Facebooker Yang Penyabar

Gaya pertama dari seorang Eni Suyatri adalah tidak bergaya. Benar-benar gaya seorang gadis desa. Kaca mata dengan rambut ekor kuda tanpa polesan compact powder. Menjadi orang ketiga yang ada di depan anak tangga menuju kelas di lantai tiga. Berangkat pagi ke kampus dengan menggunakan angkot adalah rutinitas harian Eni. Tidak pernah neko-neko. Tidak pernah menghebohkan diri. Terkesan introvert dan gadis penurut yang baik hati. Salah satu mahasiswa yang sangat rajin mencatat penjelasan dosen.

Mungkin karena sikapnya yang cenderung legowo dan penyabar itu, ia kerap kali mendapatkan tugas untuk mengurusi masalah keuangan di setiap acara kampus. Mengurus kwitansi belanjaan dan membuat laporan pertanggungjawaban keuangan suatu kegiatan adalah tugas wajib tak tertulisnya. Saat itu jika melihat kwitansi saya langsung mengingat Eni, melihat Eni berasa melihat kwitansi!! Wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkk…. 🙂

Jika ia tidak disibukkan dengan urusan organisasi ataupun kwitansinya, aktivitas saya dan Entong tak hanya sebatas di dalam kelas. Kebun Binatang, Kebun Bibit, Delta Plasa, dan Sakinah Swalayan pun menjadi tempat kami membuang-buang waktu sebagai mahasiswa. Karena sama-sama buta motor maka transportasi kami saat ‘berkelana’ adalah angkot dan kaki. Kalau tidak naik angkot ya jalan kaki. Tak bisa mengendarai motor, bukan berarti tak bisa jalan-jalan bukan? Menjejakkan kaki di suatu tempat bersama Eni memberikan cerita tersendiri bagi saya, termasuk di malam ia mengajak saya ke taman bermain yang ada di Surabaya lalu kami menaiki permainan yang bukan saya banget. Naik roler coaster!!! Tidak setinggi milik Dufan memang, tetapi bagi saya cukup tinggi untuk melihat maut!!! Akhirnya karena shock setelah dijungkir balikkan ke atas dan ke bawah dengan kecepatan abnormal, saya menaiki kereta yang relnya menggantung dengan kecepatan siput sementara Eni dan teman saya lainnya memilih masuk rumah hantu plus mengemudikan bom-bom car. Malam yang luar biasa menurut saya. Luar biasa memualkan, kawan!

Waktu pun terus berlalu dimana seiring berlalunya tahun pertama, berlalu pula kisah Eni si gadis desa. Rambutnya yang di ekor kuda tergerai dengan model yang ia bilang segi. Wajah polosnya mulai dipoles bedak setebal 1 cm. Yang ada di kotak pensilnya tak hanya alat tulis, tetapi juga bedak dan lip gloss. Saya juga mendapati sebotol minyak wangi di salah satu kantung tasnya.
Waktu yang terus berkembang juga diikuti oleh perkembangan gaya Eni. Dia tak lagi menjadi manusia ketiga yang datang 30 menit sebelum kelas kuliah di mulai, tetapi menjadi bagian dari mereka yang datang setelah kelas dimulai selama 15 menit atau tepat beberapa detik sebelum dosen masuk kelas (berlaku untuk kelas yang dosennya menolak keterlambatan). Jika saya bertanya ,”kok Telat?” maka jawaban dia adalah “Iya, kan aku bareng teman”. Dan kotak pensil Eni tak hanya satu, tetapi dua. Satu kotak berisi alat tulis, yang lainnya alat kosmetik! Bagus, Nak!!! Gayanya tak hanya sebatas kaus berkrah atau kemeja formal, tetapi dibarengi dengan juntaian kalung dari leher dan lilitan gelang di pergelangan tangannya. Rambutnya pun kerap kali di gunting-gunting untuk mengganti model. Dan ia menjadi pecandu kamera. Mulai menarsiskan dirinya di setiap jepretan kamera.

Pada masa ia mulai terlihat fashionable inilah Eni mulai menjadi seorang facebooker. Pertama-tama mempublikasikan foto-foto dirinya yang bergaya. Lalu selanjutnya membuat sampah status!! Beneran dehh… status FB nya bisa berganti semenit sekali. Mau makan, mau tidur, mau mandi, mau nyapu, mau kuliah, mau ngelesi, mau main, mau nonton, dan baru bangun tidur pun selalu tersurat di status update akun FB nya.

