Hajjah Kemplo

MAYAK!!!!

Itulah kata pertama yang saya dengar mengenai seorang Aisyah Asy’atik atau lebih dikenal dengan panggilan Caca. Saya sendiri tak mengerti apa arti sebenarnya dari kata Mayak tersebut, tetapi menurut oran-orang kata itu kurang lebih berarti seenaknya sendiri atau mungkin menyebalkan. Tak tahulah..tapi yang pasti setelah itu saya mengenal sosoknya sebagai Caca Mayak!

Pelan-pelan saya mengenalnya sebagai individu yang selalu ingin berada di pihak yang menang. Aduhh… gimana ya jelasinnya… secara sederhana, setiap ada tugas kelompok entah itu presentasi ataupun sekedar paper, Caca tak pernah mau berada satu kelompok dengan anak-anak yang kurang begitu pandai atau kurang populer. Dia hanya mau berkelompok dengan mereka-mereka yang memiliki nilai lebih atau dikenal oleh dosen, kecuali anggota kelompok tersebut ditentukan oleh dosen atau diundi melalui kocokan potongan kertas macam arisan ibu-ibu.

Mungkin dia akan berkilah mengenai sikap pilihnya tersebut, tetapi saya sendiri pernah berada diantara orang-orang yang ditolak oleh Caca saat hendak membentuk suatu kelompok presentasi kelas. Waktu itu kami berada di tahun pertama. Salah satu teman saya (yang kurang populer) menemui Caca dan meminta pada Caca untuk menjadikannya sebagai anggota kelompok presentasi. Jawaban Caca saat itu adalah “Kelompokku wes penuh! Atau coba kamu tanya R, kalo dia bilang ia ya wes ikut ae”, kemudian meninggalkan teman saya itu dengan segera. Beberapa jam kemudian saat saya hendak masuk ke area mushala, saya tak sengaja mendengar Caca mengatakan pada R “Nanti kalo si N tanya ke kamu kelompok kita udah penuh apa gak, bilang ae wes penuh yo! Aku males kelompo’an karo dhe’e”. JLLEEEEGGGGGGGGG…… Saya yang mendengarnya hanya terdiam dan menghembuskan nafas panjang.

Saat itu saya tetap berusaha untuk berfikir positif bahwa mungkin ada masalah pribadi antara Caca dan N yang tak saya ketahui sehingga Caca enggan berkelompok dengan N. Namun, ternyata hal tersebut juga terjadi pada beberapa teman saya yang lain dimana rata-rata mereka yang ditolak oleh Caca adalah teman-teman yang kurang ‘bernyanyi’ di angkatan kami. Karena penasaran dan membutuhkan bukti otentik maka di suatu kesempatan saya mencoba mengajak Caca untuk menjadi salah satu teman kelompok paper salah satu mata kuliah yang kami ikuti. Dan saat itu saya adalah anggota burung hantu yang tak banyak bicara. Seperti dugaan saya, Caca menolak ajakan saya. Bagus! Saya jadi semakin yakin bahwa Caca adalah si oportunis. Itu hak dia memang, tetapi apa untungnya berkelompok dengan orang-orang yang telah dikenal?

Ibaratnya begini…. Caca yang egonya tinggi itu selalu ingin satu kelompok dengan orang-orang pandai macam The Special One atau teman-teman angkatan lain yang bisa dibilang berotak dengan alasan ingin kelompoknya dilihat istimewa. Menurut saya hal itu sama sekali tak istimewa. Apa istimewanya coba? Biasanya alasan Caca untuk berkelompok dengan orang-orang terpilih adalah untuk terlepas dari mengerjakan tugas tersebut, singkatnya hanya mengerjakan seadanya tetapi mendapatkan nilai yang lebih dari seadanya! Sama sekali tidak berkesan! Menurut saya jauh lebih istimewa berkelompok dengan mereka yang biasa-biasa saja tapi kita punya pengaruh di dalam kelompok tersebut. Apa istimewanya menjadi parasit? Ibaratnya begini… Saya punya otak, kenapa harus mengandalkan otak orang lain yang belum tentu isinya lebih bagus dari otak saya?

