah (maaf ya Allah…salahkan dua orang teman saya itu). Saya pastikan bahwa dua orang tersebut tidak menonton acara yang tengah mereka perbincangkan atau mungkin menonton tetapi tak sampai acara eliminasi.

Setelah shalat saya selesai, saya bergegas mengklarifikasi pengetahuan Senja mengenai peserta Indonesian Idol yang tereliminasi.

Saya: “Ehh..yang tereliminasi itu Sean

Senja : “ohhh…iya Sean

Ais: “Loh kok iso?

Tidak penting bagaimana pembahasan kami selanjutnya mengenai ajang nyanyi-nyanyian tersebut. Yang penting adalah ekspresi Senja itu loh… “ohh..iya Sean” seakan-akan ia lupa membedakan antara Sean dengan Yoda. Memangnya Sean dan Yoda itu kembar sehingga ingatan Senja terhadap kedua peserta tersebut tertukar? Hihihihihihihihi….. benar-benar tak berubah sikap kawan saya ini.. Si Ais juga percaya-percaya saja terhadap jawaban Senja. benar-benar kombinasi yang pas 😉

Menurut saya dia bisa bergaul dengan siapapun karena banyak berkelana. Naik turun gunung hingga menyelami lautan membuat dia menjadi pribadi yang tak terlalu memusingkan hubungan antara sesama. Dia diterima dalam satu kelompok, okay…tak diterima, langsung mencari kelompok lain yang menerimanya.

Selain bolang yang supel tapi agak sotoy plus doyan makan, Senja adalah pribadi yang suka menolong. Dan lagi-lagi saya asumsikan sikap ini ia dapatkan saat bergaul dengan alam. Mintalah tolong pada Senja, asalkan dia mampu apapun pasti di-iyakan. Tak pernah memilah siapa yang meminta pertolongan, dia akan datang dan menolong. Saya pun sudah sering ditolongnya dan Senjalah yang hendak menjadi penolong ketika Saya dan kawan saya yang kemplo nyaris terkurung dalam suatu tempat. Seandainya bisa, minta tolong diantar ke Eropa pun akan Senja lakukan… 🙂

Tak pernah memilih mau bergaul dengan siapa. Tak pernah menuntut lingkungannya untuk nyaman, tetapi berusaha menyamankan diri dengan lingkungan yang ditempatinya. Terbukti bahwa alam mengajarkan banyak hal padanya dan dia bisa belajar banyak dari alam. Teruslah belajar dari alam, Nja! Rinjani dan raja Ampat sedang menunggu tu!! Mau ke Elbruz dan cartenz piramyd gak? Kalau mau, bareng yukkkkk!!!!

Ketika Senja berada Di Segara Anakan Pulau Sempu (hiksss..pengen)

Ketika Senja Berada di Kawah Ijen

Ketika Senja Sedang Centil

Advertisements

2 comments on “Bocah Petualang

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s