Saya sendiri berani bersaksi bagaimana update nya Entong terhadap status FB nya. Saat itu saya tengah bermain plus bermalam di tempat tinggalnya. Sesaat setelah kami masuk kamar, dia menyalakan leptop tanpa berganti pakaian. Lalu yang saya tahu adalah dia meng-update status. Setelah berganti pakaian, up date status. Lalu makan, lalu up date status. Lalu Tidur lalu up date status. Dan bahkan di dini hari yang buta, dia tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Saya yang tengah asik membaca novel hanya melihat gelagatnya. Saya pikir dia hendak buang air kecil atau minum. Namun ternyata yang di lakukannya adalah ‘membangunkan’ leptopnya yang tengah ‘tidur’, kemudian masuk ke laman FB yang selanjutnya memposting sebuah status! Setelah itu dia berkata

Aku bobok duluan ya, Mei

dan kembali terlelap pulas.

Astaga…. saya membutuhkan waktu beberapa saat untuk terpaku memandangi kawan saya yang satu ini. Ternyata artikel yang pernah saya baca memberikan fakta. Facebook lebih cepat mencandui daripada candu sendiri! Jadilah si Eni seorang pecandu FB. Seorang facebooker!
Jangankan di hari-hari biasa, hari-hari sebelum ujian saja dilaluinya pada sebuah laman FB. Status FB nya yang berganti-ganti setiap semenit sekali selama 24/7 itu sempat menjadi pergunjingan di beberapa kawan… Biasalah manusia! Tapi dia tetap pada pendiriannya. Tetap up date status! Bahkan menanggapi komentar tak sedap tentang dirinya itu dilayangkan pula melalui status FB nya. Kalau saya tak salah dia menulis;

Kalo gak suka sama status-statusku, gak usah dibaca! Kalo pengen up date status, up date aja status kalian… Iri ya gara-gara gak punya waktu untuk gonta-ganti status FB?

Hahahahahahahahahahahahaha….. saya tersenyum geli saat membaca status FB Eni tersebut. Dia memang tidak salah. Memangnya ada undang-undang yang membatasi seseorang untuk bermain-main dengan akun facebook nya? Selama status tersebut tidak melanggar HAM dan bersifat kriminal, saya rasa Eni tak akan mendapat somasi dari mentri komunikasi dan informasi. Tapi mungkin kalau boleh saya kasih saran, status tentang tanggapan terhadap komentar teman-teman itu diganti menjadi “kalo gak suka sama statusku, gak usah jadi teman FB ku aja!”.

Tapi masalahnya Eni bukan Saya. Dia sangat jauhhhhhhhhhhh lebiiihhhh sabar daripada saya. Karena itulah tanggapannya hanya ‘gak usah dibaca’ bukan ‘gak usah jadi temanku’. Kadang-kadang saya merasa sedikit bersalah kepada Eni. Saya kerap kali merengek-rengek padanya supaya kami pergi ke tempat yang saya inginkan. Saya kerap kali melampiaskan emosi yang saya rasakan pada orang lain kepada Eni. Namun Eni tidak pernah marah kepada saya. Tidak pernah sekalipun berkata tidak pada rajukan saya. Tidak pernah menyulut sumbu saya dengan api meskipun ia memilki koreknya. Tetap mau menjadi teman saya. Tetap mau menjadi objek kamera saya (bahkan tanpa saya minta). Tetap mau membawakan pisang goreng untuk saya. Tetap tersenyum pada kerutan di dahi saya.

Sekarang Eni mulai punya gaya. Mulai mengenal istilah-istilah make up. Mulai tahu bagaimana cara bersolek di depan cermin. Tapi tidak mulai menunjukkan kesembuhan terhadap penyakit candu FB nya. Dan semoga saja tetap sabar dalam menghadapi manusia-manusia berkepala batu seperti saya.

Eni Tempo Doelo 😉

Eni Dan Facebooknya

Bedakan ala Nene Une

Advertisements

6 comments on “Facebooker Yang Penyabar

    • ngertimu ki opo a…

      Eni yang sekarang mulai bertumbuh kembang…

      Eni Sagita
      aku yang dulu bukanlah yang sekarang
      dulu wedak’an, sekarang ku celak’an 😀

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s