Kalau Caca membaca ini, dia pasti bilang “Ahhh…Aku loh Gak Koyok Ngono!! Moso’ sih.. aku ngunu!” (iya kan, Ca 😉 ). Tapi, maaf… Itulah yang saya kenal dari Caca di tahun pertama keanggotan saya sebagai Burung Hantu Liar. Sisi kemplo seorang Caca yang menurut saya juga bisa terjadi pada siapapun. Sikap itu hanyalah salah satu fase menuju kedewasaan seorang Caca.

Setelah melewati tahun pertama, Caca berubah. Dia tak lagi pilih-pilih teman kelompok. Mungkin karena saat itu pembagian kelompok lebih sering diundi oleh komting, sehingga mau tak mau Caca harus menerimanya. Tapi dari situlah akhirnya dia belajar bahwa sebenarnya berkelompok dengan siapapun tak masalah. Jika tak beruntung dengan teman-teman kelompok yang kurang begitu cerdas, kenapa tak gunakan kecerdasan sendiri untuk mendapatkan keberuntungan?! Hal yang ingin saya tegaskan pada Caca adalah “Jangan Pernah meremehkan Kekuatan orang lain, karena Tuhan saja tidak”.

Ada hal lain lagi yang sebenarnya tak saya suka dari Caca! Sama seperti si cemud item, dia adalah manusia di jurusan yang menolak laporan praktikum saya untuk dicontek! Dia memang tidak menolaknya secara langsung karena saya sama sekali tak pernah menawarkan laporan saya untuk dicontek, dia menolak kopian laporan saya dari teman-teman lainnya (Hal inilah yang saya bingungkan sampai saat ini… Saya tak pernah sekalipun meminjamkan laporan saya pada teman-teman, khususnya laporan yang akan dikumpulkan, tetapi kopiannya menyebar dengan sangat cepat! Bagaimana bisa?? Teman-teman 2007 benar-benar amazing!!!). Sakit rasanya ditolak oleh Caca!!!! 😦

Terlepas dari kisah tidak enak di tahun pertama itu, saya bisa memastikan bahwa Caca adalah teman yang cukup menyenangkan. Dia juga pribadi yang baik.

Di tahun kedua, Caca dikenal sebagai orang yang mencari-cari jodoh untuk saudaranya. Ini serius lagi loh… Dia pernah membuat pengumuman mengenai saudara sepupunya yang mencari seorang istri! Layaknya seorang penjual, Caca terus-menerus menawarkan barang dagangannya dengan memaparkan segala keistimewaan barangnya. Terus-menerus memuja bahwa saudaranya itu sempurna. Saudaranya pintar. Saudaranya baik. Dan saudaranya itu keren. Caca pun mengatakan sepupunya gak main-main untuk mencari seorang istri. Karena teman-teman lain terlanjur menganggap Caca sebagai makhluk yang banyak bicara, maka pengumumannya itu hanya dianggap sebagai angin lalu. Teman-teman hanya menganggap itu adalah salah satu kekonyolan seorang Caca. Bahkan saya pun berfikiran sama. Namun ternyata saya salah karena dua tahun kemudian, Caca sendiri yang mengatakan pada saya bahwa saat itu dia benar-benar sedang mencarikan jodoh untuk sepupunya. Dia bilang “Waktu aku tanya, ‘Mei, kamu mau gak sama masku? Kamu aja ya yang tak jodohin sama masku!’, itu aku serius loh. Tapi kamunya malah nyengar-nyengir”. Waduuhhhh… saya saja baru ingat atas penawaran eksklusif Caca pada saya tersebut…. hihihihihihihihihihi…. Maaf ya, Ca…. tapi kan kamu tahu sendiri kalau kita itu sama. Belum punya fikiran ke arah nikah-nikah han… Masih mau bermain-main dengan dunia… Iya, kan??!!

Teman saya ini sudah punya title Hajjah lohh.. seriuss (Makanya judul pages nya ‘Hajjah Kemplo’). Dia hajjah, tapi kemplo!!! Uppssss…. sorry, Ca! Saya bilang kemplo karena masih saja suka teriak-teriak! Behhh…suaranya itu keras banget! Jenggong!! Seandainya dia sedang berbicara di lantai 1 maka tak heran jika lantai 3 pun kebagian ‘nyanyiannya’! Sampai-sampai panggilan Caca Mayak berubah menjadi Caca Mbecak…..

Selain suka ngomong keras-keras, Caca suka sekali menilai orang. Menilai disini adalah memberikan pandangan dari ujung atas hingga bawah pada seseorang yang tak sengaja melintas di depannya. Hehhhh… inilah kebiasan jelek yang sampai sekarang masih melekat manis pada seorang Caca. Setiap kali kami pergi kemana gitu, selalu saja ada objek yang menjadi bahan penilaiannya. Entah orang kurus, orang gendut, cowok cakep, cowok jelek, bahkan sampai orang gila pun tak lepas dari penilaian Caca.

Ciri-ciri Caca saat hendak ‘menilai’ orang selalu menatapnya selama tiga detik, setelah itu selalu bilang “Mei… orang itu…”. Duuhhhh…… gosip lagi! Tapi karena saat ini saya sudah mengetahui kebiasaannya, maka setiap kali Caca memberikan pandangan fokusnya pada seseorang di depan kami saya langsung saja berdehem sambil berucap “Caa… jangan kumat dehh”. Selanjutnya dia senyum-senyum sambil melihat saya kemudian bertanya “Kamu tahu kan pikiranku, Mei?

Uhhh…. ya jelas saya tahu pikiran kemplonya itu!!

Tapi ada hal yang membuat saya geli (sangat) terhadap kelakuan Caca. Ceritanya kami sedang makan di daerah Tugu Pahlawan. Di sana ada warung Nasi Bebek yang cukup terkenal di Surabaya dimana orang-orang menyebutnya sebagai Bebek Pahlawan. Caca yang saya tahu adalah pelahap yang cepat dan tangkas, maghrib itu berubah menjadi ayu. Makannya pelan banget. Gak bersuara dan gak banyak tingkah. Tidak seperti biasanya, saya duluanlah yang menghabiskan makanan kami. Saat piring saya licin, piring caca masih berisi setengah porsi dari makanan yang kami pesan. Mau tahu kenapa? Karena di depannya duduk seorang laki-laki ganteng (menurut Caca).

Dia grogi sehingga tak bisa berbuat banyak terhadap bebek di depannya. Biasanya dia selalu bertingkah saat ada mangsa, tetapi saat itu dia hanya diam sembari mencuil-cuil bebeknya dengan ukuran yang minimalis banget karena di samping cowok tersebut duduk manis seorang wanita yang memanggil si cowok dengan sebutan “Beib”!!

Huuuuahahahahahahahahaha…… Rasanya benar-benar bukan Caca banget! Kalo saya ingat-ingat lagi kejadian tersebut rasanya ingin sekali gulung-gulung! Bisa nih dijadikan salah satu treatment untuk membuat Caca menjadi tak banyak omong saat berada di tengah keramaian!! Taruh cowok ganteng yang sudah punya pacar di depannya!!! Hihihihihihihihihihii

Caca juga satu-satunya orang yang saya kenal yang meninggalkan pakaiannya di toilet stasiun! Beneran! Waktu kejadiannya sama dengan peristiwa ‘bebek pahlawan’. Saat itu dia pipis di stasiun pasar turi. Kemudian malamnya tiba-tiba dia SMS “Mei, jeggingku kok hilang ya?!” Waduhhh… mana saya tahu coba??!! Saya katakan saja bahwa saya tak tahu karena wajah jeggingnya saja saya tak pernah tahu. Beberapa hari setelahnya, saat kami bertemu di anak tangga kampus, dia berbisik “Mei, kayaknya jeggingku ketinggalan di stasiun deh! Waktu aku pipis aku buka jeggingku, terus tak gantung di cantolan pintunya. Aku lupa make lagi”. Toenggg…. benar-benar Hajjah kemplo!! Kemplonya lagi jegging itu masih baru dan kreditan! Apes tenan!! Sudah ngutang, belum kepake lama… langsung hilang!!! Seandainya nanti ada reader yang tak sengaja masuk kamar mandi di stasiun pasar turi dan menemukan jegging tergantung di cantolan pintunya, berarti benar itu jegging Caca!!!

Ada lagi hal yang membuat saya geli pada seorang Caca. Tepatnya saat kami berada di semester lima. Di semester itu terjadi perubahan beberapa jadwal mata kuliah wajib bagi saya dan teman-teman angkatan karena beberapa diantaranya bentrok dengan jadwal kuliah pilihan kami. Saat saya menyadari ada yang tidak beres dengan jadwal Caca saya bertanya,

Saya : “Ca, Evolusi kita kan hari jumat
Caca : “Yo memang. Terus kenapa?
Saya : “Kan bentrok sama BioPer (biologi Perikanan)
Caca : “Hubungane karo aku lo opo??
Saya : “Kamu gak ambil BioPer semester ini?
Caca : “Aku loh gak seneng iwak-iwak an! Lapo ngambil BiPer?!” (Jawabannya kali ini begitu mantap dengan kernyitan di dahinya seolah-olah mengisyaratkan saya gak waras!!)
Saya : “Aku juga gak seneng, Ca. Tapi bioPer itu mata kuliah wajib” (saya menjelaskan singkat dengan ekspresi datar)

Dan tanggapan Caca sama seperti yang telah saya bayangkan. Dia berteriak keras

“HAHHHHHHHHHHHH…… Sing gennah, Mei??!!! Terus aku piye??”

Wkwkwkkwkwwwkwkwkwkwkwk……..Rasanya saat itu ingin sekali terpingkal-pingkal, tetapi karena saya tahu bahwa kawan saya berada pada kondisi susah maka mimik muka ini saya tahan sampai sebatas senyum simpul. Harusnya saat itu dia memang mengambil kelas BioPer bersama adik tingkat kami karena ketika teman-teman angkatan kami mengambil kelas tersebut, Caca sedang cuti kuliah lantaran pergi ke tanah suci. Tapi dengan bodohnya dia tidak mengambil kelas BioPer dengan alasan tidak suka. Enak banget kalo gitu…. Gak suka mata kuliah wajib, gak usah ngambil kelasnya, akhirnya gak lulus-lulus kuliah!!!

Meskipun banyak bicara… meskipun suka teriak-teriak…meskipun oportunis…meskipun mayak…meskipun hajjah kemplo… Caca adalah salah satu teman yang tak pernah menghitung untuk temannya. Sama seperti Puput, dia adalah teman yang tak memberikan area basa-basi di sekitar saya! Kalau dia butuh dia bilang butuh dan akan datang pada saya. Kalau dia tak butuh dia bilang tak butuh dan dia tetap datang pada saya. Sehingga saya pun tak perlu merasa sungkan jika membutuhkannya…. Nice to meet you, Caca…..

Sok Serius Menatap Layar Laptop... Padahal Lagi FB an tuu 😉

Kopi + 'Susu Basi'..... Minuman orang kemplo!!! 🙂

Advertisements

2 comments on “Hajjah Kemplo

  1. I am not sure where you’re getting your information, but good topic. I needs to spend some time learning more or understanding more. Thanks for magnificent info I was looking for this information for my mission.

  2. After study a couple of of the blog posts in your web site now, and I really like your method of blogging. I bookmarked it to my bookmark website list and might be checking again soon. Pls try my web page as effectively and let me know what you think.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s